
"Pemeriksaan Ana sudah keluar dan Ana dinyatakan mengidap leukimia stadium akhir."
"Dokter.." suara Ana yang terdengar lemah itu mengejutkan dokter yang sedang menelepon Romano.
Dokter itu berbalik, lalu dia memasukan kembali ponselnya ke dalam saku.
"Apakah anda mendengar apa yang saya katakan, Nona?" tanya Dokter itu gugup. Dia sebenarnya tidak ingin langsung mengatakan pada Ana tentang penyakitnya. Ana pasti akan shock dan itu bisa membuat kondisinya semakin drop.
"Leukimia stadium akhir?" Ana mengulangi apa yang dia dengar.
Dokter itu menghela nafas panjang. "Maaf, nona. Aku harus memberitahu ini padamu." "Saya juga menyesal dengan apa yang terjadi dengan anda."
"Apakah bisa sembuh?" tanya Ana dengan pandangan nanar.
Dokter paruh baya itu menggeleng lemah.
Ana memejamkan matanya dan tentu saja kali ini air matanya sudah mengalir deras. Dia merasakan hatinya hancur berkeping-keping. Rasanya bahkan lebih sakit daripada ketika dia mengetahui William selingkuh, atau Tim menampakkan nya.
"Berapa lama lagi?" tanya Ana setelah dia mengambil nafas panjang.
"Nona.. anda sebaiknya beristirahat. Kita akan bicara lagi setelah Anda lebih stabil." Saran dokter yang menangani Ana.
"Dokter, saya lebih suka jika anda berkata jujur daripada anda memberikan saya kebohongan."
"Paling lama 6 bulan lagi."
__ADS_1
"Baik, terimakasih." Ana memberi kode supaya dokter itu meninggalkannya sendiri.
Ana mengubah posisi tidurnya untuk menatap ke arah luar jendela. Dia menyaksikan langit yang perlahan mulai berubah menjadi gelap. Ana merasakan hatinya seperti langit di luar. Gelap dan suram.
"Kupu-kupu itu kembali ke tempatnya." sebuah suara yang tidak asing membuat Ana terperangah. Tapi, Ana tidak berbalik karena dia tidak ingin melihat orang yang berada di kamarnya itu.
"Ana Wilson, aku sudah terbang sejauh 7000km untuk mencari kupu-kupu cantik itu."
Timothy mendekat. Ini ketiga kalinya Tim masuk ke dalam ruangan Ana yang di jaga ketat oleh pengawal. Dia menyamar sebagai perawat untuk dapat melihat kekasihnya itu. Tapi, Ana belum sadar juga, membuat Tim berulang kali harus menengoknya.
"Julie.. aku bersyukur karena bisa bertemu denganmu."
Ana berbalik setelah menghapus air matanya. Dia dapat melihat Tim yang berdiri di dekatnya dengan wajah panik.
Tim mencium tangan Ana yang tidak di pasangi selang infus. Dia juga memeluk Ana yang masih terbaring lemah.
Setelah cukup lama berpelukan, Ana mencoba bangun. Tim memegangi Ana supaya Ana tidak limbung. Mereka saling menatap dengan intens. Baik Ana maupun Tim tidak ingin mengatakan apapun. Mereka hanya menyalurkan perasaan rindu lewat tatapan mata mereka. Dan entah siapa yang memulai, kini mereka saling berciuman dengan mesra.
"Kenapa kamu pergi, Jul?" tanya Tim setelah mereka selesai berciuman.
Ana kembali pada kesadarannya. "Karena aku akan menikah dengan Romano." jawab Ana datar.
"Apa kamu dipaksa oleh Mom mu?" ucap Tim dengan nada yang cukup tinggi. Dia tidak terima dengan keadaan ini.
Ana menggeleng. "Aku ingin menikah dengan Romano, jadi aku memutuskan pergi."
__ADS_1
"Kamu jangan bohong, Julie." Tim menaikan dagu Ana, supaya menatapnya.
"Ada apa ini?" Ny.Wilson tiba-tiba masuk. Dia terkejut karena ada seorang pria yang masuk ke dalam kamar Ana, padahal di depan ada beberapa pengawal.
Tim melepaskan Ana. Dia berdiri dan menghadap Ny.Wilson. Ibu Ana itu tampak memandang Tim dengan sinis. Tapi Tim tidak peduli lagi dengan kasta. Dia tetap akan bicara pada Ny.Wilson tentang niatannya untuk menikah dengan Julie.
"Saya Timothy Gunawan, orang yang menyelamatkan putri anda." Tim mengulurkan tangan dengan sopan.
Ny.Wilson hanya melirik ke arah tangan Timothy tanpa berniat membalas uluran tangannya.
"Apakah dia mengganggumu, Ana?" tanya Ny.Wilson kepada Ana yang sedang menangis.
"Ya, Mom. Aku tidak ingin melihatnya lagi."
Tim menengok pada Ana dengan tatapan terkejut. Kenapa Ana bisa bicara seperti itu?
Ny.Wilson keluar dan memanggil anak buahnya. 2 Anak buahnya datang dan langsung menyergap Tim untuk menyeretnya keluar.
"Julie.. aku akan tetap menemui mu meskipun kamu tidak suka." teriak Tim.
"Jika dia melawan dan ingin masuk, beri saja dia pelajaran." ucap Nyonya Wilson sebelum menutup pintu ruangan.
Ana menangis sesenggukan setelah Tim dibawa pergi. Tapi dia masih bisa mendengar teriakan Tim dari luar. Entah apa yang dilakukan anak buah Mom nya pada Tim.
"Bagaimana, Ana? Bukankah tidak masalah jika, berbohong demi kebaikan?" Nyonya Wilson memberikan tisu pada putrinya.
__ADS_1
Dia tau Ana sedang berbohong jika dia bilang tidak ingin menemui Tim. Jelas sekali Ana sangat mencintai pria itu. Seorang Ana bahkan bisa berbohong hanya untuk menjaga perasaan Tim, supaya pria itu tidak mengejarnya lagi.
Ya, tadi Ny.Wilson sudah bicara pada Dokter yang menangani Ana dan dia sudah tau umur Ana tidak akan lama lagi.