Be Honest

Be Honest
Hari pertama bekerja


__ADS_3

Adel membawa Julie ke lantai 6, tempat tim nya bekerja. Mereka baru saja keluar dari lift, tapi Julie dapat mendengar suara teriakan melengking yang cukup keras dari dalam ruangan.


"Mereka memang sedikit heboh..tapi it's okay.." kata Adel menenangkan Julie. Dia mendorong pintu yang bertuliskan 'Marketing' dengan badannya.


Perasaan Julie mendadak berubah tidak enak. Dia yang tadinya semangat, kini menjadi takut untuk masuk ke dalam.


'Taraaaa'


Benar saja, Julie langsung shock melihat pemandangan yang di tampilkan di depannya.


Di dalam, terlihat 2 orang pria yang sedang kejar-kejaran dan di pojok ruangan ada 2 orang wanita yang sedang duduk bergosip.


"Gaeeeeees.. mohon perhatiannya sebentar." Teriak Adel sambil memberikan isyarat dengan menepuk tangannya.


Semua menghentikan kegiatan mereka dan memandang Adel yang membawa seorang wanita asing di sampingnya.


"Kita kedatangan anggota baru nih..nama nya Julie.." lanjut Adel setelah mendapat perhatian dari seluruh isi ruangan.


"Saya, Julie. Mohon bantuan kalian." Julie tersenyum ramah, lalu membungkukkan badan sebagai tanda perkenalan.


Semua di ruangan itu menengok ke arah Julie, tapi hanya untuk beberapa detik saja, karena selanjutnya mereka kembali melanjutkan kegiatan mereka yang sempat terhenti.


"Astaga, kalian sudah tidak waras." omel Adel yang jadi tidak enak pada Julie.


Begitulah keadaan di bagian marketing kantor Xpose. Dan Adel sudah bertahan dengan keadaan ini selama 3 tahun. Jadi, Dia sudah paham dan terbiasa dengan kelakuan teman-temannya itu.


Kini Adel beralih pada Julie. Dia menunjukan meja Julie yang tepat berada di samping mejanya.


Meja Julie hanya berisi komputer dan sebuah printer.


"Duduk dulu saja, Jul. Nanti sore kita beli perlengkapannya ya." Dia mempersilahkan Julie untuk duduk.


Setelah wanita itu duduk, Adel baru menarik kursi miliknya mendekat pada Julie. Dia harus menjelaskan tentang pekerjaan Julie beserta rekan-rekan kerja satu tim nya.


"Kamu lihat pria botak itu?" Adel menunjuk pria botak dengan badan cungkring yang sedang di kejar-kejar oleh satu pria lainnya. "Dia itu Anton. Orangnya asik, tapi jahil. Dia selalu saja membuat kesal si Beni." "Kalau Beni, dia itu orang yang perfeksionist. Dia ingin kerjaannya sempurna. Tapi, selalu saja si Anton itu membuat kacau."


Julie memperhatikan satu pria yang mengejar Anton. Pria yang lebih tinggi dan memiliki hidung cukup mancung itu memang terlihat lebih serius.

__ADS_1


"Nah, kalau cewek yang baju biru tua itu namanya Raisa. Raisa itu sedikit oon, tapi dia baik sih." jelas Adel sambil tertawa. "Si Bos selalu naik darah jika menghadapi Raisa." tambahnya.


Julie mengangguk. Dia tidak terlalu tertarik dengan Raisa, tapi dia lebih tertarik pada wanita di sebelahnya yang sedang bercerita dengan semangat.


"Terakhir, yang paling menyebalkan adalah si Emily." Adel bicara dengan lebih pelan. "Dia sangat suka pada William. Dan sepertinya William juga suka dia." "Kamu harus sedikit sabar dengan nya karena dia sangat bossy." "Kalau kamu bikin ulah, dia akan langsung laporkan kamu pada William."


Tebakan Julie benar. Wanita itu pasti punya pengaruh di sini. Dari gesture tubuhnya, wanita itu lebih percaya diri dan dandanan nya juga berbeda. Dia menggunakan jam tangan yang mewah dan pakaian bermerk.


Ya, Julie sering bertemu dengan orang-orang sejenis Emily dalam hidupnya, jadi tidak sulit baginya untuk mengidentifikasi wanita itu dengan baik.


