Be Honest

Be Honest
Perasaan Tim pada Julie


__ADS_3

"Ya.. Ana Wilson masih hidup." ucap Pria itu dengan penuh keyakinan.


Tim tidak percaya dengan apa yang di dengarnya. Bagaimana pria ini bisa tau jika Julie adalah Ana? Tim bahkan tidak bisa mengenali Ana karena wajah mereka berbeda. Hanya mata dan tanda lahir nya saja yang membuat Tim yakin jika Julie itu adalah Ana.


"Bagaimana kamu bisa tau?" tanya Tim lagi.


"Apa sih yang tidak bisa aku ketahui?" pria itu tertawa dengan sombongnya. "Aku bahkan tau kalau kamu yang membawa Ana kabur."


Tim kali ini tidak dapat menahan ekspresi terkejutnya. Pasti pria itu sudah lama mengintainya dan juga Ana. Tapi, siapa dia?


"Kenapa kamu mengikuti Ana?" tanya Tim akhirnya.


"Pertanyaan yang bagus." "Tentu saja untuk membawa Ana pulang ke America."


"Ana tidak mau kembali. Dia senang berada di Indonesia." sanggah Tim.


"Tidak masalah. Aku akan tetap memaksanya pulang." Pria itu duduk di sofa, lalu menyilangkan kakinya di meja yang sudah dibersihkan oleh Tim.


"Aku akan mencegahnya dengan berbagai cara." jawab Tim sambil menatap pria yang belum dia ketahui namanya itu.


"Silahkan... aku akan cari kesempatan untuk membawa Ana." "Ternyata seru juga mengikuti wanita itu. Banyak sekali pria yang ada di dekatnya." Pria itu tersenyum sinis pada Tim.


Tim membuang topi dan maskernya. Dia tidak perlu berpura-pura lagi sekarang. Pria itu sudah terang-terangan menyingkapkan tujuannya yang akan membawa Julie ke America. Jadi, Tim harus memastikan Julie selalu ada di sampingnya.


"Oh iya. Satu pertanyaan lagi." Tim yang sudah berbalik dan bersiap pergi, kini memutar tubuhnya untuk menghadap pria itu lagi. "Kalau kamu ingin Ana pulang, kenapa kamu mengunci nya di tempat sauna?"


"Apa?" Giliran pria itu yang terperanjat.


Dengan melihat reaksi Pria misterius itu yang tampak kaget, Tim menyimpulkan jika bukan dia yang mengunci Julie di ruangan sauna. Tim akan menyelidiki itu nanti lagi, karena sekarang dia ingin mencari tau identias pria itu.

__ADS_1


"Halo, Ed.." Tim kembali menelepon Edward setelah keluar dari kamar pria misterius itu.


"Baru saja beberapa jam lalu kamu menelepon aku. Kali ini kenapa? apa kamu kangen padaku?" goda Edward.


"Jangan salah paham, Dok. Aku minta kamu selidiki siapa saja pria yang berada di dekat Ana Wilson."


"Wait.. wait.. bukannya kamu minta aku berhenti untuk melakukan pekerjaan ini dan lebih fokus pada gelar dokter ku? Kenapa sekarang kamu malah minta selidiki ini dan itu." omel Edward yang bingung dengan ucapan Tim yang tidak konsisten.


"Jadi kamu mau bantu aku atau tidak?" Tim mulai kesal karena Edward begitu cerewet.


"Iya.. iya.. kenapa kamu kesal seperti ini, Tim?" Edward terdengar khawatir karena Tim tidak biasanya ngambek seperti ini.


"Seseorang muncul dan ingin membawa Ana kembali ke America." ucap Tim lirih.


"What? Ada yang tau jika Ana masih hidup?" "Lalu, bagaimana?" Edward tampak penasaran dengan cerita Ana Wilson.


"Aku tidak tau apa motifnya membawa Ana ke America. Tapi seperti nya itu berhubungan dengan warisan."


"Tapi apa, Ed?" "Kalau kamu minta uang, aku tidak punya. Kamu jauh lebih kaya dari ku. Tapi kalau kamu butuh tenaga, aku bisa membantu kamu."


"Aku tidak butuh apapun, Tim. Semua sudah tercukupi." kata Edward dengan sombongnya. "Aku hanya ingin bilang, apa kamu sudah mulai tertarik dengan Ana, eh maksudku Julie?"


"Sama saja, Ed."


Tim terdiam sesaat. Seharusnya, Tim dapat dengan mudah menjawab pertanyaan Edward. Tapi setelah menjadi teman Julie untuk beberapa waktu, Tim mulai intens memperhatikan Julie. Dia bahkan menjaga Julie layaknya Julie adalah barang porselen. Dia tidak ingin seseorang mengusik hidup Julie atau menyakiti wanita itu. Tim sendiri jadi bingung, apa perasaannya pada Julie ini termasuk suka, tergila-gila atau dia memang cinta pada Julie?


"Aku tidak bisa bersama Julie, Tim. Dia sudah pacaran dengan William. Dan kamu tau sendiri, bagaimana keluarga Wilson, kan? Apa kamu ingin lihat sahabat mu jadi rempeyek?" Tim berkata dengan logikanya.


"Apa itu rempeyek?"

__ADS_1


"Oh ya ampun, aku lupa kalau aku bicara dengan Sultan." "Lupa kan saja. Inti nya kasta ku dan Julie itu berbeda."


"Come on, dude.. Kamu jangan cemen seperti itu. Kamu harus mempertahankan cinta mu padanya. Kan kamu bisa kawin lari." Edward coba memberi semangat pada Tim.


"Ed, jangan memberiku saran. Kamu saja masih jomblo. Tahu apa kamu soal cinta seperti ini?" sindir Tim.


"Sialan. Ya sudah, aku cek dulu datanya. Besok aku kabari lagi." Edward memutus telepon Tim karena sudah mulai kesal pada Tim yang dapat memutar balikkan keadaan.


*


*


*


Tim sudah memegang kunci kamarnya yang baru, tapi dia berbalik ke lantainya semula karena dia khawatir pada Julie. Mungkin lebih baik Tim menginap di kamar Willy saja supaya besok pagi dia bisa langsung menemui Julie dan bicara padanya.


Tim menekan bel pintu kamar William. Dia menunggu cukup lama sampai Willy membuka pintunya.


"Will, bukan kah kamu ingin bicara padaku? Sekalian malam ini aku tidur di sini ya? Di kamar ku ada tikus." Tim masuk tanpa di persilahkan.


Willy diam saja. Dia menutup pintu kamarnya, lalu kembali ke ranjang dan tidur membelakangi Tim.


"Will, aku tau kamu ingin bicara tentang Julie. Tadi aku tidak bermaksud untuk..."


"Tim, aku sangat lelah. Bicara besok saja." potong Willy.


"Kenapa kamu tampak berkeringat, Will? Apakah AC nya kurang dingin?" tanya Tim yang melihat kaos William basah.


"Tidur lah, Tim. Ini sudah malam."

__ADS_1


'Kenapa dia begitu aneh? Apa dia begitu marah karena aku menggendong Julie dan memberikan CPR? Tapi kalau aku tidak melakukan itu, Julie bisa lewat.'


Tim yang tidak bisa mendapatkan jawaban, akhirnya memilih untuk memejamkan matanya di sofa. Sudah cukup masalah untuk hari ini, dan Tim akan memikirkan masalahnya lagi besok. Jika Tim pikirkan semua hari ini, kepalanya bisa meledak.


__ADS_2