
Malam ini Julie sudah menyelesaikan packingnya. Semua baju di koper sudah tertata rapi di lemari. Tim punya selera yang baik dalam memilih pakaian. Dia juga memberikan beberapa outfit kerja dan piyama yang pas di badannya, sehingga Julie tidak perlu membeli pakaian lagi.
Julie juga sudah belajar mata uang Indonesia dan dia sangat kesal karena sopir taksi itu menipunya. Pantas saja sopir itu tidak protes karena Julie memberikan ongkos 15x lipat dari jumlah seharusnya.
'Tok.. tok..'
"Jul, kamu sudah tidur?" panggil Adel dari luar.
"Masuk saja, tidak dikunci."
Adel masuk dengan membawa sebuah amplop coklat di tangannya. Dia menyodorkan itu pada Julie.
"Jumlah nya 8,5 juta. Jangan tertipu lagi." ucap Adel dengan sedikit memberikan nada peringatan.
"Thank you, Del.." Julie memasukan uangnya ke laci.
"Kamu sudah makan?"
"Emmm.. belum.." Julie bahkan belum menyentuh makanan apapun sejak sampai di Indonesia.
"Makan, yuk.." Adel menarik tangan Julie membuat wanita itu hampir saja tersandung karena terkena kaki kursi.
"Aku belum ganti baju, Del." kata Julie panik. Dia masih menggunakan sandal jepit dan piyama warna pink.
"Sudah lah, Jul..deket kok.. di depan jalan."
Adel membawa Julie ke seberang kost, di mana terdapat berejejer gerobak penjual makanan.
Julie membaca satu persatu spanduk yang di taruh di depan gerobak mereka.
"Soto, mie ayam, pecel lele,, nasi goreng.. kamu mau makan apa, Jul?"
"Apa kamu yakin ini bisa dimakan?" tanya Julie sedikit ragu. Dia tidak pernah makan di pinggir jalan. Jika harus makan di luar, Julie akan pergi ke restoran di hotel bintang 5 atau cafe yang memang chef nya sudah dia kenal.
"Sudahlah nona, ini bukan America. Kamu harus terbiasa makan di sini." Adel tampak tidak mempedulikan Julie dan langsung memilih makan di warung nasi goreng.
"Pak Ipul, biasa ya, nasi goreng spesial 2.." teriak Adel sambil mengacungkan 2 jari nya.
__ADS_1
"Siap laksanakan." "Tumben ajak temen nih." Pak Ipul memandang Julie, lalu tersenyum ramah padanya.
"Iya, anak baru.. Cepat pak, kami lapar."
Mereka duduk di meja kecil dengan 4 bangku. Untung saja warung nasi goreng Pak Ipul belum banyak pengunjung, jadi mereka tidak perlu berdesakan.
"Kamu sering makan disini?" tanya Julie yang masih heran dengan tempat makan tenda yang sangat sederhana ini.
"Iya dong.. kamu bisa makan nasi kan?" Adel lupa kalau Julie orang bule.
"Bisa aja sih." Julie menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Dia bukan mempermasalahkan nasinya, tapi kebersihan dari tempat makan ini.
Tidak lama, 2 piring nasi goreng sudah tersaji di hadapan mereka. Julie cukup terkejut karena bau nasi goreng itu begitu enak dan membuat perutnya yang sudah lapar berbunyi cukup keras.
"Yuk makan." Adel memberikan sendok dan garpu pada Julie.
Julie melupakan pikiran-pikiran yang mengganggu nya tadi. Dia sudah tidak peduli lagi apakah makan itu bersih atau tidak. Yang penting sekarang adalah mengisi perut supaya cacing-cacing di dalam tidak protes.
"Pelan-pelan, Jul." Adel geleng-geleng kepala karena ternyata Julie makan begitu lahap. Padahal nasi goreng nya masih panas.
"Memang di America kamu makan apa aja?" tanya Adel penasaran. Baru kali ini dia bertemu dengan orang seaneh Julie.
"Aku biasa makan steak, caviar, escargot, tuna.." Julie menyebutkan beberapa jenis makanan kesukaannya.
Adel tersedak. Dia menepuk-nepuk dadanya sendiri sambil mengambil minum di sebelahnya.
"Are you okay Del?"
"Udah tau lagi begini, di bilang baik-baik saja." protes Adel setelah batuk nya berhenti.
"Sorry.."
"Kamu itu keturunan Sultan ya?" tanya Adel yang makin penasaran dengan Julie.
"Tentu saja bukan.." sangkal Julie. Dia pikir maksud Adel adalah Sultan atau raja. Sedangkan dia memang bukan anak Raja, hanya anak pedagang yang kaya raya saja.
"Oh iya, soal kerjaan bagaimana?" Adel bertanya lagi karena teringat akan nasib Julie.
__ADS_1
"Entah lah.. apa kamu ada informasi?" Julie menghentikan makannya karena piringnya sudah kosong.
"Hmm.. iya.." "Aku bisa tanya bos ku kalau memang kamu mau."
"Serius?" Julie menggenggam erat tangan Adel karena dia begitu baik padanya.
"Ya.. besok ikut aku ya.. jam 7 pagi."
"Haaaaai Del.. kok ga ajak gue sih?" seorang pria tiba-tiba datang lalu merangkul pundak Adel.
"Apaan sih, Nik." Adel menampol pria itu cukup keras.
Pria itu berteriak kesakitan, tapi didetik berikutnya mata nya bertemu dengan mata Julie yang begitu cantik.
"Ini siapa? anak baru?"
"Kenalin, ini Julie." "Julie, ini Niko.. anak kost sebelah." Adel memperkenalkan nama dan posisi masing-masing.
Julie hanya mengangguk dan tersenyum kecil ketika Niko mengulurkan tangannya. Julie sedikit menjaga jarak dengan pria karena sejak di America pun keluarganya tidak mengijinkan dia untuk berkenalan dengan pria asing. Hanya Tim satu-satu nya pria asing yang dapat mendekati Julie.
"Julie ini pemalu. Lo jangan macem-macem sama dia." bisik Adel.
"Kita balik sekarang?" Julie yang tidak nyaman akan kehadiran Niko segera mengajak Adel untuk pergi.
"Bye, Nik.. Lo sekalian bayarin makanan kita berdua ya?" Adel menepuk pundak Niko, sambil buru-buru pergi dari sana.
"Kita belum bayar lho Del." Julie khawatir karena Adel pergi begitu saja. Dia masih menatap ke belakang, takut jika pria itu mengejar mereka.
"Tidak apa-apa,, dia manager di kantor. Uangnya pasti banyak." Adel tetap membawa Julie pulang ke kost an.
"Jangan lupa Jul, jam 7." ingat Adel setelah mereka sampai di dalam kost. "Kamar ku di lantai 2 paling pojok. Kalau ada apa-apa, ketuk saja ya.."
"Thank you so much Del,, kamu teman terbaik yang pernah aku temui." Julie memeluk Adel dengan erat.
"Woy, lebay banget lo, Jul. Santai lah.."
Julie mengurai pelukannya. Dia begitu senang hari ini karena berkat Adel, dia bisa merasakan makan di pinggir jalan dan juga mendapatkan pekerjaan.
__ADS_1