Be Honest

Be Honest
Menangis


__ADS_3

Julie berjalan dengan cepat ketika sebuah suara terus memanggil nama nya.


"Jul,, tunggu Jul." Adel berusaha untuk mengimbangi langkah Julie yang berjalan begitu cepat. Dia bahkan berlari supaya bisa mendapatkan Julie.


"Jul.." karena kegigihannya, Adel akhirnya bisa meraih tangan Julie. Dia memegang tangan Julie erat, sementara dirinya sibuk mengatur nafas.


"Jul, bukan aku yang sebarin itu." ucapnya setelah jauh lebih tenang.


Julie melengos. Saat ini dia sedang berusaha untuk mengatur emosinya supaya tidak meledak dan akhirnya mengatakan hal buruk pada Adel.


"Kamu jangan seperti ini, Jul."


"Del, aku ingin sendiri." akhirnya Julie membuka suaranya. Dia melepaskan paksa tangan Adel yang masih memegangnya kuat.


"Tapi, Jul.." Kata-kata Adel terhenti karena Julie sudah pergi berjalan meninggalkan koridor.


'Ini karena si nenek lampir itu.' batin Adel kesal. Dia terpaksa kembali ke tempatnya karena percuma jika dia mengejar Julie lagi.


Sementara itu Julie bertujuan untuk pergi meninggalkan kantor. Tapi, lagi-lagi langkahnya terhenti ketika melihat William yang berdiri menghalangi jalannya.


"Kamu kenapa, Jul?" William mencoba menangkap mata Julie, tapi wanita itu melengos.


"Minggir, Pak." kata Julie kasar. Dia sudah tidak dapat lagi membendung emosinya, akhirnya air matanya mulai keluar.


"Jul, kamu menangis?" William menengok ke kanan kiri. Beberapa pasang mata menatap mereka dengan penasaran. Ini bukan tempat yang baik untuk berbicara dengan Julie. William akhirnya membawa Julie menjauh ke ruang rapat.


Ruang rapat kecil itu beda dengan aula kemarin. Ruang ini digunakan khusus untuk mengadakan rapat dengan para manager. Di sini jauh lebih aman dan sepi. Jadi, William bisa, bertanya lebih leluasa pada Julie.


"Jul, ada masalah apa?" tanya William lagi. Dia memegang tangan Julie dengan lembut. Dia baru saja datang, dan tidak tau apa yang terjadi di kantor. Tentu saja William tidak tau karena grup itu bebas dari Bos dan Manager. Hanya karyawan saja yang terdaftar di dalamnya.

__ADS_1


"Kamu ga perlu dekati aku, Will." kata Julie terisak.


"Lho, kenapa?" William mengerutkan dahi nya. Tapi, dia segera tersadar. Pasti Emily mengancam Julie sehingga membuat Julie jadi takut seperti sekarang.


"Aku akan bicara pada Emily."


"Tidak perlu!" teriak Julie. Itu hanya akan memperburuk masalah, Will." ucap Julie emosi.


"Okey, Jul..tenang.. aku tidak akan melakukan itu." William memberanikan diri untuk memeluk Julie yang masih saja menangis.


Karena Julie sudah menahan perasaannya sejak pertama kali berada di sini, akhirnya dia tidak tahan lagi. Dia menangis dalam pelukan William seperti anak kecil yang baru saja jatuh dan terluka.


*


*


*


Dia melihat Julie sedang menangis dalam pelukan William.


William menyadari kehadiran Tim. Dia tidak mengatakan apapun dan hanya menatap sahabatnya itu supaya tidak mendekat pada Julie dulu.


Tim mengangguk. Ada perasaan kecewa yang muncul, tapi dia memilih untuk pergi dari situ.


Kembali ke ruangan, Julie sudah mulai tenang. Dia baru sadar jika dia tengah berada dalam pelukan William. "Maaf, pak.."


"Tidak apa-apa. Jadi, ada masalah apa?" Tanya William dengan hati-hati.


"Ada yang mengambil foto ketika kita makan malam bertiga. Dan mereka berkata kurang baik." jelas Julie secara singkat.

__ADS_1


"Siapa yang kasih tau? Aku tidak beritahu siapapun soal kemarin."


Julie terdiam. Dia tidak ingin bicara jika kemungkinan Adel yang melakukan itu. Dia tidak ingin Adel terkena masalah dengan William. Lagipula selama ini Adel sudah sangat baik padanya.


"Pak, bolehkah saya ijin untuk tidak bekerja hari ini?" ucap Julie sambil menunduk.


"Ya, tentu saja. Kamu pulang dan istirahatlah." William menepuk pelan pundak Julie. Dia senang karena Julie sekarang semakin nyaman berada di dekatnya. Reaksi Julie sangat berbeda dengan reaksinya waktu pertama kali datang. Julie sangat menjaga jarak dengan William.


"Makasih, Pak." Julie tersenyum kecil pada William yang menatapnya dengan intens.


"Apa perlu aku antar?"


"Tidak perlu Pak. Saya bisa pulang sendiri."


*


*


*


'Tin.. Tin..'


Julie menengok ke arah sumber suara. Tim muncul dengan motor gede nya dan berhenti tepat di depan Julie.


"Ayo, naik."


Wanita itu tidak bergeming.


"Cepat, kamu gak bawa ponsel dan tas kan?" "Kamu mau pulang naik apa?"

__ADS_1


Tim benar. Julie tidak membawa tas atau ponselnya. Barang-barang Julie masih berada di ruangan, sedangkan Julie tidak ingin kembali ke sana. Julie tidak punya pilihan lain selain naik ke boncengan motor Tim. Kalau dia melewatkan ini, Julie harus berjalan kaki untuk pulang. Dan sudah dapat dipastikan kakinya akan putus karena jarak kantor dan kost nya jauh.


__ADS_2