
'Tin.. Tin..' Sebuah mobil veloz putih berhenti di depan Julie dan Adel. Niko menurunkan kaca mobil dan melambaikan satu tangan ke arah mereka.
"Ayo, naik." ucapnya sambil tersenyum.
"Jul, kamu di depan ya.." Adel membukakan pintu depan untuk Julie, sementara dia duduk di belakang.
Julie yang tidak ingin berdebat menuruti permintaan Adel. Dia mengangguk pada Niko sebagai ganti ucapan selamat pagi.
Sepanjang perjalanan, Niko menceritakan bagaimana usahanya mendapatkan mobil ini. Adel begitu cerewet menanggapi dari belakang, sedangkan Julie menjawab dengan sesekali tersenyum.
"Semua butuh proses, Jul. Nanti kamu juga bisa kok beli mobil seperti ini." kata Niko di akhir ceritanya.
Lagi-lagi Julie mengangguk sambil tersenyum melihat betapa sombongnya Niko. Julie jelas tidak membutuhkan mobil seperti milik Niko ini. Semua mobil di rumahnya sudah punya label mobil sport. Julie bahkan punya beberapa limousine. Jika Julie membeli mobil seperti ini, maka dia bisa membeli 1000 unit sekaligus.
"Sudah jangan cerewet, Nik. Setir saja yang benar."omel Adel yang sudah bosan mendengar cerita Niko.
"Sensi amat lo." balas Niko kesal.
Ya, dari cara Niko bicara dan memperlakukan Julie, jelas sekali pria itu tertarik padanya.
Siapa yang tidak suka dengan Julie. Dia memiliki wajah yang putih mulus, mata yang cantik, dan terlihat dewasa.
"Eh, Jul.. nanti gue harus ke stasiun TV. Lo gak apa-apa sendirian?" tanya Adel saat teringat pekerjaannya hari ini.
"It's okay, Del. Take your time."
*
*
*
Ruangan itu terlihat tidak seperti kemarin. Suasana nya lebih tenang dan sepi. Di dalam hanya ada Raisa, Emily dan Anton si jahil.
Julie meletakkan beberapa barang yang dia beli kemarin. Dia tidak terlalu memikirkan rekan kerjanya dan memilih untuk berfokus pada tugasnya. Dia harus banyak belajar untuk dapat menguasai pekerjaannya saat ini.
"Hey, anak baru. Ambilkan kami kopi." teriak Raisa dari bangkunya.
Julie melirik sesaat, tapi dia tidak menghiraukan Raisa.
"Kamu dengar tidak?" ulangnya dengan nada lebih tinggi.
__ADS_1
Setelah menimbang cukup lama, Julie akhirnya berdiri.
"Gue satu ya, Jul. Thank you." kata Anton sebelum Julie pergi.
Julie berjalan ke meja kecil di pojok ruangan. Di sana terdapat teko listrik dan beberapa jenis kopi dan teh. Ini pertama kali bagi Julie di perintah dan juga membuatkan kopi untuk orang lain.
'Sabar Jul..' ucapnya pada dirinya sendiri.
Julie pernah melihat pembantunya membuat kopi. Dia menggunakan cara yang sama dengan pembantunya dulu. Dia mencampurkan satu sendok bubuk kopi dan satu sachet susu coklat.
Ya, Julie tidak bisa membuat yang lebih dari ini karena hanya itu yang Julie tau.
"Ini kopinya." Julie meletakkan kopi pada meja masing-masing. Dari ketiganya, hanya Anton yang mengucapkan terima kasih.
"Kopi apaan nih. Manis banget." omel Raisa yang langsung mencoba kopi Julie.
Anton yang penasaran juga ikut-ikutan meminum kopi buatan Julie. Dia menyesap perlahan karena kopi itu masih panas.
"Ah... ini gak manis kok.." komen nya. "Soalnya manis nya ada di kamu." Anton mengerlingkan mata pada Julie yang masih memperhatikan mereka.
"Basi tau ga sih, Ton." Raisa melempar Tipex dari mejanya ke arah Anton.
"Selamat pagi.." suara William mengalihkan pembicaraan mereka.
