
"Pagi.." Julie menyapa teman satu ruangan nya dengan ramah seperti biasa. Ya, meskipun Julie kerap di bully, tapi dia berusaha untuk tetap ramah.
Semua diam tidak menjawab Julie. Tidak hanya itu, tapi mereka menatap Julie dengan pandangan sinis dan tidak suka. Tatapan mereka sama seperti tatapan beberapa rekan kerja yang dia temui di bawah tadi.
Julie mengenyahkan pikiran nya. Sebelum duduk, Julie memeriksa kursinya. Setelah memastikan kursinya aman, dia duduk untuk mulai bekerja.
'Ke mana sih si Adel.' batin Julie yang tampak risih dengan pandangan Emily yang duduk di depannya.
"Lo itu bodoh, atau pura-pura bodoh si?" celetuk Raisa yang tidak tahan dengan sikap Julie yang biasa saja.
"Kenapa? Aku gak berbuat salah apapun." jawab Julie dengan lantang.
"Ga salah gimana? Lo ga liat grup?" balas Raisa dengan tidak kalah keras.
"Berisik amat sih cewe-cewe." komentar Beni yang kesal karena pagi-pagi mereka sudah mengganggu kerjanya.
Julie membuka ponselnya. Lagi-lagi dia tidak tau apa yang terjadi di grup. Grup itu begitu berisik, jadi Julie memasang mode silent untuk grup.
Deg.
Julie mencoba mengamati berulang kali gambar yang di posting di grup. Ada fotonya terpampang jelas di sana sedang makan malam bersama dengan Tim dan William.
Bagaimana mungkin mereka bisa mendapatkan foto ini? Tidak Ada yang tau jika Julie pergi bersama dengan bos besar Xpose kecuali Adel.
Julie beralih pada komen-komen kejam yang menyindir bahkan menghinanya dengan perkataan kasar.
Dia begitu licik seperti ular. Bagaimana mungkin dia bisa mendapatkan William dan Tim sekaligus?
Dia seperti wanita murahan. Wajahnya saja kelihatan alim, tapi ternyata bejat juga.
Wah, siapa yang berani mengajak kencan 2 orang sekaligus?
__ADS_1
Ini ga bisa di biarkan.. dia harus mendapatkan pelajaran.
BRAK. Emily menggebrak mejanya. Dia menghampiri Julie, lalu menariknya dengan paksa keluar dari ruangan.
Julie mencoba memberontak, tapi Emily tidak peduli. Dia menarik Julie sampai ke atap gedung.
Tempat itu begitu sepi. Tidak ada orang yang akan tau jika Emily ingin memberi Julie pelajaran.
"Kamu tau kan, William itu siapa?" tanya Emily dengan suara cukup melengking.
"Ya, bos kita."
"Dia itu pacar aku." "Apa kamu gak ngerti?" Emily memegang dagu Julie dengan tangannya.
Ini bukan hal yang baik, karena wajah Julie baru saja dioperasi. Tekanan Emily yang kuat bisa merusak wajahnya.
"Will tidak pernah mengakui kamu sebagai pacarnya." Julie menepis tangan Emily.
"Kamu berani jawab?" kali ini Emily melayangkan tangan nya untuk menampar Julie.
"Kamu bukan anak kecil lagi yang bisa bully orang seperti ini." ucap Julie dengan nada tegas.
"Kamu berani?" Emily begitu terkejut dengan perubahan sikap Julie. Dia pikir Julie akan menangis jika Emily melabraknya. Tapi sebaliknya, Julie malah bersikap seperti orang yang berkuasa.
"Stop." Adel datang dan langsung berdiri di tengah-tengah mereka.
Adel juga tidak datang sendiri. Ada Timothy yang berdiri tidak jauh dari mereka.
"Minggir, lo jangan ikut campur." Emily memarahi Adel karena dia mengganggu percakapannya dengan Julie.
Julie menatap Adel sesaat. Dia tidak bisa menyembunyikan rasa kecewanya pada Adel. Adel pun merasa jika Julie sedang marah pada nya.
__ADS_1
"Kamu tidak usah berlebihan. Saya yang mengajak Julie dan William untuk pergi makan malam." Tim maju dan mendekat ke arah mereka.
"Pak, bapak jangan bela Julie." protes Emily.
"Saya dan Julie itu berteman." Tim memegang pundak Julie, tapi Julie langsung menepisnya.
Dia pergi dari situ sebelum emosinya meledak. Julie tidak tahan melihat ekspresi dari Tim, Emily dan terutama Adel. Dia sudah cukup muak melihat kebusukan-kebusukan orang di sekelilingnya. Keadaan di sini tidak jauh berbeda dengan keadaan dia di America.
*
*
*
Sementara itu, tinggal Emily dan Tim yang masih terdiam. Adel sudah kabur untuk mengejar Julie.
Tim merogoh sakunya dan menunjukan sebuah flashdisk pada Emily.
"Di sini ada bukti siapa yang menyebarkan foto itu." kata Tim dengan sinis.
Emily menelan ludahnya. Dia mencoba merebut flashdisk di tangan Tim, tapi Tim dengan cepat menyembunyikan di balik kepalan tangannya.
"Anda bisa mengelabuhi William, tapi tidak dengan saya."
Pagi tadi, ketika Tim berangkat, dia melihat beberapa karyawan sibuk menatap ponselnya sambil bergosip. Karena curiga, Tim dengan paksa meminjam salah satu ponsel dari resepsionis. Dan dia melihat foto makan malam bersama dengan Julie. Tim juga membaca komentar negatif dari teman-teman Julie.
Segera setelah itu, Tim langsung meretas CCTV di restoran dan dia mendapati jika yang melakukan itu adalah Emily. Jadi, sejak dari kost, Emily sudah mengikuti mobil William.
"Ternyata Bapak jauh lebih pintar daripada dugaan saya." puji Emily. Ini menjadi nilai plus untuk Tim. Jika bisa, Emily akan lebih memilih Tim daripada William.
"Kali ini saya akan maafkan kamu. Tapi, kalau sampai kamu membuntuti kami lagi, saya tidak akan ragu-ragu untuk memecat kamu." jelas Tim sambil memasukan kembali flashdisk nya ke dalam saku.
__ADS_1
"Satu lagi, Sebaiknya, kamu lebih berhati-hati dengan Julie."
Tim tersenyum penuh arti, lalu dia pergi meninggalkan Emily sendirian.