
Tim dan Julie sudah naik ke pesawat. Julie menggunakan jaket tebal, topi dan syal untuk menutupi wajahnya. Dia harus menghadapi kemungkinan jika keluarganya mengerahkan para pengawal untuk mengawasi mereka.
Tim tidak melepas tangan Julie walau hanya sedetik. Dia jadi lebih sedikit protektif pada Julie karena yang dia hadapi adalah keluarga yang punya pengaruh besar hampir di seluruh benua.
Hari ini mereka akan pergi ke Paris. Mereka sudah memantapkan hati untuk segera menikah di sana sesuai keinginan Julie.
Tim akan menerima segala resiko meskipun dia harus menjadi buronan seumur hidup seperti sekarang. Julie pun sudah setuju jika dia harus hidup sederhana bersama dengan Tim.
"Apa kamu lapar, Jul?" tanya Tim sembari membenarkan syal Julie.
"Sedikit."
"Aku membawa Coklat kesukaanmu." Tim mengeluarkan coklat dari sakunya.
"Tiiiim.. kapan kamu membeli ini?" Julie menerima coklat dari Tim dengan kegirangan.
"Calon suami mu ini luar biasa bukan?" kata Tim membanggakan dirinya sendiri.
"Ya, kamu adalah laki-laki luar biasa yang mau menerima orang seperti aku." jawab Julie yang kini tengah memakan coklat dari Tim.
__ADS_1
"Terbalik, Jul." "Aku yang hanya sebutir debu di mata keluargamu."
"Hahaha.. Timothy.. semua orang itu takut mendekati ku. Cuma kamu yang berani membawaku kabur."
"Bagaimana dengan Romano? Dia sangat bersemangat untuk menikah denganmu." sindir Tim. Pria itu mengikuti Julie kemanapun dan berusaha memisahkan Julie dari William. Dia juga berniat membawa Julie kembali ke rumahnya.
"Apa kamu sedang cemburu, Tim?" Julie melirik ke arah Tim.
"Cemburu? Apakah memang itu begitu terlihat?"
Julie mengangguk. Tim terlihat kesal sekarang. Tapi, Julie senang jika Tim cemburu. Itu artinya Tim memang mencintai Julie.
"Romano dan aku hanyalah sebatas teman. Aku tidak punya perasaan dengannya dan dia pun sepertinya begitu." jelas Julie.
"Sakit, Tim." Julie menggosok hidungnya. "Apakah mulutku belepotan?" tanya Julie yang sudah menghabiskan satu batang coklat sendirian.
"Biar aku bersihkan." Tim tersenyum licik. Dia mendekatkan wajahnya pada Julie, lalu membersihkan coklat yang menempel di sudut bibir Julie dengan mulutnya.
"Tiiiim..." protes Julie setelah Tim melepaskan ciumannya. "Malu kan diliatin orang-orang." Julie memukul pelan dada bidang Tim.
__ADS_1
"Kita masih berpakaian, kenapa harus malu?" goda Tim.
"Ish.. sudahlah. Jangan berpikiran mesum." omel Julie. Dia menaikan sedikit syal nya menutupi mulutnya. Julie harus menghindari dari serangan-serangan Tim berikutnya, karena biasanya Tim akan ketagihan ketika sudah mencium Julie.
"Kamu tidur saja, sayang.. nanti aku akan bangunkan jika kita sudah sampai." Tim menyenderkan kepala Julie pada bahunya.
Julie memposisikan dirinya dengan nyaman. Tim memang selalu mengerti Julie. Sejak awal, Tim mau memahami keadaan Julie dan tidak meninggalkannya. Tim juga yang membantu Julie mendapatkan kebebasan. Sekarang, Tim berani untuk menikahi Julie dengan segala resiko yang akan mereka dapatkan.
Sementara itu, Tim memandang Julie yang sudah, tertidur pada bahunya. Julie terlihat begitu lelah. Dia juga semakin kurus sekarang. Padahal, Julie makan cukup banyak. Tim membenarkan rambut Julie yang jatuh menutupi wajahnya.
"Juliana, kita akan segera hidup bersama sebentar lagi..Aku tidak sabar untuk bisa membentuk keluarga kecil yang bahagia." ucap Tim lirih.
Ya, Tim sudah berimajinasi tentang kehidupannya bersama dengan Julie. Dia ingin tinggal di pinggir pantai, mempunyai 2 orang anak yang lucu dan juga memberikan kasih sayang penuh pada anak mereka. Semua hal itu tidak Tim dapatkan dari orang tuanya, jadi Tim berharap dia akan memberikan kehidupan yang terbaik untuk anak mereka kelak.
*
*
*
__ADS_1
Maaf jika author lama update.. author juga menulis cerita yang lain, jadi harap di maklumi yaa.. 🤠sambil menunggu, boleh juga lho baca karya yang lainnya... Makasi ya all.. 🤗