Be Honest

Be Honest
Mengulang kembali


__ADS_3

Sementara di hotel, Adel bertemu dengan Emily di depan pintu. Wanita itu tampak seperti orang yang sedang sakit. Dia memakai kaos gathering yang sudah di berikan Willy, tapi di dobel dengan jaket dan syal.


"Bisa sakit juga, Lo?" sindir Adel.


Adel yang biasa langsung menyambut sindiran Adel, kini hanya diam seribu bahasa. Dia berlalu saja melewati Adel tanpa berminat memandang wajah Adel.


"Kenapa dia?" tanya Adel pada Raisa.


"Entah lah. Tadi pagi dia berteriak keras sekali di toilet. Lalu, keluar-keluar jadi seperti itu." jawab Raisa dengan polos.


Mereka berdua memandang Emily yang berjalan lebih dulu. Gaya jalan Emily juga berbeda, seperti orang yang menahan pipis.


"Minggir." Willy menggeser tubuh Adel dan Raisa yang menghalangi jalannya. Dia berjalan cepat menuju ke arah Lift dan melewati Emily juga.


Willy meninggalkan para karyawannya dan turun lebih dulu dengan menutup pintu lift sebelum mereka ikut masuk.


"Pak Willy juga tampak aneh." Raisa berbisik pada Adel.


Kalau Willy, Adel tau apa alasannya dia seperti itu. Julie tadi bilang jika dia akan pergi dengan Tim untuk membalas budinya pada Tim. Jadi,Willy pasti kesal karena pacarnya pergi dengan pria lain.


Semua sudah bersiap dalam ruangan. Willy memulai acaranya dengan memberikan sambutan. Untung saja karyawan Willy kreatif, jadi mereka yang menyusun acara. Willy hanya perlu berdiri sebentar waktu pembukaan dan waktu nanti akhir acara untuk mengucapkan terimakasih.


Emily duduk di pojok ruangan dengan tidak bersemangat. Dia menyadari bahwa semalam dirinya sudah melakukan kesalahan yang besar. Emily bahkan tidak bisa mencerna semua kejadian semalam dengan baik, karena keadaan dirinya yang mabuk berat.

__ADS_1


"Sa, gue ke toilet dulu ya." pamit Emily pada Raisa yang duduk di sebelahnya.


"Perlu gue temenin?" tanya Raisa khawatir.


"Ga usah. Gue bisa sendiri."


Emily berdiri dan dia berjalan ke toilet dengan menahan sakit pada bagian intinya. Dia harus pelan-pelan karena ini cukup menyakitkan untuk Emily.


Willy yang melihat Emily berjalan keluar ruangan, dia langsung segera menyusul Emily.


Dengan mudah, Willy mendapatkan Emily. Dia segera menarik tangan Emily untuk pergi ke tempat yang sepi.


"Sakit, Will." Emily berteriak karena Willy berjalan begitu cepat sambil mencengkram tangannya.


"Aku minta maaf, Em."' ucap Willy dengan penuh penyesalan. Sewaktu terbangun kemarin, dia langsung meninggalkan Emily begitu saja dan kembali ke kamar.


"Tolong, jangan beritahu Julie soal ini."


Emily menatap Willy dengan penuh kekesalan. Dia sama sekali tidak memikirkan perasaan Emily dan hanya memikirkan Julie seorang.


"Will, apa kamu tau jika aku baru saja kehilangan kehormatan ku?" kata Emily setengah berteriak.


"Jangan keras-keras, Em.. nanti yang lain dengar." Willy menenangkan Emily.

__ADS_1


Emily yang sudah terlanjur kesal, kini melepas syal dan jaketnya. Bekas merah langsung terlihat jelas ada di setiap inchi tubuhnya.


"Biar saja semua orang melihat kebejatan mu." ucapnya dengan lebih keras lagi.


Willy menarik Emily ke dalam pelukannya.


"Emily menangis sesenggukan sambil memukul-mukul dada bidang Willy.


" Em.. aku emosi waktu itu. kamu hampir saja mencelakai Julie. Dia pingsan di sauna dan entah apa jadinya Julie jika Tim tidak menemukan dia."


Tangis Emily makin menjadi karena dia sadar jika dampak kejahatannya berakhir buruk bagi dirinya sendiri.


"Lalu, aku bagaimana?" tanya Emily bingung. Dia takut jika apa yang mereka lakukan akan membuat dirinya hamil.


"Kita, rahasiakan ini. Ini akan sama-sama menguntungkan, bukan?"


"Ya, lebih banyak kamu yang untung."


Willy mengurai pelukannya karena Emily sudah mulai tenang. Dia memakaikan jaket nya kembali pada Emily, juga syalnya. Lalu, di tatapnya Emily dengan intens. Mata Willy tertuju pada bibir Emily. Dia teringat kembali bagaimana rasa manis dari bibir wanita yang semalam bersamanya itu.


Willy tanpa sadar sudah menempelkan bibirnya. Emily awalnya tampak terkejut, tapi dia akhirnya terbuai dengan apa yang Willy lakukan.


Willy melihat jam di tangannya. Masih ada waktu 2 jam sebelum acara akhir. Dengan segera Willy membawa Emily ke lantai atas.

__ADS_1


Emily masih terdiam dan mengikuti Willy yang menggandengnya dengan begitu erat. Beberapa menit kemudian, mereka sudah sampai di kamar Willy.


(Tolong ini jangan di tiru ya.. dan hanya fiksi saja.. untuk cewe-cewe mohon jaga diri baik-baik..)


__ADS_2