Be Honest

Be Honest
Kecurigaan Tim


__ADS_3

William kebingungan karena ban mobilnya tiba-tiba bocor. Bukan cuma 1, tapi keempatnya. Sudah pasti ini di sengaja oleh orang, tapi siapa?


Seingatnya, Willy tidak pernah punya musuh. Lalu siapa yang mengerjai dia seperti ini?


"Wah, sepertinya aku harus memanggil mobil derek dulu." ucap William sambil mengacak-acak rambutnya.


"Tidak apa-apa Will, aku akan tunggu kamu di sini."


Julie mencoba menenangkan pacarnya supaya tidak khawatir.


"Tapi ini akan memakan waktu yang begitu lama."


"Atau aku naik taksi saja, Will?" saran Julie.


Sebuah taksi bewarna kuning kebetulan lewat di depan mereka. Tanpa menunggu jawaban dari William, Julie melambaikan tangannya untuk menyetop taksi itu.


Kaca mobil terbuka. Sopir di dalam yang menggunakan masker dan topi hitam mengangguk sesaat.


"Sebentar, pak." ucap Julie sambil melongok an kepalanya ke dalam mobil.


"Will, aku pulang dulu ya.."


"Maaf sayang, kamu jadi pulang sendiri." William menyesal karena tidak bisa mengantar Julie pulang.


"Tidak apa-apa, Will."Julie mengusap lengan William pelan. " Kamu hati-hati ya.."


"Ehem." Seseorang menggunakan jaket kulit berjalan ke arah mereka berdua. Dia melepaskan helmnya, lalu menjepit itu pada ketiaknya.


"Tim, lo ikutin gue?" tanya William dengan nada sedikit tinggi. Sudah pasti Tim ke sini bukan karena suatu kebetulan semata.


"Gue kebetulan lewat aja, Bro. Mobil lo kenapa?" tanya Tim sambil menilik ke arah mobil biru milik Willy.


"Ada yg kerjain gue." umpat Willy kesal.


"Aku akan pulang duluan." Julie menyela percakapan mereka. Dia sudah membuka pintu belakang taksi, tapi Tim menahan Julie. Tim menutup kembali pintu taksi yang masih menunggu itu.


"Pak, jalan saja. Wanita ini akan pulang bersama saya." Tim bicara pada sopir taksi yang tampak mencurigakan. Sopir taksi itu hanya melirik sesaat ke arah Tim, lalu dia menutup kaca mobilnya.

__ADS_1


"Julie pulang dengan ku saja." ucap Tim pada Willy yang kini sibuk dengan teleponnya.


Tim melemparkan helm nya pada Julie. Dia lalu berjalan untuk mengambil motor yang di parkir tidak jauh dari situ.


"Will, apa tidak apa-apa jika aku pulang dengan Tim?" tanya Julie sebelum meninggalkan Willy sendiri.


"Ya, kamu pulanglah dulu. Tim sahabatku, jadi dia tidak akan macam-macam dengan mu."


"Oke,, aku pulang dulu."


Julie mengenakan helm nya dengan segera ketika Tim sudah siap di depannya.


"Pegangan ya, Jul.."


Tim mulai menjalankan motor dengan kecepatan yang membuat Julie langsung memeluk pinggang Tim. Tim tertawa puas karena Julie masih saja belum terbiasa naik motor. Ya, Tim lupa jika yang berada di boncengannya adalah Ana Wilson. Seorang Ana pasti tidak pernah naik motor seperti ini.


"Tim.. pelan-pelan..apa sih yang kamu kejar?" teriak Julie dari belakang.


"Yang jelas, bukan mengejar kamu, karena sekarang kamu pacaran dengan William." balas Tim dengan berteriak.


"Jul, apa sih yang gak aku tau? Bahkan dalaman mu saja aku tau." goda Tim.


"Tim, kamu stalking aku ya?" Julie memukul punggung Tim dengan cukup keras.


"Sakit, Jul." protes Tim. "Ya, kan aku yang siapkan semua pakaian mu waktu pindah ke Indonesia. Gimana sih?" jelasnya sambil tertawa. Dia senang sekali bisa membuat Julie kesal. Sebenarnya, dia tau karena William sudah bicara padanya tadi sore. Bahkan Tim membantu Willy untuk memilihkan bunga yang akan diberikan untuk Julie. Soal dalaman itu hanya untuk pengalih perhatian saja.


"Dasar mesum."


"Jul, aku selalu jujur apa adanya."


"Ya, terimakasih sudah jujur. Tapi sebenarnya tidak perlu di perjelas seperti itu." omel Julie yang malu karena Tim membahas soal dalaman.


"Kamu makin cantik kalau lagi marah."


"Sudah, setir saja yang benar."


Tim tertawa lagi. Julie sudah benar-benar kesal sekarang.

__ADS_1


*


*


*


Tim menghentikan motor di depan kost Julie. Wanita itu turun dan mengembalikan helm milik Tim.


"Thanks, Tim."


"No problem, Jul. Kamu masuk dan istirahat lah. Jangan lupa kunci pintu dan jendela." pesan Tim.


"Ya ampun, kamu seperti kakek ku saja." ucap Julie kesal.


"Jul, kamu itu polos. Jangan sampai ada orang yang masuk ke dalam kamar mu."


"Ya, oke grandpa." sindir Julie halus.


Tim menunggu Julie untuk masuk. Dia tetap memperhatikan sampai lampu kamar Julie menyala.


"Pak Timothy.. kenapa anda di sini?" Adel yang baru saja makan di depan bersama Niko keheranan melihat Tim yang mencurigakan karena sejak tadi pria itu menatap ke atas.


"Eh.. saya hanya antarkan Julie pulang." jawab Tim terbata.


"Lho, tadi berangkatnya sama Pak William, kok pulangnya.." Adel tidak melanjutkan kata-katanya karena Tim menatapnya dengan pandangan membunuh.


"Adel, kamu itu kepo sekali. Jangan tambah bikin gosip di kantor." kata Tim tegas. "Kalian juga tampak mesra sekali.. apa kalian pacaran?" Tim memperhatikan Adel yang memegang pergelangan tangan Niko.


Adel yang tersadar segera melepaskan tangannya. Wanita itu tadi memegang Niko karena dia takut menyebrang jalan.


"Kami cuma teman, Pak." jawab Adel gugup.


"Nah, saya dan Julie juga hanya berteman. Jadi, tidak usah pakai acara cerita ke anak-anak lain." Tim memberi Adel peringatan dengan cara halus.


"I.. iya pak. Ya sudah, saya masuk dulu pak. Hati-hati di jalan ya Pak." Adel melambaikan tangannya pada Tim.


Tim yang tidak ingin bicara lagi, menyalakan motornya. Tapi, tatapan Tim beralih pada sebuah taksi kuning yang sejak tadi berhenti di dekat mereka. Sebenarnya, Tim sudah curiga sejak kemarin jika ada orang yang mengikuti Julie. Pria yang di dalam taksi itu pun sudah pasti orang suruhan keluarga Wilson yang sedang memata-matai Julie. Tim kini harus terus memantau Julie. Jangan sampai wanita itu kabur lagi untuk menghindari keluarganya.

__ADS_1


__ADS_2