Be Honest

Be Honest
Hotel


__ADS_3

Sesampai nya di Korea, mereka semua langsung menuju ke hotel. Willy yang sudah official memberitahu hubungan dengan Julie tampak lebih percaya diri sewaktu merangkul pundak Julie.


"Kamar mu di sini." Willy melepaskan rangkulannya. Dia berhenti di kamar dengan nomer 207.


"Aku ada di sebelah mu." Willy menunjuk kamar 208.


"Jangan salah masuk kamar ya, Jul." pesan Adel. Dia menempelkan card nya, dan pintu langsung terbuka.


"Thanks, Will.. aku istirahat dulu." Julie tersenyum dan berpamitan pada Willy.


"Tunggu, Jul." Tahan Willy. Dia mendekatkan wajahnya, lalu mencuri cium pipi Julie.


Julie terperanjat. Dia langsung menutup pipinya yang saat ini pasti merona merah.


"Duileeee... yang lagi bucin." sindir Niko. Dia jengah sekali melihat pasangan baru itu. Jujur saja, Niko sedikit jealous melihat William yang begitu beruntung karena bisa menjadi kekasih Julie.


"Minggir.. minggir..." Emily mendorong Niko yang menghalangi jalan. Niko sampai menabrak Adel. Adel tentu menunjukan bogem mentah pada Niko yang mengenai badannya.


"Tim....bagaimana kalau nanti malam kita pergi ke club di bawah?" ajak Emily sambil menyenderkan kepalanya pada pundak Tim.

__ADS_1


"Haduh, kenapa kalian malah pacaran seperti ini sih?" protes Niko.


"Yee,, sirik aja lo." sahut Emily.


"Sudah lah, kalian jangan berisik. Istirahat untuk acara besok." Tim melepaskan tangan Emily. Wanita itu benar-benar seperti lintah. Dia menempel terus pada Tim sejak dalam pesawat. Dia heran kenapa Emily sekarang malah mengejarnya.


Tim masuk ke kamar 209 di sebelah kamar Willy untuk menghindari Emily.


"Kasihan deh lo, di cuekin." ejek Adel. Dia juga masuk ke kamar karena drama-drama para petinggi sudah selesai. Julie mengikuti Adel untuk masuk ke kamar.


Sedangkan Emily dan Raisa juga masuk ke kamar mereka yang berada di kamar depan Julie-Adel, yaitu kamar 197.


Adel merebahkan badannya di ranjang. Dia begitu lelah naik pesawat selama 8 jam. Belum lagi perutnya mual dan kepalanya pusing karena jet lag.


"Del, kalau aku ke America hampir seharian naik pesawat."


"Oh iya, lo dari America yaa. Gue lupa." Adel menepuk jidatnya sendiri. Pantas saja Julie tidak mengalami hal yang sama dengannya.


"Keluarga lo di sana juga?" Lanjut Adel yang ingin kenal Julie lebih dekat.

__ADS_1


"Ya.. semua ada di sana. Tapi, Dad sudah meninggal." Julie ikut merebahkan badan di samping Adel.


"Sorry, Jul. Gue ga tau."


"Santai, Del. Tapi aku senang di sini, karena aku bisa bertemu dengan orang-orang baik seperti kamu, William, Tim dan Niko."


"Pokoknya, kalau kamu butuh sesuatu, katakan saja." "Tapi asal bukan uang ya.."


Julie tertawa. Ini yang membuatnya nyaman berada di Indonesia. Julie bisa mendapatkan beberapa teman di sini. Memang di manapun Julie tinggal, dia akan selalu mendapat masalah. Tapi setidaknya masalah di sini jauh lebih ringan daripada masalahnya di keluarga Wilson. Itu karena Julie mempunyai seseorang yang mendukung dia, seperti Adel contohnya.


"Terimakasih Del. Aku pasti akan ingat kebaikan mu."


"Ya ampun, Jul. Aku ga minta apapun.. aku cuma ingin tidur sekarang." Adel kembali menguap entah untuk yang ke berapa kalinya.


"Oke Del, minum obat nya dulu sebelum tidur. Aku akan pergi sauna sebentar." Julie bangun dari ranjang. Dia mengeluarkan obat sakit kepala yang biasa dia bawa, lalu memberikan pada Adel. Waktu itu, Willy minum ini dan sembuh. Jadi, obatnya itu pasti dapat membantu Adel sembuh dari jatlag.


Ponsel Julie tiba-tiba berdering. Tim Calling.. Julie segera mengangkatnya.


"Halo Tim, ada apa?" "Ya, aku akan pergi sauna ke bawah." Tidak, Adel ingin istirahat."

__ADS_1


Julie mematikan ponselnya. Tim hari ini cukup aneh. Dia menatap Julie dengan pandangan yang tidak biasa. Dia juga menjaga Julie sewaktu baru turun dari bandara tadi, selayaknya Bodyguard Julie. Bahkan, Willy yang notabene pacarnya pun tidak bertindak sesigap Tim. Entah apa yang di pikirkan pria itu.


Julie mengenyahkan pikirannya soal Tim. Dia sudah tidak sabar untuk pergi sauna karena sudah lama sekali Julie tidak melakukan kegiatan itu. Biasa Julie tidak perlu repot karena di rumah nya sudah ada fasilitas sauna. Tapi, di Indonesia dia tidak pernah pergi sauna karena sibuk bekerja tiap hari. Sekarang Julie bisa sedikit bersantai dan menenangkan pikiran di sana.


__ADS_2