
Sejauh apapun Julie pergi, tetap saja akan banyak kepalsuan yang dia temui. Orang-orang di sekitar Julie sangat pandai berbohong dan membuat drama untuk dirinya sendiri. Sejak peristiwa kopi, Julie jadi dapat membaca karakter Emily. Dia bisa memanuver keadaan dan bilang jika Julie yang memasukan bubuk kopi lagi tanpa sepengetahuan nya. Dan tidak hanya itu saja, Emily sekarang begitu senang membully Julie.
Dia meminta Julie mengerjakan laporan nya, dan dia bilang sebaliknya pada William. William jadi menegur Julie karena laporan palsu dari Emily.
Pagi ini, belum saja Julie duduk di kursinya, William sudah telepon dan meminta dia ke kantornya.
"Jul, kalau kamu tidak bisa mengerjakan, kamu bisa tanya Adel. Jangan merepotkan Emily." kata nya dengan tegas.
"Pak, saya tau ini terlihat mustahil. Tapi saya yang mengerjakan laporan milik Emily." Julie mengatakan apa yang sebenarnya.
"Jujur saya bingung, Jul." William memijit pangkal hidungnya untuk mengurangi rasa pusing karena tekanan dari Emily.
"Pak William, saya hanya akan mengatakan apa yang benar. Saya tidak peduli anda percaya atau tidak."
William berdiri dari kursinya untuk menghampiri Julie. Tapi, karena kepalanya berputar, William malah berjalan sempoyongan dan terjatuh menimpa Julie.
Julie menahan badan William sehingga pria itu dan juga dirinya tidak sampai terjatuh ke lantai.
Julie memapah William untuk duduk kembali.
William mengendurkan dasinya, lalu bersandar pada kursi. Julie mengeluarkan sebuah obat dari tas nya. Dia selalu menyiapkan obat sakit kepala karena dia sering mengalami hal seperti William.
__ADS_1
"Minum dulu pak." ucap Julie sambil menyerahkan satu biji obatnya juga air mineral pada William.
"Thanks, Jul." "Kamu kembali saja ke tempat mu."
"Baik, pak. Semoga cepat sembuh."
Julie mengundurkan diri dari ruangan William. Dia harus kembali ke tempat yang sungguh menyebalkan itu.
*
*
*
Julie mencoba menghiraukan mereka berdua dan lebih memilih duduk untuk melanjutkan pekerjaannya. Tapi, dia merasakan ada sesuatu yang salah. Pantatnya terasa dingin dan basah. Julie kembali berdiri, tapi rupanya celana Julie menempel kuat pada kursi.
Seluruh ruangan itu tertawa tidak terkecuali Anton dan Beni. Julie sadar jika ini kerjaan mereka semua.
"Julie..Julie..Kamu itu cantik,,sayang kamu bodoh." ejek Raisa. Dia tidak sadar jika dirinya pun kerap dibilang bodoh oleh teman-temannya.
Julie menarik nafas dalam. Dia sungguh ingin menangis sekarang. Bertemu keempat orang di ruangan ini sungguh merupakan kesialan dalam hidup Julie.
__ADS_1
"Sayang sekali tidak ada yang membela kamu." kata Emily dengan wajah puas. Dia mengelus rambut Julie yang kini tidak dapat berkutik dari kursinya. "Menangis saja jika kamu mau." bisik Emily dengan penuh kemenangan. Dia sudah puas ketika melihat mata Julie sudah berkaca-kaca.
Julie mencoba tenang. Dia tau jika itu hanya gertakan Emily saja. Jika dia memberikan reaksi yang berlebihan, mereka akan semakin senang.
"Oh iya, daripada kamu mengurusi aku di sini, lebih baik kamu urus kekasih mu itu. Aku baru saja memberi dia obat." kata Julie sambil tersenyum licik.
"William? Kamu apakan dia?" Emily segera keluar dari ruangan marketing dengan wajah panik.
Satu pengganggu sudah kabur. Julie bisa sedikit lega untuk saat ini. Dia lalu mengambil ponselnya untuk memberi pesan pada Adel yang kini tengah mengajukan proposal pada stasiun televisi.
'Del, kamu bisa bantu aku? Mereka menaruh lem di kursi. Jadi aku butuh celana kerja yang baru. Apakah kamu bisa belikan dulu dan antar ke sini?'
Tak lama, Adel membalas pesan Julie.
'Hah? Apa Emily sudah tidak waras? Aku masih di luar sekarang. Sepertinya aku tidak bisa belikan. Apa aku perlu suruh Niko?'
'Kamu masih sibuk yah? Ya sudah, tidak usah merepotkan yang lain. Nanti aku tutup saja dengan jaket.'
'Sorry, Jul. Besok aku beri pelajaran mereka. Aku pastikan besok aku sudah di kantor.'
Lengkap sudah penderitaan Julie hari ini. Belum ada 2 jam dia masuk kerja, tapi dia sudah tertimpa berbagai kesialan. Dan Adel, satu-satunya harapan Julie ternyata juga tidak dapat membantunya.
__ADS_1
'Sayang sekali nona Wilson, kamu tidak bisa menggunakan kekuasaan mu.' batin Julie.