Be Honest

Be Honest
Memikirkan Julie


__ADS_3

"Tim, aku dengar kamu sudah jadi CEO di Expose." Edward bicara dengan nada bahagia. "Akhirnya hidup kamu bisa berguna juga bagi nusa dan bangsa."


"Terima kasih pujiannya." Tim menekan kata pujian karena nada Edward lebih terdengar seperti hinaan. "Kamu menelepon hanya untuk mengatakan itu?"


"No, brother. Aku hanya ingin cerita, jika aku baru saja pergi ke rumah Keluarga Wilson." kali ini nada Edward lebih terdengar serius.


"Apa hubungannya dengan ku?" tanya Tim bingung.


"Ya, memang tidak ada. Hanya saja, aku merasa ada yang aneh dengan cerita mereka."


"Aneh bagaimana?"


"Anak perempuan mereka hilang tepat saat kita menemukan Julie."


Tim terkekeh. Dia bisa menebak apa yang akan dikatakan Edward selanjutnya. Edward pasti mengira jika wanita yang mereka temukan adalah anak dari keluarga Wilson. Dan benar saja, Edward menceritakan persis seperti apa yang Tim pikirkan.


"Hey, dokter.. kamu harus segera bertobat, karena Ayah mu ingin kamu jadi dokter, bukan memikirkan hal seperti ini." saran Tim ketika Edward menyelesaikan ceritanya. Tim merasa passion Edward kini beralih dari seorang dokter menjadi dektektif abal-abal.


"Timothy Gunawan. Aku kirimkan foto nya pada mu. Dia punya mata yang sama persis dengan Julie."


"Tim, makanan nya sudah datang." panggil William dari meja sebelah.


"Okey Ed, kamu kirim saja, nanti aku lihat." Tim buru-buru menutup teleponnya.


Dia kembali pada posisi tempat duduknya semula.


Tim melihat perbedaan Julie yang sekarang jauh lebih nyaman berbicara dengan William. Baru saja 30 menit dia menelepon Edward, Julie sudah tampak dekat dengan pria itu.


"Jadi, kamu sangat tidak suka dengan kecoa?" William menuangkan wine pada gelas Julie dan juga gelas Tim.


"Ya, bahkan memikirkannya pun aku bisa merinding." Julie bergidik ngeri membicarakan binatang yang paling dia benci.

__ADS_1


"Jadi, kalau ada kecoa, kamu bisa panggil aku. Benar kan Tim?"


Tim tersadar. Dia tidak terlalu mendengarkan apa percakapan mereka, karena saat ini Tim sedang melihat sebuah Foto yang dikirimkan oleh Edward.


"Eh, iya.. ayo kita makan saja." Ucap Tim gugup.


Julie langsung mengeksekusi makanan nya. Begitu juga dengan William yang memang sudah lapar sejak tadi.


Sementara itu, Tim masih menatap sekali lagi ponselnya.


'Namanya Ana Wilson. Bagaimana? Mirip kan?'


Edward menyematkan pesan pada foto seorang wanita cantik bermata coklat.


"Tim, are you okay?" Julie memegang lengan Tim.


"Maaf, Edward memang sangat menggangu." Tim menaruh ponselnya di saku celana. Dia tersenyum pada Julie, dan memberi kode supaya Julie melanjutkan makan nya.


"Binatang apa yang paling kamu sukai?" William melanjutkan pembicaraan mereka sambil memotong steak nya.


"Kupu-kupu." jawab Julie setengah berteriak.


"Wah, pas sekali. Mereka sangat cantik seperti kamu." rayu William.


Tim hampir saja tersedak. William sangat tidak cocok dengan gombalan seperti itu. Pandangannya lalu beralih pada Julie. Julie tampak tersenyum mendengarkan pujian dari William.


"Ya, aku suka kupu-kupu karena mereka sebenarnya hewan yang kuat." Julie melirik ke arah Tim.


Pandangan mata mereka bertemu untuk sesaat. Julie segera mengalihkan pandangannya, sedangkan Tim tetap dalam posisinya untuk menelisik Julie. Dia sangat penasaran dan ingin kembali melihat mata coklat Julie. Saat ini Julie menggunakan lens, sehingga sulit bagi Tim untuk membandingkan nya dengan foto Ana Wilson.


*

__ADS_1


*


*


Sepanjang jalan, Tim duduk diam tanpa banyak bicara. Ini jadi kesempatan William untuk dapat mengenal Julie lebih jauh. Mereka membicarakan segala hal seputar kesukaan Julie. Film favoritnya, tempat wisata favoritnya, bahkan warna favoritnya. Ini adalah cara William supaya Julie lebih banyak bicara. Terbukti, caranya ini ampuh.


Julie begitu semangat ketika membicarakan soal film dan aktor kesukaannya.


"Makasih ya, Will." ucap Julie setelah mobil William berhenti di depan pintu kost.


"You're welcome, cantik."


"Tim, aku masuk dulu.," pamit Julie.


"Istirahatlah, Jul. Sampai ketemu besok." Tim keluar dari pintu belakang, karena dia harus pindah ke bangku di depan.


Mereka melambaikan tangan pada Julie yang juga sedang melakukan hal yang sama.


"Thank you, Bro.. Lo datang tepat waktu." William menepuk pundak Tim dengan cukup kuat.


Tim mencibir William. Dia merasa bukan menjadi CEO, tapi seroang budak.


"Oh iya, apakah kamu tidak tertarik dengan Emily?"


tanya William lagi.


"Emily?" Timothy berkenalan dengan banyak orang tadi, jadi dia tidak tau mana orang yang William maksudkan.


"Yang rambut pirang dan seksi."


"Wah, jangan deh Bro..gue ga kuat kalau yang model seperti itu. Berat." canda Tim.

__ADS_1


"Yah, coba dulu deh Tim." bujuk William lagi. Jika Tim menyambut Emily, maka dia bisa terbebas dari obsesi wanita itu.


Tim tidak menjawab. Emily memang cantik dan seksi. Tim juga pernah berkencan dengan beberapa wanita seperti Emily sewaktu di America, tapi sekarang pandangannya berubah. Saat ini, dia hanya berfokus pada satu nama, yaitu Julie. Tim juga memikirkan kemungkinan jika Julie adalah Ana Wilson.


__ADS_2