
Julie merasakan tatapan tajam dari Emily. Tapi, dia sekarang tidak takut pada Emily lagi, karena nama baik Julie di kantor ini sudah rusak. Sekarang, bukan hanya Emily saja yang tidak suka pada Julie, tapi hampir seluruh karyawan wanita di kantor menghujatnya. Hanya Adel seorang yang masih menjadi sahabat Julie. Dan Julie tidak mempermasalahkan itu, karena Julie memang tidak membutuhkan banyak sahabat.
"Hey, nenek lampir. Nanti mata mu copot kalau melihat Julie seperti itu." sindir Adel.
"Diem aja lo, Del."
"Lo pasti bete karena lo ga populer lagi." Adel sengaja membuat Emily kesal dengan memanas-manasi nya.
Cara Adel cukup berhasil. Emily yang baru saja duduk selama 5 menit, akhirnya keluar lagi dengan kesal.
"Mudah sekali mengusir nenek lampir itu." Adel berkata pada Julie yang masih sibuk dengan kerjaannya.
Julie lebih memilih tersenyum. Dia tidak ingin banyak bicara ketika ada banyak orang di sini.
Ponsel Julie berdering menandakan pesan masuk.
Jul, nanti pulang kerja, apakah kita bisa makan malam bersama?
Ternyata pesan dari William.
"Sepertinya, William benar-benar menyukai mu." Adel yang mengintip dari kursinya ikut berkomentar ketika melihat William mengajak makan malam Julie.
"Memangnya kalau mengajak makan itu artinya dia tertarik?" sanggah Julie.
"Julie sayaaaang.. Ya jelas saja lah..kecuali makan-makannya satu RT." canda Adel sambil tertawa geli. Julie begitu polos dan sungguh tidak peka pada kode para pria.
__ADS_1
"Berarti, Niko suka sama kamu dong. Soalnya dia sering ajak kamu makan."
Adel berhenti tertawa. "Itu pengecualian, Jul. Kami itu teman."
"Sudahlah, jadi gimana pendapat mu tentang William?" Adel mengubah topik yang lebih menarik.
Julie mengetukkan pulpen di mejanya. William bukan orang yang jahat. Dia sudah mau memperkerjakan Julie tanpa ijazah, dan William orang yang berwawasan luas. "Ya, dia cukup menarik."
"Nah, sikat saja kalau begitu."
"Apanya yang di sikat?" tanya Julie bingung.
"Gigi nya."
"Jadi, aku harus sikat gigi nya setelah makan bersama?"
Julie mengangguk tanda mengerti. Dia tidak berniat sejauh itu dengan William. Tapi, apa salahnya untuk mencoba berteman dengan William seperti dia berteman dengan Tim?
"Guys.... kita akan pergi ke koreeeaaa.." teriak Anton dengan suara stereonya. "Cepet liat grup."
Semua mengecek ponsel masing-masing. Benar kata Beni, William dan Tim mengadakan acara gathering di Korea untuk seluruh karyawan selama 3 hari 2 malam.
"Jul, kita ke koreaaa." Adel memeluk Julie sambil berteriak kegirangan.
"Del,, pelan-pelan.. sakit nih.." Julie merasakan rasa sakit pada dadanya tiap kali Adel mengguncangkan tubuh nya dengan keras.
__ADS_1
"Sorry,, habis gue seneng bgt si.."
"Ya,,pasti menyenangkan ya?" Julie hanya bisa berkomentar itu saja. Julie sudah tidak asing dengan Korea. Yang membuat dia canggung adalah pergi ramai-ramai dengan rekan kantornya. Ini pasti melelahkan dan banyak drama.
"Aku ke toilet sebentar." Julie mendorong kursinya, dan beranjak keluar dari ruangan.
"BRUK" Julie menabrak seseorang di koridor.
"Sorry.. sorry.." Julie mendongak ke atas, melihat siapa orang yang ditabraknya. "Will.." ternyata orang di tabrak Julie adalah William.
"Kenapa kamu ga balas wa ku?"
"Oh iya, aku lupa. Sorry.. aku balas dulu, sebentar." Julie mengetikkan balasan untuk William. "Sudah..Oke, aku mau ke toilet dulu.."
William memandang punggung Julie yang makin menjauh. Aneh sekali wanita itu. Jelas-jelas dia ada di depannya, kenapa dia masih menggunakan chat dan tidak langsung bicara saja?
"Jangan salah masuk toilet lagi, Jul." teriak William.
Dia lalu membuka ponsel untuk mengecek jawaban Julie.
Oke.
Jawaban yang singkat, padat dan jelas. William menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Pasti akan sangat sulit menaklukan wanita itu.
'BRUK' ketika berbalik, William menabrak lagi seseorang. Sial sekali dia hari ini. Kali ini yang menabraknya adalah seorang pria berkacamata hitam yang menggunakan kaos polo hitam juga.
__ADS_1
Pria itu menatap William sesaat, tapi kemudian pergi ke arah yang sama dengan Julie.
"Sepertinya aku tidak punya karyawan seperti dia." ucap William sembari mengingat sosok pria dengan hidung mancung itu.