
"Jul, makan yuk.. bareng sama...." Adel menyeruak masuk ke dalam kamar Julie. Tapi perkataannya terhenti ketika dia melihat Julie sudah berdandan dengan sangat cantik.
Julie mengenakan dress garis-garis putih biru selutut, dan rambut panjang Julie yang biasa di ikat, sekarang di biarkan tergerai. Jika Adel adalah lelaki, dia pasti akan langsung jatuh cinta pada Julie.
"Wah, kamu mau ke mana nih? Kok ga ajak-ajak si?" protes Adel. Dia memutarkan badan Julie dan memang di lihat dari sudut manapun Julie terlihat cantik.
"Hanya makan malam dengan Timothy." jawab Julie jujur.
"Whaaat?" Adel hampir saja pingsan ketika Julie menyebutkan nama Timothy. "Bagaimana bisa?" tanya nya dengan nada tidak percaya.
"Ya dia WA dan ajak aku pergi."
"Selamat ya Jul... Kamu pasti bisa memenangkan hati Timothy."
Julie geleng-geleng kepala sendiri melihat kehebohan Adel. Dia dengan sigap menghindar ketika Adel akan memeluknya, karena seperti yang sudah-sudah, Adel akan membuat dadanya sakit.
"Pokoknya nanti kamu harus ceritain semua nya." kata Adel dengan nada memaksa.
"Kamu juga, ceritain makan malam kamu sama Niko." balas Julie.
Adel terdiam. Dia tidak akan makan malam dengan Niko jika Julie tidak ikut makan dengan mereka. Niko sudah terang-terang an berkata jika dia menyukai Julie. Dan entah kenapa, hal itu membuat Adel kecewa.
'Tin.. tin..' suara klakson mobil terdengar melengking sampai kamar Julie. Itu tanda jika Julie sudah di jemput.
"Oke, nanti aku ceritain. Udah sana, pergi.." Adel mendorong tubuh Julie.
Julie melambaikan tangannya dan Adel hanya membalas dengan senyuman kecil.
"Kamu begitu beruntung, Jul." kata Adel setelah Julie keluar dari kamar.
*
*
*
"Halo...Tim.." Julie menyapa dengan ramah sambil membuka pintu mobil. "William?" Raut wajah Julie berubah ketika dia melihat pria yang mengemudi mobil adalah William.
__ADS_1
Julie lalu menengok ke belakang. Tampak Timothy duduk manis di sana sambil mengangkat satu tangannya untuk menyapa Julie.
"Hai, Jul.. masuk lah." ucap Tim sambil tersenyum.
Julie enggan untuk masuk, karena dia tidak tau jika Tim membawa William.
"Sorry, aku belum bisa membeli mobil, jadi aku ajak William. Tidak apa-apa kan?" kata Tim yang tidak enak dengan Julie.
Ya, Timothy menepati janjinya untuk membantu William mendekati Julie.
Julie akhirnya masuk dan duduk di samping William yang mengemudi, sedangkan Tim duduk di belakang. Segera setelah Julie masuk, mobil Merci William melesat cepat menembus jalanan kota yang cukup padat.
"Kamu cantik sekali, Jul." Puji William yang bolak -balik menengok ke samping.
"Terimakasih."
"Apa kamu suka steak?"
"Ya, sangat suka." jawab Julie datar.
"Kenapa kamu gak tanya aku, bro?" celetuk Tim dari bangku belakang. Dia merasa sangat tidak dianggap di dalam mobil ini.
Julie tertawa mendengar percakapan mereka.
William menoleh kembali pada Julie. Ini pertama kali dia melihat Julie tertawa. Jika di kantor, dia hanya dapat melihat Julie dalam mode diam dan juga kesal.
"Jangan tertawa, Jul." Tim memperingatkan Julie.
"Sorry.. sorry.." Julie kembali diam setelah cukup tertawa.
"Jul, aku bisa sulap." ucap Tim lagi. Dia tidak suka suasana di dalam mobil yang sepi seperti kuburan.
"Sulap apa nih?"
"Aku bisa bikin tangan kamu wangi, tanpa menyentuhnya." Tim menggerakan tangannya di udara, lalu dia meniup tangan Julie dari jarak jauh. "Sudah, coba cium."
Julie mencium dan membolak balik tangan kanannya. Dia tidak mencium bau wangi apapun. "Enggak wangi kok."
__ADS_1
"Masa, coba aku lihat." Tim memegang tangan Julie, lalu mendekatkan hidungnya dan..
Cup. Dia mencium tangan Julie dengan lembut.
"Tiiiim.. " Julie terkejut dan pipi nya langsung bersemu merah, sedangkan Tim hanya tertawa senang karena berhasil mengerjai Julie.
"Sudah.. sudah.. kita hampir sampai." William menengahi mereka. Dia yang ingin PDKT dengan Julie, malah Tim yang maju seperti ini.
Mobil William berhenti di sebuah restoran western yang terkenal di kota ini. Dia buru-buru turun dan membukakan pintu mobil sebelum Tim melakukannya.
Julie tampak begitu senang karena sudah lama sekali dia tidak makan di restoran.
Pelayan membuka pintu untuk mereka bertiga. Julie masuk lebih dulu, karena tidak sabar ingin menikmati makanan mewah di sini.
Lagi-lagi William memperlakukan Julie seperti Putri. Dia menarikkan kursi untuk nya. Tapi, Julie tidak terlalu memperhatikan tindakan pria itu. Dia langsung sibuk memilih menu.
"Saya mau wagyu a5 medium well dan lemon tea." ucap nya pada pelayan yang berdiri di sampingnya. "Kalian mau apa?"
Tim dan William saling berpandangan. Wanita itu sangat bersemangat sekali begitu melihat menu.
"Samakan saja." Kata Tim yang tidak mau ribet. Ya, tujuannya untuk makan di sini adalah untuk menemani William PDKT dengan Julie. Dia tidak terlalu memusingkan apa yang akan dia makan.
"Jadi, apa yang kamu suka, Jul?" tanya William yang tidak pernah bosan memandang wajah Julie.
"Aku suka makan dan tidur." jawab Julie polos. Hidupnya dulu memang hanya makan dan tidur saja. Dia tidak pernah menyentuh pekerjaan rumah tangga ataupun mengurus bisnis keluarga.
"Pantas saja kamu tidur seperti orang mati." ucap Tim lirih.
"Kenapa Tim?" Julie menengok ke arah Tim yang seperti sedang kesal.
"Tidak apa-apa.. kalian lanjutkan saja..aku ingin menelepon Edward sebentar." Tim menarik kursinya dan berpindah tempat. Dia sedikit menjauh ke meja sebelah, tapi dia masih bisa mendengarkan percakapan Julie dan William.
"Apa kamu pacaran dengan Emily?" tanya Julie penasaran.
"Tidak. Aku memang dekat dengannya, tapi dia bukan pacarku." "Kenapa?"
"Tidak apa-apa. Dia bisa sakit jantung jika tau kalau aku makan bersama kalian." Julie tersenyum sinis ketika kembali mengingat perlakuan Emily padanya. Dia selalu saja mengerjainya. Hari ini pun Emily memberikan tugas yang begitu banyak pada Julie. Untung saja Julie bisa menangani semuanya.
__ADS_1
"Tenang saja..tidak ada yang tau kalau kita makan malam, selain Tim." William menyunggingkan senyuman terbaiknya. Makan malam kali ini, William harus bisa mendapatkan hati Julie.