Be Honest

Be Honest
Telepon asing


__ADS_3

Mendekati acara gathering, Anak-anak kantor Xpose begitu heboh. Mereka sudah menyiapkan OOTD terbaik mereka dan memamerkan pada yang lain di kantor. Raisa dan Adel termasuk 2 dari banyaknya orang-orang yang heboh. Setiap hari ada saja kurir mengantarkan pesanan mereka. Yang tidak tertarik dan biasa saja di sini hanya Julie dan Emily.


"Jul, kamu tidak beli baju baru?" tanya Adel yang sedang unboxing pesanannya.


"Pakai saja yang ada, Del." sahut Julie tanpa mengalihkan pandangan dari ponsel.


"Kenapa sih lo dari tadi liat ponsel terus."


"Eh, ini.. gak apa sih.." Julie meletakkan ponselnya di meja. Dia sebenarnya sedang mengirim pesan untuk William. Ya, Julie dan William sepakat untuk merahasiakan hubungan mereka saat di kantor. Dia takut akan jadi bahan gunjingan orang-orang lagi.


"Jul... Kamu di panggil Pak William." kata Beni yang baru masuk ke dalam ruangan.


Julie dengan bersemangat berdiri, lalu buru-buru pergi.


"Ada hubungan apa dia dengan William?" bisik Raisa pada Emily yang sibuk memainkan kukunya.


"Kamu seperti ga tau aja." jawab Emily jutek. Dia sudah bisa memastikan 100% jika Julie sudah jadian dengan Willy.


"Apa sih? Aku ga ngerti. Tolong bicara yang jelas." protes Raisa.

__ADS_1


"Haduh, oon banget sih lo. Dia pacaran dengan William." tanpa sadar Emily berteriak sehingga yang lain menengok ke arah Emily.


"Serius? Kok lo biasa aja sih?" tanya Raisa curiga.


"Gue udah punya gebetan baru.." Emily tersenyum manis.


Raisa hanya menganggukkan kepala karena Emily begitu luar biasa. Dia bisa mendapat predikat move on tercepat sekantor ini. Yah, kalau orang cantik mah bebas. Mereka bisa dapat gebetan baru dengan mudah, bahkan sampai antri.


*


*


*


"I miss you baby.." bisik Willy pada telinga Julie.


"Ya ampun, baru saja tadi pagi ketemu." Julie menyingkirkan kepala William yang hampir mencium pipinya.


Ya, Julie masih menjaga jarak dengan Willy. Dia tidak suka kalau Willy terlalu mesra seperti saat ini. Kalau sekedar memeluk, Julie masih bisa menerima, tapi kalau mencium, Julie tidak mengijinkan pria itu. Bagaimanapun juga, Julie masih seorang Ana Wilson yang adalah keturunan terpandang dan baik-baik.

__ADS_1


"Will.. semua orang akan tau jika kamu terus memanggil ku seperti ini." komplain Julie.


"Ya, kita bukan anak SMA lagi yang harus backstreet kan, sayang? Biar saja mereka tau."


"Jadi, kamu memanggil aku cuma karena kangen aja nih?" tanya Julie yang kini sudah memandang Willy dengan intens.


"Iya,,tentu saja, Jul.. atau aku perlu jadikan kamu sekretaris saja?"


"Will.. kamu jangan suka berlebihan." Julie mencubit pinggang pacarnya dengan cukup kuat membuat Willy berteriak kesakitan.


Ponsel William berdering mengalihkan perhatian mereka. Julie menengok ke ponsel yang tergeletak di meja. Nomer asing. Tapi itu bukan kode nomer telepon di Indonesia.


"Halo,," William menjawab. Tidak ada suara. "Halo, can i help You?" "Halo.."


"Siapa, Will?" tanya Julie penasaran. Julie tau, nomer itu adalah nomer dari America.


"Entah lah.. Sejak kemarin dia terus menelepon, tapi tidak ada suara." Willy meletakkan ponselnya kembali. Dia duduk di pinggir meja sambil bersedekap. Sudah beberapa hari sejak jadian dengan Julie, Willy selalu mendapatkan teror. Bukan hanya ban mobil saja yang bocor, tapi Willy juga di teror melalui telepon seperti ini dan juga ancaman lewat surat yang di kirimkan ke apartemennya.


"Apa akhir-akhir ini kamu di ikuti oleh orang, Will?"

__ADS_1


"Enggak, Jul. Kamu tidak perlu pikirkan ini. Kamu pikirkan liburan kita saja besok."


Julie mengangguk. Dia berharap jika yang menelepon Willy itu hanya orang iseng saja, dan bukan salah satu keluarganya. Bagaimana jika keluarganya tau jika dirinya masih hidup?


__ADS_2