Be Honest

Be Honest
Menjadi rebutan


__ADS_3

"Thank's Tim." Julie tersenyum pada Tim yang basah kuyub. Tim terjatuh ke air tadi sewaktu Julie mendorongnya.


"Okay, Jul. Hubungi aku kalau ada apa-apa."


Tim melayangkan senyuman nya yang sangat manly. Julie hanya mengangguk pelan. Dia melambaikan tangan pada Tim dan menunggu nya sampai pria itu pergi.


"Jul.." panggil Adel yang sejak tadi menunggu Julie di depan kost.


Julie melirik sesaat, lalu dia pergi mengabaikan Adel.


Melihat Julie yang masih kesal dengannya, Adel segera berlari mendahului Julie. Dia tidak ingin masalahnya dengan Julie berlarut. Adel sudah bertekad untuk bicara pada Julie meskipun wanita itu akan marah dan berteriak.


"Jul, aku minta maaf.. percaya lah kalau bukan aku yang menyebarkannya." Adel meraih tangan Julie, tapi dia melengos.


"Jul, aku sungguh tidak ingin hubungan kita seperti ini." rengek Adel sedikit memelas.


"Del.." Tiba-tiba Julie memeluk Adel. Dia juga sebenarnya tidak tahan untuk berlama-lama marahan dengan Adel. Hanya Adel satu-satunya teman Julie di kantor. Jika tidak ada Adel, maka Julie tidak akan bertahan sejauh ini.


"Maafin aku juga Del.." ucap nya lirih.


"Kamu ke mana? kenapa bau ikan asin?" Adel melepaskan pelukan Julie setelah sadar ada bau menyengat dari badan Julie.


"Aku ke pantai bersama Tim." aku Julie.


"Ya ampuuun... keren banget sih lo, Jul. Jadi rebutan bos-bos." Adel mengacungkan dua jempol pada Julie.


'Ya, termasuk Niko.' ucap Julie dalam hati.


"Del, apa kamu sudah makan?" Julie mengubah topik pembicaraan sebelum Adel melantur ke mana-mana.


"Belom.. aku menunggu kamu pulang."


"Aku akan traktir kamu di restoran. Bagaimana?"


"Setujuuu.." teriak Adel senang.

__ADS_1


Kedua wanita yang baru saja berbaikan itu akhirnya pergi lagi menggunakan motor Adel. Mereka pergi menuju sebuah restoran italia yang terkenal di kota itu.


*


*


*


Adel merasa canggung berada di antara orang-orang berkelas yang sedang makan di restoran. Tapi Julie tetap percaya diri dan dengan santai nya dia memesan makanan yang dia suka.


"Jul.. Uang mu bisa habis kalau kita makan di sini." bisik Adel.


"Sudah, tidak apa-apa Del. Anggap saja ini sebagai ucapan terimakasih untuk mu." Julie tersenyum lebar pada Adel. Ya, Julie mengajak Adel makan di restoran mewah seperti ini bukan tanpa alasan. Dia baru saja menemukan kartu ATM miliknya di dalam tas yang dia bawa saat melarikan diri. Saldo di dalam kartu ATM Julie bahkan bisa digunakan untuk mentraktir Adel di sini selama 10 tahun.


Julie mengangkat tangan pada salah seorang pelayan untuk mengambil pesanan mereka.


"Jam tangan anda bagus sekali." Seorang tamu yang baru saja datang menghampiri Julie dan memegang tangannya.


Julie segera menarik tangannya dari orang asing itu karena dia tidak suka orang lain menyentuhnya apalagi melihat jam tangan miliknya yang memang mahal.


"Itu limited edition dan cuma ada 5 di dunia." terang orang paruh baya itu.


"Oh, maaf, saya kira itu asli. Kalau memang itu asli, anda benar-benar milyuner."


Orang itu berlalu dari Julie. Julie bernafas lega karena orang itu tidak memperpanjang masalah lagi. Tentu saja akan sangat rumit jika Julie mengatakan itu asli.


"Memang berapa harga yang asli nya, Jul?" tanya Adel penasaran.


"20 Miliar, Del." bisik Julie.


"Astaga.. aku rasa yang beli itu sudah tidak waras."


Mendengar hujatan dari Adel, Julie malah tertawa cekikikan. Dia salah satu orang tidak waras yang Adel maksud.


Tidak lama makanan mereka datang. Julie begitu sumringah melihat berbagai hidangan mewah yang begitu dia rindukan.

__ADS_1


"Jul, kamu gila ya.. ini bisa habis jutaan." Adel menggeleng-gelengkan kepala keheranan.


"Makan saja, Del. Jangan khawatir.. aku masih punya tabungan di ATM." kata Julie dengan jujur.


"Makasi yaa Jul.. kamu memang yang terbaik." "Kita foto dulu." Adel mulai mengeluarkan handphone untuk mengambil gambar makanan dan juga foto selfie mereka.


Setelah 15 menit berpose, Julie dan Adel mulai menikmati makanan yang sudah terhidang membuat meja penuh. Adel sangat suka dengan pilihan Julie. Tentu saja ada rupa ada harga.


"Ini enak banget, Jul. Kamu pinter banget pilih makanan." Adel makan dengan berisik.


Seperti biasa, Julie hanya tersenyum. Dia tidak menanggapi Adel supaya Adel melanjutkan makan tanpa banyak bicara.


*


*


*


Kedua wanita itu sudah selesai makan. Julie kembali mengangkat tangannya, untuk meminta bill pesanan mereka.


"Nona, makanan ini sudah dibayarkan." pelayan yang datang menolak kartu yang diberikan oleh Julie.


"Dibayar oleh siapa?" tanya Julie kebingungan.


"Itu.." pelayan tadi menengok ke belakang, tapi tidak ada siapapun di sana. "Tadi, Tuan itu di sana."


Julie mengarahkan pandangannya ke seluruh sudut restoran. Perasaannya mendadak tidak enak.


"Apa anda tau ciri-cirinya?"


"Emm.. dia menggunakan kemeja putih dan jas hitam. Rambutnya di spike, tingginya sekitar 180cm..tapi wajahnya saya tidak tau karena dia menggunakan masker." Pelayan di samping Julie mencoba mengingat orang yang membayar makanan Julie.


"Apa itu William, Jul?" seru Adel terkejut. Ciri-ciri yang di sebutkan pelayan itu mirip sekali dengan William.


Julie memutar bola matanya. William? Apakah mungkin bos nya yang membayar? Tapi, kenapa William ada di sini? Apakah William mengikuti Julie? Pertanyaan demi pertanyaan muncul dalam benak Julie.

__ADS_1


"Kalau benar itu William, kamu patut mendapatkan penghargaan, Jul." Adel menepuk pundak Julie.


Julie mengerucutkan bibirnya. Dia sebenarnya tidak ingin menjadi rebutan Tim, William atau Niko. Julie hanya ingin berteman dengan mereka dan tidak punya perasaan pada mereka.


__ADS_2