
Pagi yang cerah di City of Love, Paris. Julie yang baru saja bangun, menatap Tim yang sedang memakai jas hitamnya.
"Morning, sayang." Tim berjalan ke arah Julie, lalu mencium bibirnya.
"Kamu mau ke mana, Tim?" Julie beranjak dari ranjang untuk mengambil air putih.
"Tentu saja untuk mewujudkan masa depan kita bersama."
"Masa depan yang mana?"
"Menikah denganmu." Tim tersenyum lebar saat Julie melongo. "Apa kamu tidak senang?" Tim mendekati Julie lagi, lalu membantu dia yang kesulitan membuka air mineral.
"Bukan seperti itu. Hanya saja aku terkejut akan secepat ini." Julie meneguk sampai habis air mineral yang diberikan oleh Tim.
"Bersiaplah.. aku akan tunggu kamu di bawah." Sekali lagi Tim mencium bibir Julie. Kali ini, Julie merespon, sehingga mereka cukup lama berciuman.
"Sabar sebentar lagi, Tim." Julie kegelian karena Tim sudah mulai menjelajah ke lehernya. Dia sedikit mendorong tubuh Tim supaya Tim tidak lupa diri.
"Baik, tuan putri. Jangan lama-lama, dan hati-hati. Jangan lupa syal, topi dan jaket." ingat Tim sebelum pergi.
Julie mengangguk. Dia segera pergi ke kamar mandi untuk bersiap melaksanakan pernikahan mereka.
30 menit kemudian, Julie baru saja selesai mandi. Dia membuka lemari dan di sana sudah tergantung sebuah dress putih sederhana. Dress itu begitu pas dikenakan oleh Julie. Dia heran kenapa Tim bisa mengerti ukuran dan seleranya.
Julie lalu memoleskan make up seperlunya. Sebenarnya tanpa make up berlebihan pun, Julie sudah tampak cantik dan anggun.
Lagipula, Julie juga tidak akan melakukan pesta besar. Jadi tidak masalah jika dia berpenampilan seadanya. Yang penting pernikahan mereka harus sah secara agama dan negara. Dia ingin pernikahan yang terhormat supaya kehidupannya bisa lebih tenang dan bahagia.
Ponsel Julie berdering, membuat Julie mengalihkan pandangannya dari cermin.
__ADS_1
"Iya sayang, sebentar lagi aku turun." Julie terburu-buru keluar sampai lupa dengan jaket, topi dan syalnya.
*
*
*
Julie menunggu lift sambil menengok ke kanan kiri. Dia harus waspada, karena Julie lupa menggunakan penyamarannya. Dengan penampilan Julie yang begitu menawan, semua orang yang lewat tentu saja menengok ke arah Julie. Itu membuat Julie tidak bisa membedakan mana orang yang mengikutinya dan orang yang terkagum karena kecantikan wanita itu.
"Kenapa lama sekali?" ucap Julie panik. Keringat dingin mengucur dari dahinya. Menunggu seperti ini membuat Julie tegang. Dia sudah ingin turun dan bertemu dengan Tim.
"Nona..apakah anda sendiri?" seorang pria mendekati Julie dan berdiri di sampingnya.
Julie tidak menjawab dan melengos ke arah lain. Seandainya tidak ada yang mengejar Julie, mungkin Julie akan bersikap ramah padanya, tapi kali ini Julie begitu takut, terlebih orang itu asing bagi Julie.
"Anda baik-baik saja, Nona?" pria itu melongok ke arah Julie, lalu dia mencoba memegang pergelangan tangan Julie.
Pria itu menunduk dan minta maaf, lalu dia pergi dengan sendirinya.
Julie bernafas lega. Dia segera memeluk Tim dari samping.
"Tidak apa-apa.. aku di sini." Tim mengusap lengan Julie yang tampak ketakutan. "Kamu lupa pesan ku." protes Tim. Dia lalu melepaskan jas nya untuk dipakaikan pada Julie. Tim juga mengambil kacamata hitamnya dari saku untuk Julie.
"Yang cocok jadi detektif swasta itu kamu, sayang." canda Tim mencoba mencairkan suasana.
"Tim, aku kira kita tidak akan bertemu lagi." kata Julie lirih.
Tim merasa bersalah karena meninggalkan Julie. Wanita itu pasti ketakutan jika seseorang akan menangkapnya dan membawa dia kembali, padahal sebentar lagi mereka akan menikah.
__ADS_1
"Ayo, kita berangkat ke catatan sipil." Tim merangkul Julie untuk memasuki lift yang baru terbuka.
*
*
*
"Aku ke toilet sebentar." pamit Tim.
"Tim.." Julie memegangi lengan Tim dan tidak mau melepaskannya.
"Kamu tidak mungkin ikut ke sana kan, Jul." "Lagipula kantor ini aman, karena ramai." Tim menengok sekeliling kantor. Banyak orang di sini dan semua juga aman karena mereka yang dapat masuk hanya yang memiliki kepentingan saja.
"Aku mau ikut saja Tim, aku menunggu di luar."
Tim akhirnya mengalah. Dia mengajak Julie ikut serta ke toilet.
Kenapa Julie jadi ketakutan seperti ini. Apakah dia melihat sesuatu? batin Tim sambil menggandeng tangan Julie.
Julie duduk di bangku yang tidak jauh dari toilet.
"Jangan lama-lama, Tim." pinta Julie yang tidak rela melepaskan tangan Tim.
"Iya, sayang." "Teriak yang kencang kalau terjadi sesuatu."
Tim melepaskan tangan Julie yang masih memegangnya erat. Dia memang harus cepat supaya Julie tidak parno seperti ini.
Julie menunggu Tim sambil mengecek ponselnya. Dia ingin memberitahu Adel soal pernikahannya dengan Tim. Ketika mengetik, Pandangan Julie menjadi kabur. Kepalanya tiba-tiba pusing. Julie buru-buru mencari obatnya, tapi terlambat. Julie tidak tahan lagi, dan akhirnya dia pingsan.
__ADS_1
Seorang pria yang mengamati Julie sejak tadi keluar dari persembunyiannya. Dia menggendong Julie dengan mudah, lalu membawa wanita itu pergi.