
Setelah seminggu berada di rumah sakit, Ana meminta untuk pulang ke rumah. Dia ingin beristirahat di rumah karena ranjang rumah sakit sangat tidak nyaman.
Ny.Wilson selalu menemani Ana di rumah sakit. Sejak membantu Ana untuk menjaga dia dari Timothy, hubungan Ibu-Anak ini semakin membaik. Ny.Wilson bahkan sampai kasihan pada Ana yang harus menghadapi penyakit juga hatinya yang pasti sedang kacau. Ya, dengan sangat menyesal, Ny.Wilson harus memberitahu Ana jika Romano tidak akan menikah dengan Ana, karena dia kecelakaan dan mungkin dia sudah meninggal.
"Mom, terimakasih." Ana tersenyum pada Ny.Wilson yang membaringkannya pada ranjang.
"Pria itu masih terus saja mengikuti mu sampai sini." lapor Ny.Wilson sebelum dia pergi.
Ny.Wilson heran, kenapa pria itu begitu keras mengejar Ana. Wajahnya sudah babak belur, tapi dia masih saja nekat dan kembali lagi.
"Mom, jangan sampai dia menemui ku."
"Ana.. Mom minta maaf. Mom terlalu serakah sampai Mom tidak memikirkan mu dan akhirnya kamu jadi seperti ini." ucap Ny.Wilson dengan tulus.
"Tidak apa-apa Mom, lagipula, harta Daddy akan tetap jatuh kepada Mom setelah Ana meninggal." jawab Ana lagi-lagi sambil tersenyum.
Ny.Wilson semakin merasa makin bersalah pada Ana. Tapi, ada perasaan lega ketika dia sudah meminta maaf dan mengatakan yang sebenarnya pada Ana.
"Ana..kamu memang benar. Jika kita mengatakan kejujuran itu akan lebih baik." Ny.Wilson kembali mendekat pada Ana, lalu memeluk putrinya itu.
"Ya mom. Tidak ada yang namanya berbohong demi kebaikan. Sebuah kebohongan akan tetap menyakitkan. Lebih menyakitkan daripada kita berkata kebenaran." ucap Ana penuh arti. Dia menyadari jika kebohongannya pada Tim membuat hatinya begitu tersiksa setiap hari.
__ADS_1
"Mom tidak akan menghalangi Tim lagi. Lakukan apa yang kamu inginkan, Ana."
*
*
*
Ana masih berpikir apa yang akan dia lakukan pada Timothy. Apakah Timothy akan menerima Ana jika dia tau bahwa umurnya tidak sampai 1 tahun lagi? Kondisi Ana juga semakin lemah. Dia semakin sering mimisan dan semakin kurus. Dokter akan tetap memberikan obat yang maksimal, tapi itu tidak akan banyak membantu Ana.
Ana sekarang sudah tidak bisa menangis lagi. Air matanya sudah habis. Dia hanya punya pilihan, akan menghabiskan sisa hidupnya bersama Timothy atau menghabiskan sisa hidupnya sendirian.
Lamunan Ana semua hilang ketika Ana menyadari ponselnya berdering. Ana melihat nomer asing pada ponselnya. Dia berpikir sejenak sebelum memutuskan untuk menerima telepon itu.
"Ya.. anda siapa?"
"Aku Samuel Edward Sebastian, Dokter yang mengoperasi mu."
"Bagaimana Dokter? Kenapa anda menelepon saya?"
"Bagaimana keadaanmu? Aku dengar kamu sedang berada di Amerika?"
__ADS_1
Ana terdiam sesaat. Edward adalah teman Timothy, jadi bukan tidak mungkin dia akan menceritakan penyakitnya pada Timothy. Ana harus berhati-hati supaya Edward tidak mengetahui keadaannya.
"Baik." jawab Ana singkat.
"Syukurlah." "Oh iya, boleh aku minta tolong?" "Timothy sedang sakit sekarang. Dia terus memanggil namamu. Dia juga tidak mau makan atau minum obat. Jadi, aku terpaksa untuk menelepon dan meminta bantuan darimu." jelas Edward dengan suara panik.
"Sakit?" "Dimana dia sekarang?" Ana mulai terdengar panik.
"Dia ada di rumahku. Apa kamu mau bicara padanya?"
"Tidak, Dokter. Tidak usah." ucap Ana buru-buru.
"Ya, aku harap kamu bisa menengoknya ke sini."
Ana mematikan teleponnya.
Apa dia perlu menengok Tim? Apakah keadaannya parah?
Ana memutuskan untuk tidak mengambil pusing persoalan Tim. Dia kembali ke kamar dan merebahkan diri di sana.
Tapi, belum ada 5 menit, Ana kembali bangun lagi. Hatinya tidak tenang mendengar kabar dari Edward. Pasti Tim begitu terpukul karena Ana tidak mau menemuinya. Tapi kenapa Tim sampai mogok makan?
__ADS_1
Kalau Tim seperti ini, Tim bisa mati lebih dulu daripada dia.
Ana berdiri dari ranjang, lalu mengambil tasnya. Dia membulat hati untuk menemui Timothy. Saat ini yang penting Tim mau dibujuk ke rumah sakit atau minum obat, setelah itu dia akan kembali pergi.