Be Honest

Be Honest
Bertemu kembali


__ADS_3

Setelah susah payah berupaya, akhirnya Julie berhasil melepaskan pantatnya dari kursi. Celananya sudah dapat dipastikan sobek, tapi Julie tetap tenang karena dia mengikatkan jaketnya pada bagian belakang untuk menutupi area yang sobek.


Suasana kantor sudah sepi karena Julie memerlukan waktu 2 jam untuk menyelesaikan ini.


Julie sudah bersiap di depan menunggu ojek yang dia pesan. Seraya menunggu, Julie sibuk mememainkan tanaman di sebelahnya.


Dia tidak sadar jika sebuah mobil merci biru mengamatinya sejak tadi.


Tidak lama, sebuah motor sport menghampiri Julie. Julie kembali mencocokkan plat nomer motor dengan aplikasi yang ada di ponselnya. Nomernya sama, jadi tidak salah jika motor ini menjemputnya.


Ojek itu melepaskan helm sembari menatap layar ponselnya.


Julie menelan ludah menatap pria di depannya. Dia mencoba bersikap biasa saja, karena dia yakin orang itu tidak akan tau selama dia tidak membuka mulut untuk bicara.


"Sesuai aplikasi mba?" tanya nya dengan nada ramah.


Julie menangguk. Dia buru-buru naik ke boncengan.


Setelah memastikan bahwa wanita yang memesan ojeknya sudah naik dengan aman, pria itu menjalankan motornya, melaju cepat meninggalkan kantor Xpose.


Sementara itu, William yang mengamati dari dalam mobil tampak tercengang karena melihat Tim pulang bersama dengan Julie. Ya, sejak tadi William sengaja mengamati Julie dari jauh. Dia ingin tau di mana tempat tinggal Julie, jadi dia sengaja mengikutinya. Tapi, kini William dihadapkan dengan banyak pertanyaan. Kenapa Tim bisa mengantarkan Julie pulang? Bagaimana dia mengenal Julie? Jika sudah di Indonesia kenapa Tim tidak pergi ke kantor?


*


*


*


Timothy berulang kali melihat ke spion belakang. Dia mengamati gadis yang diboncengnya. Gadis itu begitu cantik dan matanya sangat indah. Dia mengingatkan Tim pada seseorang.


"Mba, apa kita pernah bertemu sebelumnya?" tanya Tim penasaran.


Gadis itu tidak menjawab.


"Mba meningatkan saya pada seseorang yang punya mata cantik seperti mba."

__ADS_1


Gadis itu masih tidak menjawab, padahal Tim berbicara dengan cukup keras.


"Bedanya, mata dia coklat, kalau mba hitam." lanjutnya pantang menyerah.


Julie yang sengaja tidak menjawab pertanyaan-pertanyaan Tim, tentu saja senang karena Tim mengingat dirinya dengan baik. Dia memang menggunakan Softlens supaya tidak mencolok sekaligus juga karena matanya memang minus. Dan karena Tim tidak pernah melihat wajahnya, jadi Julie pikir dia tidak akan tau. Tapi dugaannya salah. Tim masih mengingat Julie.


Julie menepuk pundak Tim sambil menunjuk sebuah rumah dengan 3 lantai. Dia memaksudkan supaya Tim berhenti di situ.


Tim berhenti tepat di depan gerbang. Julie turun. Dia mengikat rambut nya yang sudah berantakan karena terkena helm.


"Julie?" panggil Tim. Tim turun dari motornya, lalu dia memeluk wanita yang masih bengong itu.


"Ini aku, Timothy. Kenapa kamu diam saja?"


Julie menerima saja pelukan Tim karena otaknya sedang berpikir, bagaimana Tim bisa begitu yakin menyimpulkan jika dia adalah Julie, padahal Julie sudah menyembunyikan logatnya dengan tidak bicara pada Tim.


"Tim.." hanya kata itu yang mampu Julie ucapkan.


Tim memegang lengan Julie dengan kedua tangannya, sambil menatap wanita itu dengan lebih intens.


"Kamu masih hidup?" canda Tim.


"Bagaimana kabar mu?" tanya Tim lagi.


"Tidak enak jika bercerita di sini. Bagaimana kalau kita makan?"


"Deal. Kita mau makan di restoran mana?"


Julie menunjuk deretan warung yang ada di seberang jalan.


Tanpa basa-basi, Tim menggandeng tangan Julie untuk menyebrang jalan yang cukup ramai. Julie ingin berontak, tapi Tim memegangnya dengan erat.


Julie memilih menu nasi goreng Bang Ipul. Sejauh ini, nasi goreng Bang Ipul adalah menu favoritnya.


Tim duduk pada kursi yang begitu sempit. Dia tidak menyangka jika Julie bisa juga bertahan di Indonesia, bahkan makan di tempat seperti ini.

__ADS_1


Meskipun Tim tidak tau asal usul Julie, tapi dia yakin Julie bukan orang yang miskin. Julie menggunakan pakaian bermerk sewaktu dia menemukannya. Jam tangan Julie juga bukan jam tangan biasa. Julie mungkin bisa membeli sebuah rumah jika jam tangan nya di jual.


"Jadi kamu bekerja di kantor itu?" Tim memulai percakapannya tanpa sedikitpun mengalihkan pandangan dari Julie.


"Ya, kebetulan sekali bos nya baik karena aku lupa membawa CV." "Kamu ke mana saja, Tim?"


Julie juga tampak penasaran dengan Tim. Dia membelikan Julie banyak pakaian, membelikan tiket pesawat, tapi sekarang Tim malah jadi tukang ojek. Jika dia miskin karena Julie, Julie akan sangat merasa bersalah.


"Ya, aku sibuk bermain." jawab Tim santai.


"Kamu main jadi tukang ojek?"


Timothy tertawa. "Ya, begitulah." jawabnya singkat.


"Pasti senang ya pulang kampung halaman?" Julie menghela nafas panjang.


"Apa kamu menyesal pindah ke sini?"


Julie menggeleng. "Mungkin aku hanya kaget saja." Setiap kali Julie mengingat perlakuan buruk temannya, Julie begitu kesal dan sedih.


"Apakah kerjaan nya sulit?" Tim menyadari perubahan ekspresi Julie yang sedikit sedih.


"Ayo, kita makan saja."


Julie terselamatkan karena Bang Ipul membawakan 2 porsi nasi goreng pesanan mereka. Karena sudah mengenal Tim, Julie lebih nyaman untuk berbincang dengan pria itu.


Mereka menghabiskan makan malam mereka dengan obrolan ringan seputar beberapa kejadian konyol yang Julie alami. Dari salah membayar supir taksi, sampai salah masuk toilet.


"Sebentar, Jul." Tim menghentikan tertawanya karena dia harus mengangkat telepon dari seseorang.


"Hai,Bro.." "Aku sedang makan di luar." "Baiklah, besok aku akan datang." "Tolong pasang karpet merahnya."


Tim kembali memasukan ponselnya ke saku. "Jul, mana ponsel mu?"


Julie memberikan ponselnya dengan sukarela pada Tim. Dia tidak tau apa yang ingin Tim lakukan dengan ponselnya.

__ADS_1


"Aku sudah simpan nomerku." Tim mengembalikan ponsel Julie. "Hubungi jika ada sesuatu."


"Thank you Tim." ucap Julie sambil tersenyum. Dia senang bisa bertemu kembali dengan Tim. Setidaknya hari ini ada sesuatu yang baik dalam hidup Julie.


__ADS_2