
Timothy naik ke ranjang setelah melihat sebuah mobil limousine masuk ke halaman rumah Edward. Caranya memancing Ana keluar dengan berpura-pura sakit ternyata ampuh juga.
Ya, jika tidak seperti ini, maka Ana akan tetap berdiam diri di kamar dan meratapi nasibnya. Tim sebenarnya sudah tau tentang penyakit Ana sejak Ana mengusirnya dari rumah sakit. Edward membantu Tim untuk bicara pada dokter yang menangani Ana, dan Dokter itu menjelaskan kondisi sesungguhnya pada Tim.
Tim tentu saja shock. Setiap hari dia datang ke rumah sakit untuk mencoba bicara padanya. Langkah Tim itu tidak berhasil karena anak buah Ny.Wilson akan menghajarnya jika Tim memaksa masuk.
Tim yakin alasan Ana mengusir dirinya karena dia tidak mau membebani Tim. Dan Tim juga bertekad untuk tetap menemani Ana sampai akhir, jadi dia tidak akan menyerah supaya Ana mau bertemu dengannya.
'Ceklek.'
Pintu terbuka. Tim menutup menarik selimut dan menutup matanya, berpura-pura tidur.
"Tim.." panggil Ana. Dia duduk di pinggir ranjang sambil mengamati Tim.
"Aku akan keluar dulu." Edward mengundurkan diri karena tidak mau mengganggu pembicaraan mereka berdua.
"Tim..aku datang." ulang Ana. Dia memberanikan diri untuk menyentuh tangan Tim. Ana tidak tega melihat Tim begitu pucat dan juga masih terdapat bekas memar di beberapa bagian wajahnya. Ini pasti karena anak buah Ny.Wilson yang menghajar Tim dengan keras.
"Ana.. kenapa kamu pergi, An?" igau Tim.
"Tim, aku tidak bermaksud untuk pergi. Aku hanya tidak ingin kamu sedih karena sebentar lagi aku akan meninggal." ucapnya lirih.
Tim mencengkram tangan Ana dengan kuat sehingga membuat Ana terdorong ke arahnya.
Dia membuka matanya jadi Tim dapat memandang wajah Ana yang terlihat sayu.
"Aku sedih jika kamu berbohong padaku seperti kemarin, Juliana."
__ADS_1
"Tim, kamu gak sakit?" Ana tampak terkejut. Dia meronta supaya Tim melepaskannya.
"Jul, aku mohon, ijinkan aku menemani kamu melewati semua ini."
"Tapi, Tim.."
"Aku tau, penyakitmu. Dan aku tidak masalah. Aku justru akan menyesal jika aku tidak ada di sampingmu sekarang." Tim mencoba memberikan pengertian pada Ana. Dia yakin, Ana pasti sedang bingung saat ini.
"Tim.. apakah boleh aku bertindak egois seperti itu?"
"Sangat boleh, Jul."
Tim beranjak bangun, lalu dia mendekap Ana dalam pelukannya. Dia mengusap lembut punggung Ana dan tidak lupa mencium pucuk kepala Ana.
Mendapat perlakuan romantis dari Tim, tentu saja membuat sel-sel dalam tubuh Ana kembali bersemangat. Energinya sedikit pulih karena dia sudah bisa bersama orang yang menyayanginya.
"Apa maksudnya, Tim?"
"Aku ingin kamu menikah denganku."
Beberapa orang masuk ke dalam kamar.
Tim melepaskan pelukannya. Dia sudah meminta Edward untuk memanggil pemimpin agama, wali dan juga orang dari catatan sipil. Sekarang mereka sudah datang dan berkumpul di kamar.
Ana tidak bisa menahan rasa terkejutnya. Dia sudah berapa kali gagal melangsungkan pernikahan entah dengan Tim atau Romano. Kali ini, apa yang harus Ana lakukan?
"Kita mulai acaranya sekarang ya?"
__ADS_1
Proses pernikahan Ana dan Tim berjalan lancar. Tim sudah menyiapkan cincin berlian yang cantik untuk Ana. Dia menyematkan itu sambil tersenyum pada jari manis wanita yang sudah sah menjadi istrinya itu.
"Aku menepati janji untuk tidak meninggalkanmu, Ana Wilson." ucap Tim bahagia.
"Aku bingung harus mengucapkan apalagi." Ana terus memandangi cincinnya.
"Sayang, kita, sudah menikah." Tim menangkap wajah Ana dengan kedua tangannya. Dia meyakinkan istrinya jika semua akan baik-baik saja.
"Kita harus bahagia selama 6 bulan ini." lanjut Tim.
Ana mengangguk. Ada perasaan lega bercampur dengan cemas yang melanda hatinya. Dia lega karena akhirnya bisa menikah dengan Tim, tapi dia cemas dengan umurnya yang hanya tinggal sebentar lagi.
"Stop!" Edward menginterupsi keduanya yang sudah semakin mendekatkan wajah mereka. "Selamat Timothy, selamat Ana.. tapi ijinkan aku pergi dulu." Edward buru-buru kabur sebelum menyaksikan adegan 17 tahun ke atas pasutri baru itu.
Tim tertawa. Akhirnya dia bisa selangkah lebih maju dari Edward.
Semua keluar dari kamar dan menyisakan Ana dan Tim berdua. Tim tidak akan membuang waktunya yang berharga bersama Ana. Dia membaringkan Ana dengan lembut di ranjang.
"Aku mencintaimu, Ana Wilson."
"Aku juga mencintaimu, Timothy." Ana membelai wajah Tim, menyusuri tiap jengkal wajah Tim dengan jarinya.
"Bolehkah aku melakukannya?"
Ana mengangguk. Dia begitu bahagia karena Tim akan menjadi yang pertama yang menyentuhnya.
Mereka akhirnya bisa bersatu sebagai suami istri.
__ADS_1