
Tim benar-benar memanfaatkan waktu bersama dengan Ana. Dia tidak pernah menunjukkan rasa khawatirnya, karena takut kondisi Ana semakin drop.
Hari ini Tim sudah bersiap membawa Ana pergi ke taman. Tim mendorong kursi roda Ana sambil sesekali menatap Ana, memastikan wanita itu bahagia.
Kondisi Ana semakin lama memang semakin menurun. Dokter menghentikan kemoterapi karena sepertinya badan Ana tidak kuat lagi. Sejujurnya Tim takut menghadapi hari demi harinya, tapi dia berusaha untuk tetap tersenyum sebisa mungkin di depan Ana.
"Kupu-kupunya begitu cantik." ucap Ana sambil menunjuk ke arah kupu-kupu bewarna biru yang terbang di atas kumpulan bunga mawar merah di rumah sakit.
"Sama sepertimu." Tim berjongkok di depan kursi roda Ana.
Ana menggeleng. "Aku sudah tidak cantik lagi."
Ana menyadari jika dirinya semakin tirus dan rambutnya pun sudah mulai rontok. Ana bahkan harus menggunakan topi supaya Tim tidak malu membawanya.
"Kamu tetap cantik karena kamu istriku." Tim tersenyum. Dia mengecup bibir Ana pelan.
"Apa kamu takut?" tanya Ana pada Tim yang masih menatapnya.
"Sedikit. Tapi kita masih punya banyak waktu, kan?" Tim memegang tangan Ana sambil tersenyum lebar.
"Kalau begitu aku mau ke pantai." pinta Ana.
"Sayang, itu terlalu jauh."
"Tim, aku tidak tau kapan aku meninggal. Hari ini, atau besok.. atau lusa.. Sekali ini saja, aku meminta dengan sangat kepadamu."
"Baiklah.. kita pergi ke pantai." Tim akhirnya menyerah. Sekarang yang terpenting bagi Tim adalah kebahagiaan Ana.
__ADS_1
"Thanks, sayang." Ana memeluk Tim. Dia merasa mungkin tidak akan bertahan lebih lama lagi. Ana sudah lelah.
*
*
*
Ana selalu menyukai pantai, begitu juga dengan Tim. Mereka berdua duduk di pinggir pantai begitu lama. Tim sudah melepaskan jaketnya untuk Ana, supaya istrinya itu tidak kedinginan.
"Sayang, aku sangat bahagia bisa bersamamu." ucap Ana seraya menyadarkan kepalanya pada Tim.
"Aku juga, Ana."
"Aku sudah meminta pengacara untuk menambahkan namamu pada ahli waris nanti setelah aku tidak ada."
"Berjanjilah padaku, Tim. Kamu harus mencari pengganti diriku yang lebih cantik dan yang mencintaimu."
"Aku tidak yakin ada yang lebih cantik darimu." Tim mencium pipi Ana cukup lama.
"Kamu gombal sekali, Tim." Ana menyikut dada suaminya. "Satu lagi, jangan lupa tentang permintaanku tentang detektif swasta."
"Banyak sekali pesanmu."
"Tentu saja, karena kita akan berpisah sebentar lagi." Ana merangkul pinggang Tim dengan erat seolah dia tidak ingin berpisah dengan Tim.
"Apa kamu sudah lelah?" tanya Tim dengan suara tercekat.
__ADS_1
"Ya, aku mengantuk sekali." Ana memejamkan matanya.
Tim melihat Ana ketika perlahan Ana mulai tertidur dan apa yang dia takutkan terjadi.
"Anaaaa.." Tim memeluk Ana dengan erat. Tapi sekeras apapun dia memanggil, Ana tidak akan mendengar karena dia sudah meninggal.
"Ana, bangun An." Tim menangis sesenggukan sambil mengguncangkan tubuhnya.
Ana Wilson. Dia adalah wanita yang mampu mengisi hari Tim dengan penuh kebahagiaan. Tim mungkin tidak bisa menghabiskan waktu terlalu lama bersama dengan Ana. Tapi, setidaknya Tim sudah mengukir kenangan indah bersama wanita itu.
"Aku akan menepati janjiku, Ana."
----------------- The End ---------------
Hiks.. hiks.. akhirnya harus berakhir Sad Ending..
Tapi Timothy menepati janjinya untuk menjadi detektif swasta. Dia menjadi detektif yang sukses, dan yang menangani kasus keluarga yang berpengaruh seperti Marsha Lee, Reno Sebastian dan Juna Liem.
*Lanjutan dari Pilihan CEO Tampan*
(Latarnya Tim sedang konsultasi dengan seorang psikiater bernama Ericka Anderson)
"Oke, pasti dia sangat berarti untukmu. Boleh aku tau namanya, Tim?" Ericka memajukan badannya. Dia tampak tertarik dengan cerita dari Timothy ini.
"Ana Wilson." jawab Tim dengan suara tercekat.
Ericka terdiam sesaat. Dia tidak menyangka jika seorang Timothy memiliki kisah asmara yang tragis juga. Pantas saja sejauh ini Tim selalu sendiri dan menjaga jarak dengan wanita lain.
__ADS_1
(Cerita Timothy-Ericka akan di lanjut di next novel berikutnya.. di tunggu ya gaes😁)