
Setelah mendengar semua kenyataan pahit itu, Ana kembali ke kamarnya. Dia menangis karena Ny.Wilson, David dan Jerry lebih memikirkan harta saja, daripada memikirkan dirinya. Pantas saja akhir-akhir ini perlakuan ibunya mulai berubah. Ny.Wilson begitu baik pada Ana, bahkan dia mengantarkan sarapan secara langsung pada Ana. David juga selalu mengantar Ana jika wanita itu terpaksa harus keluar karena keadaan urgen. Ternyata itu karena Daddy nya menyerahkan semua warisan padanya.
"Ana, boleh Mom masuk?" Ny.Wilson mengetuk pintu kamar Ana.
Ana buru-buru menghapus air matanya. Dia meminum air yang selalu ada pada nakas, supaya dia bisa lebih tenang.
"Ya mom.." teriak Ana.
"Kamu belum tidur, sayang?" Ny.Wilson duduk di pinggir ranjang Ana.
"Belum ngantuk, Mom. Ada apa Mom ke sini?"
Ny.Wilson tersenyum. Dia sudah punya rencana untuk menikahkan Ana dengan Romano besok pagi.
"Besok Romano akan ke sini. Kamu dandan yang cantik ya.. Sudah lama kan kalian tidak bertemu?" ucap Ny.Wilson sambil membelai rambut Ana.
"Ada urusan apa Romano ke sini, Mom?"
"Tidak, hanya mengobrol saja, An. Memangnya kamu pikir dia mau apa?"
Ana menggeleng. Dia tidak ingin Mom nya curiga jika dia sudah tau rencana Mom dan kakak-kakaknya.
"Oke, Mom. Besok Ana akan menemui Romano."
"Makasi ya sayang.. Mom tinggal dulu."
__ADS_1
Ny.Wilson keluar dari kamar Ana.
Setelah memastikan Mom nya sudah pergi, Ana mengambil ponselnya untuk menghubungi Romano Smith.
Ana memang tidak asing dengan Romano. Dulu, Romano sering bermain dengan Dad nya ke rumah keluarga Wilson. Dan Ana bisa berteman baik dengan Romano. Dia tidak tau kenapa Dad nya menginginkan Ana untuk menikah dengan pria itu.
"Halo, ada apa cantik?" sapa Romano genit.
"Rom, apakah kamu akan ke sini besok pagi?"
"Ya.Tadi Mom mu menelepon. Dia akan menikahkan kita besok. Konyol sekali bukan?" Romano tertawa di ujung sana.
Ana cukup terkejut karena Mom nya terang-terangan bicara soal pernikahan pada Romano. Di sini, hanya dirinya yang tidak tahu apa-apa.
"Lalu, apakah kamu menyetujuinya?" tanya Ana penasaran.
"Aku yakin, dia mengatakan sesuatu yang lain sampai kamu menyetujui nya begini."
Romano terdiam cukup lama membuat Ana semakin benci saja dengan semua orang yang terlibat dalam persengkongkolan ini. Kenapa otak mereka semua hanya di isi dengan harta saja? Jika mereka jujur, Ana bahkan bisa membagi semua nya dengan adil.
"Ana, kenapa kamu jadi seperti ini? Mom mu tidak mengatakan apapun."
"Ya.. sudah lah. Aku ingin istirahat."
"Oke, selamat istirahat calon istri ku." Romano memberikan kecupan lewat telepon sebelum Ana menutup teleponnya.
__ADS_1
'Ana.. bagaimana ini? Apakah kamu harus kabur? Tapi ke mana?' batin Ana sedikit frustasi.
Setelah berpikir cukup lama, Ana mengepak beberapa dokumen penting dan baju karena dia memutuskan untuk kabur malam itu juga. Setidaknya dengan kabur, mereka semua tidak akan bisa mendapatkan harta keluarga Wilson.
Ana bergerak sepelan mungkin. Dia harus memastikan tidak ada seorang pun pembantu atau pengawalnya yang bangun. Jika sampai mereka tau Ana kabur, itu bisa jadi masalah besar.
Ana dapat keluar melewati pintu rumah dengan aman. Yang paling sulit adalah pada bagian gerbang, karena ada satpam yang selalu stand by di sana. Ana bersembunyi di tanaman perdu dekat pos jaga. Dia mengambil beberapa batu, lalu melemparkan batu itu ke bangku di sebrangnya, untuk mengalihkan perhatian. Dan sesuai dugaan Ana, Satpam itu mengecek keluar, untuk memeriksa ke arah bunyi batu yang mengenai kursi kayu. Secepat kilat Ana berlari ke pos jaga dan menekan tombol gerbang.
Melihat gerbang tiba-tiba terbuka, Satpam itu panik. Terlebih Ana sudah keluar dengan membawa koper.
"Nyonya, Nona Ana kabur." satpam segera menelepon majikannya.
"Kamu bodoh sekali. Cepat kejar dia dengan pengawal yang lain. Saya tidak mau tau pokoknya kamu harus membawa Ana kembali."
Satpam dan satu orang pengawal lain nya langsung mengejar Ana. Mereka bisa melihat Ana yang berlari dengan cepat di depan mereka.
"Nona Ana.. jangan pergi.." teriaknya kencang.
Ana beberapa kali menengok. Dia semakin mempercepat lari nya karena jarak mereka sudah semakin dekat. Ana terpaksa mendorong kopernya ke arah mereka supaya bisa mencegah mereka mendekat.
Kaki Ana sudah mulai pegal. Tapi dia tidak bisa berhenti.
"Berhenti nona Ana, Berhenti!" pengawal tidak berhenti juga mengejar sambil berteriak-teriak.
Sampai di situ, Ana akhirnya tertabrak dan dia tidak sadar lagi apa yang terjadi. Tapi, itu yang justru membuat Ana bisa kabur dan melarikan diri sebagai Julie di bantu oleh seorang pria bernama Timothy.
__ADS_1
Flashback off