Be Honest

Be Honest
Di ruangan Tim


__ADS_3

Timothy membuka pintu ruangannya. William memberikan ruangan yang begitu nyaman meskipun tidak terlalu besar.


Dia mengambil papan nama di meja, yang bertuliskan nama dan juga jabatannya. Ini sungguh sangat menggelikan. Dia tidak pernah berpikir akan menjadi seorang CEO.


"Tim, are you okay?" Julie menepuk pelan punggung Tim sehingga membuat pria itu berbalik.


"Sorry.." Tim lupa kalau dia membawa Julie bersamanya.


"Kenapa kamu bawa aku ke sini? Apa yang ingin kamu bicarakan?" tanya Julie tidak sabar.


Jujur dia bertanya-tanya dalam hati, kenapa Tim bisa berada di kantor ini dan menjabat sebagai CEO, padahal kemarin dia menjadi tukang ojek.


"Aku ingin menceritakan kenapa aku bisa di sini." jawab Tim seolah dia mengerti isi pikiran Julie.


Julie memilih mendengarkan cerita Tim sambil duduk. Dia lelah karena sejak tadi berdiri terus.


"Aku tidak tau harus mulai dari mana. Tapi, singkat cerita aku pergi ke America karena aku bosan di Indonesia. Dia sana aku bekerja sebagai hacker." Tim memulai ceritanya setelah dia duduk berhadapan dengan Julie.


Julie mengamati wajah Tim, dia ingin melihat apakah Tim berbohong atau tidak.


"Pekerjaan itu tidak sulit. Aku bisa menghasilkan banyak uang darinya. Dan karena aku tidak suka memegang banyak uang, aku memutuskan untuk membeli sebagian saham di perusahaan milik temanku yang hampir bangkrut ini." lanjut Tim.


"Lalu, kenapa kamu jadi tukang ojek?" Tanya Julie keheranan.


Tim tersenyum kecil. "Aku sama seperti mu." "Aku ingin hidup bebas. Aku ingin melakukan apapun yang ingin aku lakukan."

__ADS_1


"Tentu saja berbeda." sanggah Julie dengan cepat. Dia tidak setuju pada Tim, karena dia kabur dari America karena dia ingin menghindar dari orang-orang yang penuh dengan kebohongan, termasuk ibunya sendiri. Jika punya pilihan lain, Julie tidak mau juga hidup di kamar kecil dengan toilet jongkok.


"Aku sudah menceritakan tentang hidup ku. Sekarang, apakah kamu mau ceritakan kenapa malam itu kamu bisa tertabrak?"


Julie reflek berdiri. Dia tidak menyangka Tim akan bertanya seperti itu. Julie harus segera pergi karena dia merasa Tim tidak perlu mengetahui lebih banyak tentang dirinya.


Melihat reaksi Julie yang kurang nyaman, Tim mengurungkan niatnya untuk mencari tau tentang kehidupan Julie.


"Maaf, lebih baik kita cari pembicaraan yang lain."


"Bagaimana luka mu?" Tim teringat tentang keadaan Julie. Dia tadi sengaja menghampiri Adel karena Julie tampak kesakitan.


"Terkadang masih sakit." Julie memegang bagian dada bekas operasinya.


"Apakah kamu sudah pergi ke Dokter Agung?" Tim berjalan untuk berdiri di dekat Julie.


"Aku akan antar kamu untuk pergi ke sana setelah pulang kerja."


"Tidak perlu, Tim." tolak Julie secara halus. Dia memang lebih nyaman dengan Tim, tapi dia tidak mau merepotkan pria itu.


"Kalian masih di sini?" William masuk ke ruangan Timothy tanpa mengetuk pintu lebih dulu. Dia segera mengambil tempat di tengah Tim dan Julie.


"Apa kalian saling kenal?"


"Ya, kami bertemu di America." Tim kembali ke tempat duduknya. Dia mencoba berputar dengan kursinya yang nyaman.

__ADS_1


"Kamu dari America?" tanya William dengan wajah terkejut. Logat Julie memang sedikit berbeda, tapi dia tidak menyangka jika Julie berasal dari America.


"Keluarga saya tinggal di sana." "Baik, kalau tidak ada yang dibicarakan lagi, saya permisi." pamit Julie. Dia tidak ingin 2 pria itu bertanya lebih lanjut dan mengharuskan dia mengatakan semuanya.


"Dia pacarmu?" William menjatuhkan dirinya di sofa.


"Bukan. Dia teman ku." Tim menghentikan pandangannya pada William. Pria itu selalu memandang ke arah Julie. Sudah dapat dipastikan William tertarik dengan Julie.


"Kalau begitu kamu bisa bantu aku dapatkan dia. Sepertinya dia dekat dengan mu."


Tim memicingkan matanya. "Dari mana kamu bisa dapat kesimpulan itu?"


"Apa sih yang ga gue tau, Tim. Lo mau kerja di sini, karena dia ada dia kan?" ucap nya sambil tertawa puas.


Tim tidak bergeming. Dia masih memperhatikan gerak gerik William. Sudah dapat dipastikan 100% William suka pada Julie.


"Bagaimana kalau nanti malam kita makan bersama Julie untuk rayakan ini?" saran William dengan semangat.


"Aku tidak bisa janji, Will."


"Come on bro..masa kamu ga mau bantu sih?"


rayu William lagi.


"Oke, baiklah." akhirnya Tim menyerah. Dia sedikit menyesali keputusannya untuk bekerja di sini karena ternyata dia harus bertindak sebagai Mak comblang sahabatnya itu.

__ADS_1


Apakah Julie juga tertarik dengan William?


__ADS_2