
Julie sudah siap dengan 2 koper di sampingnya. Hari ini dia begitu senang, karena sebentar lagi dia akan pergi ke Indonesia. Julie sudah pernah belajar bahasa Indonesia sebelumnya, jadi dia tidak begitu memusingkan soal bahasa. Kesulitannya hanya bagaimana bisa mendapatkan pakaian dan mengurus surat. Tapi, Timothy dengan baik hati membelikan pakaian-pakaian untuk Julie. Dan untuk suratnya, Julie sudah menghubungi orang kepercayaannya untuk membuatkan pasport baru dan juga identitas yang baru karena wajahnya sekarang berbeda.
"Apa semua sudah siap?" tanya Tim yang datang bersama dengan Dokter Richard dan seorang pria berkacamata tebal.
"Siap." ucap Julie lantang.
"Saya sudah hubungi Dokter Agung di Indonesia. Setelah sampai, kamu bisa lanjutkan sedikit perawatan dengannya." pesan Dokter Richard.
"Terima kasih dokter, anda sungguh baik sekali." Julie maju untuk memeluk Dokter Richard yang selama ini selalu membantunya.
"Jul, ini Edward. Dia yang bantu operasi kamu juga." Tim memperkenalkan pria yang sejak tadi diam dan hanya memandang Julie.
"Terima kasih,Edward." kata Julie sambil tersenyum kecil.
"Sama-sama, nona Julie."
Julie sedikit risih karena Edward masih memandangnya dengan tatapan menyelidik.
"Bro,, kabari aku kalau kamu pulang kampung." Tim merangkul pundak Edward. "Aku akan merindukan mu."
"Menjijikan. Sudah sana berangkat." Edward mendorong badan Tim sambil bergidik ngeri.
Dokter Richard hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah 2 sahabat yang tidak pernah akur ini.
"Ayo, kita berangkat." kata Julie yang sudah tidak sabar lagi.
"Baiklah,, aku harus pergi dulu.. bye semua.." Tim memberi salam dengan mengangkat satu tangannya, lalu dia membawakan satu koper Julie yang berukuran besar.
*
__ADS_1
*
*
Mereka berdua sudah masuk ke dalam pesawat setelah melewati sedikit proses yang cukup panjang. Julie masih di perban dan membuat petugas sedikit kesulitan untuk memeriksa identitasnya. Untung saja Edward membantu dengan memberikan surat pernyataan dari rumah sakit.
Julie memilih duduk di sebelah jendela. Dia melepaskan topi yang menutupinya sejak tadi dengan perasaan lega. Satu langkah menuju kehidupan yang baru.
"Sorry ya.. aku hanya mampu untuk membeli tiket pesawat yang biasa." ucap Tim sambil memutar topinya ke belakang.
"Eh, tidak apa-apa. Ini tidak buruk." jawab Julie terbata.
Julie memang baru pertama kali naik pesawat dengan kelas ekonomi. Sebelumnya, dia selalu menggunakan pesawat pribadi atau minimal kelas VIP jika berpergian ke mana pun.
"Apa yang akan kamu lakukan di Indonesia?" tanya Tim kemudian.
"Kerja."
"Aku belum tau."
Tim tertawa lepas, membuat beberapa orang yang duduk dekat dengan mereka menoleh ke arahnya.
"Kamu sungguh lucu." kata Tim setelah dia selesai tertawa.
"Kenapa?" tanya Julie bingung. Dia tentu saja akan bekerja setelah sampai di Indonesia nanti.
"Kamu sangat nekat." jawab Tim singkat.
Julie tidak menjawab Tim. Tim benar. Dia hanya membawa uang 1000 dolar saja di dompet, itupun dia pinjam dari orang kepercayaannya. Julie harus secepatnya mencari pekerjaan dan mencari tempat tinggal.
__ADS_1
*
*
*
18 jam yang menyiksa akhirnya berakhir juga. Julie merasakan badannya pegal-pegal dan pantat nya panas. Pesawat ekonomi sungguh mimpi buruk baginya.
"Hey, kamu mau ke mana? tanya Tim sambil menarik tangan Julie yang berjalan berlawanan arah dengannya.
Julie menaruh kopernya. Dia lupa kalau Tim sudah berhasil membawanya pergi jauh dari America. Tapi, Julie tidak ingin satu orang pun mengenalnya di sini. Itu juga alasan kenapa dia masih menggunakan perban di wajahnya. Dia tidak ingin Tim melihat wajahnya.
"Thanks Tim atas bantuan mu." "Aku tidak akan merepotkan mu lagi."
Tim menatap jauh ke dalam mata coklat Julie. Sampai akhir pun dia tidak bisa melihat wajah Julie. Padahal dia sangat penasaran bagaimana wajah wanita itu setelah menjalani operasi.
"Kamu yakin pergi sendiri?" tanya Tim tanpa mengalihkan pandangannya. "Setidak nya aku akan bantu carikan kamu kost."
"Kost? Apa itu?" tanya Julie bingung.
"Kost itu tempat tinggal yang hanya sepetak."
"Oh,, tidak apa-apa.. nanti aku cari sendiri saja."
"Baiklah.. kamu hati-hati.." Tim memeluk Julie untuk terakhir kalinya. Dia mendekapnya dengan erat seolah Julie adalah bagian dari keluarganya yang akan berpisah. Ya, mungkin mereka tidak pernah akan bertemu lagi.
"Jaga dirimu, Timothy." pesan Julie yang merasakan hal yang sama dengan Tim.
Tim melepaskan pelukannya setelah mereka cukup lama dengan posisi seperti itu.
__ADS_1
Julie tersenyum, lalu dia menarik kopernya untuk pergi ke arah yang dia inginkan.