Be Honest

Be Honest
D-day


__ADS_3

Bandara


William dan Tim baru saja datang ke bandara. William tampil sederhana dengan kaos putih dan celana jeans.


Tim juga cukup santai dengan menggunakan kaos oblong warna abu-abu dan topi kupluk hitam. Dia lebih tampak seperti orang yang akan pergi tidur, daripada orang yang akan pergi keluar negeri.


Willy dan Tim begitu heran ketika menatap para karyawan mereka. Tampilan mereka justru melebihi bos nya, bak artis Korea.


"Will, pasti kita akan repot." ucap Tim setengah berbisik.


"Nikmati saja, Tim." William menggunakan kacamata hitamnya supaya tidak malu membawa karyawannya yang udik.


"Maaf sudah menuggu. Ayo, kita berangkat." William bicara pada kerumunan di mana karyawannya berkumpul. Di balik kacamata hitamnya, Willy hanya memandang Julie yang tampak begitu cantik menggunakan sweater hitam yang dipadu dengan overall jeans. Penampilan Julie adalah penampilan paling normal di antara semuanya.


"Pak,, kami hampir jamuran menunggu kalian." keluh Raisa.


"Let's Go..Let's Go.."

__ADS_1


Willy dengan santainya menggandeng Julie di depan karyawan lainnya. Julie berusaha melepaskan tangan Willy, tapi Willy menggenggamnya begitu erat.


Karyawan lain jelas saja terkejut dan terheran-heran dengan pemandangan di depannya.


"Del, Julie pacaran dengan Pak William?" tanya Niko sambil memegang lengan Adel.


Adel mengangkat kedua bahunya. Dia sebenarnya tahu, tapi dia perlu menghargai keputusan Julie untuk tidak menyebarkan ini ke karyawan lain.


Sementara itu, Emily mengambil kesempatan untuk berjalan dengan Tim. Dia melepaskan pegangan Raisa, lalu berlari ke arah Tim, dan langsung merangkul lengannya.


"Tim.. aku duduk di sebelah mu, jadi aku harus memastikan supaya kamu tidak menghilang."


Tim tertawa sinis. Alasan Emily sungguh tidak masuk akal. Tim bahkan bisa membolang ke kutub utara seorang diri jika dia mau. Ke Korea hanya seperti berkunjung ke Bandung saja bagi Tim.


*


*

__ADS_1


*


Sesuai yang di katakan Willy, Julie duduk di bangku VIP, tepatnya di sebelah pacarnya itu.Julie yakin, teman-temannya pasti protes, tapi untuk yang satu ini, Julie setuju dengan Willy. Dia harus terbang dengan nyaman. Di belakang mereka, ada Tim yang duduk sebelahan dengan Emily. Tim tampak melengos dan tidak mempedulikan Emily yang sejak tadi bicara tidak jelas.


"Apa kamu marah, aku menggandeng mu di depan yang lain?" tanya Willy yang khawatir karena Julie sejak tadi hanya diam saja.


"Enggak Will.. mereka juga pasti akan tau karena aku duduk di sini." Ucap Julie santai.


"Lalu, apa kamu takut?" tanya Willy sambil merapihkan rambut Julie yang sedikit berantakan.


Julie menggeleng. Dia sudah biasa terbang dan ini bukan masalah besar untuknya. Dia justru suka sekali melihat awan ketika berada di atas.


"Aku akan istirahat dulu, Will. Bangunkan kalau sudah makan siang." Julie mengambil bantal dan memposisikan kepalanya dengan nyaman.


"Siap bos." Willy mencubit pipi Julie dengan gemas. Dia senang karena Julie sudah mulai nyaman dengannya.


Sementara itu, di belakang mereka, Tim juga memilih berpura-pura tidur daripada meladeni Emily. Tapi, Tim tetap sibuk dengan pikirannya. Dia yakin, saat ini ada orang yang mengikuti mereka di pesawat. Orang yang sama dengan yang kemarin dia lihat di dalam taksi. Sayangnya, Tim tidak dapat melihat wajah pria itu. Apakah pria itu salah satu orang suruhan keluarga Wilson? Jika iya, berarti dia, sudah tau jika Julie adalah Ana Wilson. Jika memang seperti itu, Tim harus selalu berada di dekat Julie dan tidak akan membiarkan Julie di bawa kembali oleh keluarga Wilson.

__ADS_1


__ADS_2