Be Honest

Be Honest
Kembali ke America?


__ADS_3

"Dia memang hampir menjadi calon suami ku." jawab Ana dengan sedih. Dia sedih karena mengingat kembali kecelakaan yang mengerikan itu. Dia juga sedih harus kabur dari keluarga sendiri karena kebohongan-kebohongan mereka.


"Jul, ini ga mungkin." Willy mencengkram tangan Julie dengan kasar. Dia tidak menyangka jika Julie yang terlihat kalem, ternyata dia juga bermain di belakangnya.


"Tuan, lepaskan tangan kotor anda." Romano memberi peringatan pada Willy, tapi tampaknya Willy tidak mendengarkan karena sibuk berdebat dengan Julie. Akhirnya, Romano terpaksa turun tangan. Dia memelintir tangan Willy sehingga mau tidak mau Willy melepaskan tangan Julie. Setelah itu, dia lalu menarik Julie mendekat kepadanya.


"Ayo, pulang. Jangan membuang waktu mu dengan orang hina seperti dia."


"Lepas, Rom. Aku tidak ingin pergi." Julie memberontak dari Romano.


"Lupakan perjanjian pernikahan itu."


"Tidak bisa,, Aku akan tetap membawa mu pergi."


"Rom, jalani saja hidup mu. Aku juga akan jalani hidup dengan baik di sini." tawar Julie. Semua bisa hancur berantakan jika sampai Romano mengadu pada Mom nya jika dia masih hidup.


"Kamu yakin bahagia dengan tukang selingkuh seperti dia?" Romano memandang Willy dengan pandangan Jijik.


"Apa maksud mu?" Julie memicingkan matanya pada Romano yang sepertinya tahu sesuatu.


"Lihat saja, rekamannya." Romano memberikan ponselnya pada Julie yang menayangkan adegan ciuman panas antara Willy dan Emily di Koridor.


"Bukan itu saja, dia sudah 2x melakukan itu di kamar Tim dan kamarnya sendiri."


Deg. Julie merasa ada batu besar yang menimpa dadanya. Rasanya dada Julie begitu sesak melihat Willy juga mengkhianatinya. Selama ini, Julie pikir Willy orang yang baik seperti Tim. Tapi, dia ternyata begitu busuk seperti keluarganya.


"Jul, aku bisa jelaskan.." Willy memegang tangan Julie, tapi langsung di tepis olehnya.


"Aku ga nyangka, kamu sejahat itu Will." teriak Julie. Air mata Julie langsung berebut turun karena desakan dari dadanya.

__ADS_1


"Jul, Emily mabuk waktu itu."


"Kamu breng**k. Aku begitu bodoh karena telah mempercayai mu." Julie mengumpat Willy dan terakhir dia menamparnya dengan keras.


Romano memberi kode pada sopir heli untuk menyalakan mesinnya. Suara bising langsung memekikkan telinga mereka.


"Jadi, kita pulang sekarang, Ana Wilson?" Romano mengulurkan tangannya pada Ana.


Ana tampak ragu, tapi karena Willy terus membujuknya, akhirnya Ana meraih tangan Romano.


"Juliiiiiie." teriak William dengan keras.


"Bye, pecundang." ejek Romano. Dia menutup pintu heli nya dan tidak lama, helikopter itu mengudara untuk menuju ke bandara.


*


*


*


Julie diam saja sambil menatap ponselnya. Dia sudah berhenti menangis, tapi hatinya masih begitu sakit dan terluka. Romano baru saja mengurus tiket mereka untuk ke America. Dia duduk di sebelah Julie, lalu menyerahkan paper bag berisi baju untuk wanita itu. Ya, Julie masih menggunakan piyama. Tidak lucu jika Romano membawa Ana kembali dengan pakaian seperti ini.


"Rom, kenapa kamu bersemangat sekali menikah dengan ku? Apa kamu juga ingin harta keluarga Wilson saja?" Julie membuka percakapan dengan perkataan yang cukup menyakitkan.


"Ya, tentu saja.. siapa yang tidak tergiur tawaran ini." jawab Romano dengan santainya.


"Tapi kita tidak bisa menikah, Rom." Julie memandang Romano dengan mata sayu.


"Kenapa? Apa kamu masih mencintai pria itu?"

__ADS_1


Julie menggeleng. "Kalau kita menikah, kita bisa mati."


"Maksud mu?"


"Mereka akan menghabisi kita. Jadi, kita tidak akan mendapatkan apapun." jelas Julie. Dia melihat bagaimana reaksi Romano. Romano pasti sama seperti dirinya yang merasa terkhianati.


"Jadi, kamu menghilang karena ingin menghindari keluarga mu?"


Reaksi Romano di luar ekspetasi Julie. Pria itu tampak begitu santai mendengar fakta yang baru di dengarnya.


"Kira-kira begitu. Dan juga aku sudah muak dengan kebohongan mereka. Sejak dulu mereka selalu membicarakan ku di belakang mereka. Mereka tidak ingin aku berada di keluarga itu." Julie menarik nafas panjang ketika mengingat kembali potongan-potongan peristiwa yang terjadi dalam hidupnya sejak kecil.


"Ana,, ke manapun kamu pergi, pasti akan selalu ada yang berbohong pada mu. Sekarang sangat sulit untuk menemukan orang yang jujur."


Julie tersenyum getir. Dia mengakui apa yang diucapkan Romano itu memang benar.


"Cuma Timothy saja yang sepertinya orang yang jujur." ucap Julie lirih. Tiba-tiba dia teringat Tim yang selalu menghiburnya.


Romano tertawa keras sampai orang-orang memperhatikan mereka.


"Justru dia sangat pandai berbohong." jawabnya sambil mengusap air mata yang sedikit keluar.


"Dia membohongimu untuk pura-pura jadi teman mu. Padahal dia sebenarnya menyukai kamu, An."


"Menyukai aku?"


"Ana Wilson yang bodoh..Apakah kamu tidak bisa melihat, justru yang mencintai mu itu Tim, bukan si rambut landak itu." Romano mencubit pipi Ana dengan gemas. "Apa kamu mau taruhan? Sebentar lagi, dia pasti akan ke sini untuk mencari mu."


Pria itu melihat jam tangannya. Sudah jam 6 pagi. Pesawat meraka akan take off satu jam lagi.

__ADS_1


"Jadi bagaimana? Apakah kamu akan ikut dengan ku?" "Aku janji tidak akan mengatakan pada keluarga mu jika kamu masih hidup."


__ADS_2