Emily terperangah karena tidak biasanya CEO mereka menyambangi ruangan marketing. Raisa dan Anton buru-buru memegang pekerjaan dan menghadap ke komputer mereka. Sedangkan Julie tampak cuek saja karena sejak tadi dia sudah mulai kerja.
William bergerak ke meja Emily yang persis berhadapan dengan meja Julie.
"Apakah kerjaan mu sudah beres, Em?"
"Sebentar lagi beres." jawab Emily gugup.
"Baiklah, aku hanya tanya itu saja." Dia tersenyum pada gadis yang berambut pirang yang sedang salah tingkah itu.
William melayangkan pandangannya ke arah kopi yang ada di meja Emily. Dia mengambil gelas itu dan meminumnya. "Ini enak sekali. Kamu yang bikin?"
"Tentu saja aku yang bikin." jawab Emily cepat.
Julie yang sejak mengetik, spontan menghentikan kegiatannya karena mendengar kebohongan dari Emily.
"Kalau begitu, bikinkan aku juga, dan antar ke ruangan ku." William kembali meletakan gelas yang sudah kosong separuh di tempatnya semula.
__ADS_1
Saat berbalik, pandangan matanya bertemu dengan mata Julie.
"Bagaimana pekerjaanmu?" tanya William kemudian. "Apakah sudah bisa?"
"Sudah Will.." jawab Julie tanpa sadar. "Eh, maksudnya Pak William."
Semua menengok pada Julie. Tapi Julie melengos dan melanjutkan pekerjaannya.
William menepuk pundak Julie pelan sembari keluar dari ruangan.
'Brak' Emily berdiri sambil menggebrak mejanya.
Dia berjalan menghampiri Julie yang tampak sok sibuk sendiri.
"Kamu menggoda William ya?" labrak nya tanpa basa basi.
"Saya tidak merasa seperti itu." jawab Julie santai tanpa menoleh.
"Denger ya, anak baru. William itu punyaku. Jangan macam-macam." Emily mendongakan wajah Julie dengan jari telunjuknya.
"Ya, oke." Julie menepis jari Emily.
"Sekarang, buatkan kopi yang seperti tadi." ucapnya dongkol. Julie tidak terlihat takut dengan ancamannya.
"Tidak mau. Dia mintanya kopi buatan mu." Tolak Julie.
"Cepat, atau aku bilang William untuk memecat kamu sekarang."
Semua menonton drama Emily- Julie itu dengan penasaran. Julie adalah orang pertama yang menolak permintaan dari Emily. Mereka cukup kagum pada Julie karena tidak terintimidasi oleh gertakan wanita yang berkuasa itu.
Julie diam seribu bahasa, tapi sebenarnya otaknya sedang berpikir. Beberapa detik kemudian, senyum Julie terkembang.
"Oke, aku buatkan kopinya."
"Yah.. ga seru." teriak Anton. Dia mengharapkan dua wanita itu bisa ribut dan saling dorong.
Tidak lama, Julie kembali dengan satu cangkir kopi. Dia menyerahkan itu pada Emily dengan hati-hati.
"Bagus.. " Emily tidak buang waktu lagi. Dia segera membawa kopi itu kepada William karena dia tidak ingin Pria itu menunggu begitu lama. ?
'Sebentar lagi, dia yang dipecat, bukan aku.' batin Julie.
__ADS_1
Julie bukan wanita yang bodoh. Dia sudah mengganti ramuannya dengan menambah 3 sendok kopi. Dia tidak akan memaafkan orang yang sudah berbohong demi kepentingannya sendiri. Dengan melakukan ini, Emily punya 2 pilihan. Dia akan mengakui yang sebenarnya pada William jika Julie yang membuat kan kopi, atau Emily akan berbohong lagi mencari alasan. Tapi yang pasti, besok wanita itu tidak akan meminta padanya untuk dibuatkan kopi.
'Suruh siapa berbohong.' kata Julie dalam hatinya. Dia jelas saja tidak suka dengan sikap Emily yang berbohong pada William. Setiap kebohongan kecil pasti lama- lama akan berkembang jadi besar. Sama hal nya dengan seluruh anggota keluarga Wilson. Kebohongan adalah makanan untuk mereka. Julie tidak ingin hidup penuh dengan kebohongan seperti itu. Karena itu dia ingin sekali kabur sejauh-jauhnya dari keluarga Wilson.