"Dan untuk kerjaan.. kamu cukup promosikan saja melalui media sosial."


"Apakah susah?" tanya Julie polos. Dia jarang sekali menggunakan media sosial. Sepertinya William salah untuk menempatkan Julie di bagian ini.


"Tenang Jul.. kan ada Adel.. Aku yakin kamu bisa."


"Kamu yang terbaik, Del." ucap Julie senang. Pekerjaan ini jelas bukan yang Julie inginkan, tapi setidaknya dia dapat bekerja dengan temannya.


***


Julie merebahkan badan di ranjang yang tidak nyaman itu. Baru sehari bekerja, badannya sudah pegal semua. Saat ini dia sangat ingin mandi berendam air panas sambil mendengarkan instrumen piano atau biola.


Ponsel Julie berdering membuat Julie tersadar. Dia mengambil ponsel yang masih berada dalam tas, lalu mengangkat tanpa melihat siapa yang menelepon.


"Jul, aku tunggu di bawah sekarang ya. Aku akan traktir kamu makan." cerocos Adel.


"Aku..le.. "


Tut.. tut.. Adel memutuskan sambungan sepihak sebelum Julie selesai bicara.


Julie yang tidak enak pada Adel yang sudah baik padanya, akhirnya memutuskan untuk turun tanpa berganti pakaian.


Di bawah, Adel sudah menunggu bersama dengan Niko. Julie hendak protes, tapi Adel malah menariknya ke depan, tepatnya ke tempat makan kemarin. Kali ini, mereka memilih menu pecel lele.


Julie tidak bersemangat karena dia sebenarnya tidak ingin makan. Dia juga malas karena Adel mengajak Niko makan bersama mereka.


"Selamat ya Jul, kamu sudah bergabung di Xpose." Nico memulai pembicaraan begitu mereka selesai memesan.

__ADS_1


"Thanks" jawab Julie singkat, padat dan jelas.


"Kalau dia kerja di lantai 4." sambung Adel.


"Gimana kerjaan kamu di sana? Apakah menyenangkan?" tanya Niko lagi.


"Belum tau karena baru satu hari."


"Kamu pasti menderita ya bekerja dengan orang macam dia." Niko menunjuk Adel yang sedang sibuk membersihkan kukunya dengan tusuk gigi.


"Sialan lo." umpat wanita itu tanpa mengalihkan pandangan dari kuku.


Julie tidak berkomentar. Dia benar-benar tidak mood untuk meladeni mereka berdua.


"Makanan datang." pelayanan membawakan 3 potong besar ayam goreng, nasi, lalapan serta sambal.


Adel dan Niko berebut untuk mengambil makanan itu. Adel juga memberikan nasi ke piring Julie karena Julie sejak tadi hanya diam saja.


"Makanlah, Jul. Ini sangat enak."


Mereka mulai makan dengan lahap. Nasi panas, ayam goreng dan sambal terasi adalah menu yang sangat cocok. Selera makan mereka langsung bertambah 2x lipat.


Julie hanya bengong melihat meraka makan. Bukan karena apa, tapi mereka makan dengan menggunakan tangan. Itu sangat jorok.


"Apakah ada sendok dan garpu?" tanya Julie pada Adel. "Aku tidak bisa makan pakai tangan."


"Oh iya, aku lupa." Adel berdiri untuk meminta sendok dan garpu pada pelayan.


Niko memperhatikan Julie dengan heran. Wanita itu tidak makan menggunakan tangan. Gayanya juga sangat berkelas, tidak seperti Adel yang seperti preman.


"Thanks Del." ucap Julie ketika menerima sendok garpu dari Adel.


Julie mulai mencicipi makanan lain negara ini. Meskipun sedikit lebih susah, tapi Julie sangat suka dengan makanan yang di pesan Adel. Ayam dan sambal yang sedikit berbau itu bisa membuat Julie makan dengan lahap. Julie dapat menambahkan ini menjadi menu favoritnya.


"Eh, besok aku yang antar kalian saja ya.." ucap Niko yang masih memandang Julie.


"Okay, thanks bro. Tau aja motor gue belum di servis." Jawab Adel senang.

__ADS_1


Sedangkan Julie tidak memperhatikan karena dia masih sibuk dengan makanannya.


__ADS_2