Be Honest

Be Honest
Masa depan


__ADS_3

Paris.


Julie sangat senang bisa kembali ke Paris. Terkahir kali Dia pergi ke Paris bersama dengan ayahnya, sebelum ayahnya meninggal. Jadi, kota ini punya kenangan yang sangat indah untuk Julie. Dan cita-cita Julie adalah kembali ke Paris bersama dengan kekasihnya.


Sekarang, Cita-cita Julie benar-benar terwujud. Dia bukan hanya mengajak kekasihnya ke Paris, tapi juga akan menikah dengannya di kota ini.


"Jul, kamu lihat orang di arah jam 3. Dia begitu mencurigakan." Tim berbisik pada Julie sembari mendorong koper mereka keluar bandara.


Julie menengok perlahan ke arah yang ditunjukkan oleh Tim. Ada 2 orang menggunakan jaket kulit dan kacamata hitam yang sedang mengamati mereka.


"Ya. Mereka pengawal Mom." jawab Julie dengan panik. Dia tentu saja mengenali ciri-ciri pengawal Ny.Wilson dengan baik, karena mereka sering di perintahkan Ny.Wilson untuk memata-matai mitra usahanya.


Tim menggenggam tangan Julie, lalu dia mengajak Julie untuk berlari. Kedua orang yang mengamati mereka itu tentu juga ikut mengejar Julie dan Tim.


Mereka berlari cepat sampai menabrak beberapa orang yang lewat. Tim tidak peduli. Dia menyetop sebuah taksi yang kebetulan melintas, lalu mereka berdua segera masuk ke sana. Untung saja mereka tepat waktu. Orang suruhan Ny.Wilson tadi tidak mampu mengejar Julie dan Tim.


"Maaf Tim." ucap Julie sedih.


"Hey, kenapa harus minta maaf, sayang?" balas Tim yang masih ngos-ngosan setelah cukup lama berlari tadi.


"Karena hidupmu jadi seperti buronan."


"Hahahahaha.." "Jul, ini sangat seru. Aku seperti sedang bermain film action." Tim berkata jujur pada Julie. Tim adalah hacker. Jadi, dia harus menyembunyikan identitas dan juga harus berpindah-pindah tempat supaya orang-orang yang mengejarnya tidak dapat menangkap Tim.


Julie tersenyum kecil. Dia ragu apakah Tim berkata jujur. Mana ada orang yang senang di kejar-kejar seperti Tim. Jika punya pilihan pun, Julie tidak ingin hidup seperti ini.


"Jul, kamu mimisan." Tim terkejut ketika menengok ke arah Julie dan menemukan dar*h segar menetes dari hidung wanitanya itu.


Julie segera mendongakkan kepalanya, sementara Tim mengambil sapu tangan untuk mengelap hidung Julie.

__ADS_1


"Kita ke rumah sakit sekarang."


"Tidak usah, Tim. Ini pasti karena kelelahan. Sejak dulu aku memang sering mimisan." Julie menyumpal hidungnya dengan sapu tangan Tim.


"Makanya, kita periksa saja."


"Tim. Aku lapar. Aku ingin makan saja." Julie mencoba mengalihkan perhatian Tim.


Tim terdiam sejenak sebelum akhirnya mengiyakan permintaan Julie.


*


*


*


Julie begitu bersemangat karena Tim mengajaknya makan malam di sebuah Hotel dengan pemandangan menara Eiffel.


Segala perasaan lelah, takut dan khawatir Julie hilang dalam sekejap dan berganti dengan perasaan bahagia. Julie bahagia karena bisa bersama dengan Tim sampai saat ini.


"Bagaimana? Aku keren, bukan?" Tim memuji dirinya sendiri.


"Keren dan norak itu beda tipis, kan?" goda Julie.


Tim tertawa kencang. Dia meletakkan gitarnya, lalu duduk berhadapan dengan Julie. Wanita itu mengikuti arah pandangan Tim.


"Timothy Gunawan.. apa yang akan kamu lakukan jika aku tidak ada?" "Maksudku, jika kita tidak bersama sekarang, apa yang kamu kerjakan?" Ucap Julie yang mencoba menata perkataannya dengan baik.


"Apa maksudmu, Jul?" Timothy sedikit bingung dengan pertanyaan yang Julie berikan. Perkataan Julie seolah seperti sinyal bahwa mereka akan berpisah saja.

__ADS_1


"Tim, come on.. ini pertanyaan random. Aku hanya ingin tau tentang cita-citamu ke depannya."


"Apa itu benar?" "Kamu gak berencana untuk menyerahkan diri pada keluargamu kan?" Tim menginterogasi Julie karena instingnya tidak pernah salah.


Julie menyembunyikan ekspresi terkejutnya. Dia memang sedang memikirkan masa depan Tim jika bersamanya. Tim masih muda. Dia seharusnya bisa memegang perusahaan seperti William atau Romano, bukan menjadi homeless seperti sekarang ini. Jika memang Tim memiliki cita-cita yang bagus, Julie akan memikirkan untuk menyerahkan diri. Dia tidak boleh egois.


"Tolong jawab dulu,," rengek Julie.


"Buang jauh-jauh pikiran itu, Jul." "Kalau kamu menyerahkan diri, maka aku akan menemui keluargamu dan akan membawa kamu kabur lagi."


"Tim.. kan aku cuma tanya, kenapa kamu bereaksi berlebihan seperti ini?" Julie memegang tangan Tim yang tampaknya mulai sedikit emosi. "Apa cita-citamu sebenarnya sayang? Aku ingin tau karena kamu ga pernah cerita."


"Cita-cita ku adalah membentuk keluarga yang bahagia bersama orang yang aku cintai, yaitu kamu."


Jawaban Tim yang tegas itu membuat Julie terharu. Tapi itu bukan jawaban yang Julie inginkan. Dia masih mendesak Tim untuk mengatakan apa yang ada dipikirannya jika dia tidak bersama Julie. Ternyata, Tim tidak bisa menjawab. Dia adalah orang yang tidak punya rencana. Hidupnya berjalan seperti air mengalir saja. Dia bukan Edward yang punya masa depan pasti, yaitu menjadi seorang Dokter.


"Tim, aku ingin kamu menjadi seorang detektif swasta." kata Julie setelah perdebatan mereka.


"Julie, kamu itu lucu."


"Apanya yang lucu?"


"Ya,, apa kamu tidak menyarankan aku untuk bekerja jadi penyanyi, aktor atau dokter seperti Edward?" Tim menyebutkan jenis-jenis pekerjaan yang mungkin bisa menjadi pertimbangan Julie.


"Kamu tidak cocok, Tim. Cocoknya jadi detektif swasta." ucap Julie yakin. "Instingmu sangat kuat. Dan kamu bisa meretas data." "Aku yakin pekerjaan itu cocok untukmu." "Kalau kamu jadi detektif, kamu akan membantu orang mengungkap kebenaran dan juga orang yang membutuhkan kejujuran seperti aku." oceh Julie.


"Itu bisa dipertimbangkan, Jul. Kita masih punya banyak waktu untuk bicara itu. Yang penting kamu harus makan sekarang." Tim menyuapkan makanan yang sudah mulai dingin pada Julie.


"Anak pintar.." goda Tim lagi.

__ADS_1


Julie merebut sendok yang ada di tangan Tim, dan mulai makan sendiri, kerena dia malu di perlakukan seperti anak kecil.


Tim memandangi Julie yang makan dengan lahap. Dia sudah tidak sabar untuk menikah dengan Julie dan memulai kehidupan barunya.


__ADS_2