Be Honest

Be Honest
Pantai


__ADS_3

Tim memandang Julie dari spion motornya. Wanita itu sudah tidak menangis, tapi sedang melamun.


"Jul, pegangan." ucap Tim kemudian.


"Apa?" Julie tersadar. Dia tidak mendengarkan apa yang diucapkan Tim.


Tim bukannya menjawab, dia justru menambah kecepatan motornya sampai Julie berteriak ketakutan.


"Tim, stop Tim. Aku takut." Dia reflek memeluk Tim, karena pria itu tidak mendengarkan dan motor melaju semakin cepat saja.


Tim tersenyum kecil. Dia senang jika Julie berteriak. Terapi itu bisa membantunya supaya lebih tenang.


Tim berkendara cukup jauh karena dia ingin membawa Julie ke suatu tempat. Dia baru berhenti ketika sampai di pelabuhan.


Julie turun dari boncengan motor Tim dengan wajah pucat pasi.


"Sorry, Jul." kata Tim sambil memegang lengan Julie yang tampak lemas.


"Kita mau ke mana Tim?" Julie tampak bingung ketika Tim menggandengnya ke sebuah speed boat di pinggir pelabuhan.


"Healing." jawab Tim singkat. Dia melambaikan tangan pada seorang pria berkumis yang berdiri di samping speed boat.


"Hay, bro.. apa kabar?" sapa Tim ramah.


"Baik.. Kapan kamu kembali dari America? Siapa dia? pacar mu?" pira itu memberondong Tim dengan banyak pertanyaan.


"Belum lama.. dia temanku, Julie."


Seperti kebiasaannya, Julie hanya tersenyum tanpa ingin mengulurkan tangan. Dia juga sedikit bersembunyi di belakang Tim karena takut melihat pria yang tinggi besar itu.


"Oke, aku akan menyebrang. Thank you bro." Tim mengambil alih speed boat. Pria itu menyingkir, supaya Tim dapat membantu Julie untuk naik.


"Kamu bisa bawa?" Tanya Julie yang cukup kagum dengan Tim.

__ADS_1


"Ya, ini mudah.. Aku sering membawa Edward berkeliling dengan speed boat nya." kata Tim bangga.


Julie mengangguk. Dia tidak mempersoalkan itu lagi. Saat ini Julie lebih menikmati angin yang menerpa wajahnya. Sudah lama sekali dia tidak melihat laut.


Tim selalu memperhatikan setiap reaksi Julie. Dia yakin, wanita itu senang dengan apa yang Tim lakukan. Tim mengendari jauh lebih santai. Dia ingin mengajak Julie ke sebuah pantai pasir putih yang terletak tidak jauh dari pelabuhan.


*


*


*


Julie sangat takjub melihat pemandangan yang terpampang di depannya. Pantai itu sangat indah. Julie segera berlari ketika turun dari speed boat. Dia sibuk bermain air dan melupakan Tim yang datang bersamanya.


Timothy duduk di pinggir sambil mengamati Julie. Sejak semalam dia memikirkan perkataan Edward mengenai Ana Wilson. Ada beberapa kemiripan antara Julie dan Ana. Ana suka sekali pantai, dan seperti yang terlihat, Julie juga suka dengan pantai. Di tambah lagi, tahi lalat yang ada di leher mereka sama persis. Meskipun wajah mereka berbeda, tapi kemungkinan mempunyai tahi lalat di tempat yang sama itu 1000:1. Dan terakhir, jam tangan mewah Julie membuktikan jika Julie memang bukan orang biasa saja. Tapi, pertanyaannya, kenapa Julie kabur? Keluarga Wison adalah keluarga yang harmonis.


"Tim.." Julie berlari menghampiri Tim. Perasaannya jauh lebih baik sekarang.


"Minum dulu, Jul." Tim memberikan Julie sebotol air mineral.


"Aku tidak tahu jika ada tempat seperti ini di Indonesia." ucap Julie yang masih merasa takjub.


"Kalau begitu, kamu harus banyak berkeliling dengan ku."


"Tim, kenapa kamu begitu baik sama aku?" Julie kini menghadap wajahnya pada Tim yang sedang memandang lurus ke depan.


"Aku baik pada semua orang, Jul." jawab Tim sambil memuji dirinya sendiri.


"Astaga, kamu begitu percaya diri sekali." Julie menonjok lengan Tim pelan.


"Kamu lebih senang di sini, atau di America?" Tim mengalihkan pembicaraan.


"Tentu saja di sini." Julie menjawab dengan yakin.

__ADS_1


"Apakah kamu tidak kangen keluarga mu di sana?"


Julie terdiam sebentar. Dia memang rindu dengan rumahnya, tapi tidak dengan orang yang ada di dalamnya.


"Sejak papa meninggal, keadaan di rumah tidak begitu baik." Julie memulai ceritanya.


"Sorry, Jul.. bukan maksudku mengingatkan kamu pada.."


"Tidak apa-apa, Tim." potong Julie. "Aku rasa, aku juga perlu bercerita pada seseorang supaya aku tidak menyimpannya sendiri."


Ya, selama di America, Julie tidak mempunyai teman. Dia selalu berada di rumah, karena ibu nya begitu over protektif padanya. Jika Julie ingin pergi liburan, Julie harus membawa beberapa bodyguard bersamanya.


"Aku tinggal bersama ibu dan kedua adik laki-laki ku." lanjut Julie.


"Apa mereka memperlakukan kamu dengan buruk, sehingga kamu kabur?" pancing Tim.


Julie menggeleng. "Justru sebaliknya. Mereka sangat baik pada ku. Sampai aku tidak bisa membedakan, apakah tindakan mereka berasal dari hati, atau hanya pura-pura saja."


Tim mengangguk. Dia mendengarkan dengan seksama cerita Julie sambil mencocokan latar belakang keluarga Wilson. Dari cerita Julie, Tim menyimpulkan jika Julie semakin mirip dengan Ana. Adam Wilson alias ayah Ana sudah meninggal beberapa tahun yang lalu. Adam mempunyai 3 orang anak, satu perempuan dan 2 laki-laki, persis seperti yang di katakan oleh Julie.


"Setidaknya, kamu punya keluarga, Jul." "Aku tidak tahu siapa orang tua ku dan keluarga ku." Tim kembali mengalihkan pembicaraan supaya Julie tidak curiga.


"Tapi, hidup mu tampak lebih bahagia."


"Ya, karena aku selalu saja bertemu dengan wanita cantik seperti kamu." goda Tim sambil tertawa.


Julie hanya diam saja. Karena wanita itu tampak bingung, Tim akhir nya berdiri dan menarik Julie untuk kembali bermain air.


Tim mencipratkan air ke arah wajah Julie.


"Tiiiim.. awas kamu." teriak Julie.


Tim segera berlari kabur sebelum Julie membalasnya.

__ADS_1


Mereka asyik bermain sampai tidak sadar jika seseorang sedang mengamati mereka dari balik pohon.


"Saya sudah menemukan nona Ana." ucap pria itu pada sambungan telepon.


__ADS_2