
Julie berjalan dengan penuh percaya diri memasuki kantor Xpose. Dia tidak memperhatikan jika orang-orang masih menggunjingnya akibat foto dan juga berita jika Julie hanya memanfaatkan William dan selingkuh dengan Tim.
'BRAK' Julie membuka pintu cukup keras sehingga orang di dalam melonjak kaget. Julie menghampiri Emily, lalu menarik tangannya dengan kasar untuk keluar dari ruangan.
"Hey, kamu gila ya?!" bentak Emily. Dia meronta, tapi Julie mencengkram nya dengan begitu kuat. Julie menyeret Emily dengan emosi sampai ke ruangan William.
William yang sedang bersama Tim, tentu saja kaget ketika Julie melemparkan Emily ke sofa.
"Julie, kamu benar-benar kurang ajar." teriak Emily. Dia bangun dan berhadapan dengan Julie yang berani melawannya.
"Aku sudah cukup bersabar selama ini, Em.. tapi kamu memang sudah keterlaluan." kata Julie dengan emosi. Dia marah karena Emily memutarbalikkan fakta mengenai Julie selingkuh dengan Tim. Padahal kenyataannya Emily yang sudah selingkuh dengan William.
"Memangnya kenapa? Kamu tidak terima?" tantang Emily.
Julie tersenyum sinis. Dia memperlihatkan video ciuman William dengan Emily. Semua terlihat jelas beserta bekas tanda kemesraan di leher Emily.
"Jul.. bagaimana kamu bisa dapat video i.. ni?" Tanya Emily gugup. Dia mencoba merebut ponsel Julie, tapi Julie segera menyimpannya di saku.
"Itu tidak penting. Seharusnya aku bisa gunakan ini untuk menghancurkan nama baik mu. Tapi aku tidak mau karena itu juga akan menjatuhkan William dan perusahaan ini."
"Cepat hapus itu." teriak Emily dengan suara melengking.
William hendak melerai kedua wanita itu. Tapi, Tim menahannya. Dia akan membiarkan Julie untuk menyelesaikan masalahnya.
"Kamu jangan main-main dengan ku. Kamu tidak tau siapa keluarga ku?" ancam Emily.
"Ya, aku tau keluarga mu dengan baik." "Cepat telepon mereka dan katakan jika Juliana Wilson sedang mengancam anaknya." ucap Julie sambil bersedekap.
Emily mengambil ponsel di saku, lalu dia benar-benar menelepon Ayahnya yang notabene adalah pengusaha minyak yang sukses di negara ini.
"Dad.. aku ingin mengadu jika Juliana Wilson mengancam ku."
"Siapa kamu bilang?" tanya Dad Emily setengah berteriak.
"Julie Wilson."
__ADS_1
"Em, apakah kamu mengenal anak dari keluarga Wilson? Apa kamu bertengkar dengan dia?" suara di ujung sana terdengar panik.
"Ya, Dad. Dia mengancam akan menyebarkan video dengan kekasih ku."
"Emily. Cepat kamu minta maaf padanya. Jangan cari masalah dengan Dia."
"Tapi, Dad.."
"Dad tidak akan membantu mu jika kamu bikin masalah dengan keluarga Wilson. Mereka itu bisa menghancurkan kita dengan hanya mengedipkan mata. Ingat itu, Em."
Ayah Emily menutup telepon tanpa ingin mendengar alasan putrinya lagi. Kenapa ayahnya begitu takut pada Julie? Siapa itu keluarga Wilson? Apakah sebegitu hebat kah Julie?
Julie mengetukkan kaki dengan tidak sabar.
"Bagaimana sekarang? Aku akan hapus jika kamu minta maaf sekarang."
Emily tidak punya pilihan. "Maaf." ucapnya lirih.
Julie mendongakkan wajah Emily sehingga wanita itu bisa melihat tatapan Julie yang sedang kesal.
"Aku minta maaf, Julie. Tidak seharusnya aku seperti itu." kali ini Emily bicara cukup keras.
"Aku akan perbaiki kesalahan ku, supaya nama baik mu kembali bersih."
Julie lagi-lagi tersenyum sinis. Dia mengambil bantal kursi dan menyambar cutter di meja. Lalu, dia membuka jendela dan menyobek bantal kursi itu sehingga isinya berhambur keluar di tiup angin.
"Cepat kamu turun, dan kumpulkan isinya." kata Julie sinis.
Emily menatap Julie dengan kebingungan. Apa maksud Julie mengumpulkan isi bantal yang sudah terbang tadi? Apakah Julie sudah gila?
"Lihat, tidak bisa di kumpulkan, bukan?" Julie kembali menutup jendela, dan mendekati Emily lagi. "Nama baik ku seperti itu. Karena gosip yang kamu buat, nama baik ku di kantor ini sudah rusak dan hilang. Jadi percuma kamu ingin memperbaikinya."
"Jul.. aku sungguh minta maaf.." Emily merosot di depan kaki Julie ketika menyadari kesalahannya. Sebenarnya Julie tidak ingin Emily sampai berlutut di depan kakinya seperti ini. Julie hanya ingin membuka mata Emily sehingga dia bisa memperlakukan siapapun dengan baik, terlepas dari kedudukan orang tuanya.
"Ini bukan hanya untuk ku, Em. Lain kali, kamu tidak boleh memperlakukan orang lain dengan seenaknya seperti ini." Julie mengangkat tubuh Emily.
__ADS_1
Emily langsung menangis dalam pelukan Julie.
"Aku akan pergi, jadi kami tidak perlu bersikap seperti ini."
"Pergi ke mana, Jul?" tanya Emily di tengah isaknya.
Julie tidak menjawab. Dia kini beralih pada William yang masih menyaksikan drama Emily-Julie dalam diam.
"Dan, kamu... Kamu harus menikah dengan Emily." Julie bicara dengan sedikit mengancam.
"Maksudnya?"
"Kamu sudah mengambil kehormatan Emily, dan seharusnya kalian menikah. Jangan jadi pengecut yang bersembunyi setelah kamu berbuat kesalahan." ucap Julie sengit.
"Aku tidak ingin menikah." sanggah William.
Emily terperanjat mendengar ucapan William. Kenapa William tidak mau menikah dengan nya setelah apa yang dia lakukan?
"Lihat, kan? Seharusnya kamu tidak melakukan itu dengannya." Julie menengok ke arah Emily sambil tersenyum sinis. Dia sudah menduga William akan mengatakan ini.
Selanjutnya, Julie mengambil ponsel, lalu dia menelepon seseorang.
"Kalian masuk saja."
Tidak sampai satu menit setelah Julie menelepon, beberapa pria berjas masuk. 2 orang bergerak membawa William dan 1 orang menarik Emily.
"Kalian tetap harus menikah, apapun yang terjadi." kata Julie sambil melambaikan tangannya pada William dan Emily yang menatap Julie dengan tidak percaya.
Tim mendekati Julie, dan menepuk pundaknya dari belakang. "Kapan kita berangkat sayang? Urusan mu sudah selesai, bukan?"
Julie berbalik dan menatap kekasihnya dengan intens. "Sekarang pun tidak apa-apa."
"Oke.. aku ingin mengajak mu ke Pantai Voutoumi di Yunani. Bagaimana? Apa kamu setuju?"
"Ya.. itu bagus.."
__ADS_1