
Kantin
Julie memilih untuk makan di kantin daripada berada di ruangan bersama dengan wanita gila dan wanita pembohong seperti Raisa dan Emily.
Hari ini Adel dan Beni sepertinya tidak akan berada di kantor, jadi Julie harus sendirian kali ini.
Kantin di lantai 1 itu cukup sepi karena Julie sudah terlambat 1 jam dari jam makan siang seharusnya, yaitu jam 12. Lagipula Julie lebih suka jika suasananya tidak terlalu ramai.
Julie memilih makan gado-gado karena dia ingin mencicipi makanan lain di negara ini. Dia cukup senang selama ini menemukan makanan yang cocok di lidahnya. Dan harga makanan di sini begitu murah. Uang 8,5 juta yang dia tukarkan pun jumlahnya belum berkurang banyak.
"Hai Jul, boleh gabung?" Niko menarik kursi di sebelah Julie tanpa di persilahkan oleh Julie.
"Eh, Hai.." jawab Julie malas. Dia sudah tidak dapat protes lagi karena Niko sudah duduk membawa makanannya.
"Kok sendiri, Adel belum kembali?" tanya Niko basa basi.
"Kamu sudah jawab sendiri kan?"
Sikap cuek Julie ini membuat Niko semakin penasaran dengan gadis itu. Dia tetap makan dengan santai menemani Julie.
"Nanti sore aku antar kamu pulang lagi ya?"
tanya Niko lagi.
"Emm,, tidak perlu, Nik. Aku akan naik ojek online." sahut Julie dengan mulut penuh dengan makanan.
Dia sudah belajar menggunakan aplikasi ojek dari Adel. Ini sungguh sangat penting karena Julie tidak ingin merepotkan orang lain.
"Kenapa pulang naik ojek?" seseorang muncul di depan mereka.
Niko hampir saja tersedak ketika melihat Willian berdiri dengan ekspresi datar.
Sama seperti Niko, William duduk di kursi samping Julie yang masih kosong tanpa di persilahkan.
__ADS_1
"Pak William, anda baru makan pak?" ucap Niko dengan sopan.
"Ya, saya kan baru saja meeting dengan kamu. Kenapa harus tanya lagi?" cerca William.
"Kamu kenapa ga jawab? kenapa pulang naik ojek?" kini William bertanya pada Julie.
"Karena Adel sedang di luar."
"Kalau begitu, saya yang antarkan kamu pulang." jawab William santai.
"Saya lebih dulu yang mau antarkan dia." sanggah Niko.
Julie memandang William dan Niko keheranan. Kenapa tiba-tiba mereka jadi berebut mengantar Julie pulang?
Nafsu makan Julie hilang seketika karena kehadiran dua makhluk yang sekarang sedang saling memandang dengan sengit.
"Maaf,, Terima kasih tawaran kalian, tapi saya akan tetap naik ojek." Julie membuka suara sebelum mata mereka keluar dari tempatnya.
"Apa kamu sudah lama kenal Adel?" Julie membuka topik yang lain.
"Ya, kami teman SMA dulu. Jadi, aku sudah tau busuk-busuknya dia." jelas Niko dengan semangat.
"Kamu tidak ada perasaan dengan Adel?"
Niko seketika tertawa keras. Dia membuat orang-orang di sekitar mereka terkejut. "Dia bukan tipe ku.. Tipe ku itu kamu, Jul." Niko hendak memegang tangan Julie, tapi Julie gerak cepat dengan menarik tangannya dari meja.
"Bercanda, Jul."
Julie tersenyum kaku. Dia heran, kenapa orang-orang sangat pandai dalam berbohong. Meskipun Niko mendekatinya, Julie tau jika Niko sebenarnya menyukai Adel. Kemarin Niko senyum-senyum sendiri saat melihat Adel makan belepotan. Dia juga memberikan minumnya pada Adel.
*
*
__ADS_1
*
Sementara itu di ruangan, William kembali memikirkan Julie. Baru 2 hari bekerja di sini, tapi wanita itu bisa membuat pikirannya kacau. Tadi pagi sebenarnya William tidak ingin menemui Emily. Dia hanya ingin melihat wajah Julie. Dan tadi, sewaktu di kantin, William seolah mendapatkan jackpot karena kebetulan bertemu dengan Julie. Sayangnya, Julie begitu cuek. Dia juga menolak tawaran seorang CEO untuk mengantarnya pulang.
Siapa sebenarnya Julie? Kenapa dia berbeda dari wanita kebanyakan? Apakah pesona William sudah pudar karena gosipnya dengan Emily?
Di tengah pikirannya, seseorang masuk tanpa mengetuk pintu. Emily berdiri di depan William sambil bercak pinggang.
"Kamu makan siang dengan gadis aneh itu?" tuduh Emily dengan nada 3 oktaf dari biasanya.
William tidak heran kenapa Emily bisa tau secepat ini. Mata-mata di kantor ini sangat banyak. Kecepatan mereka dalam bergosip melebihi kereta shinkansen di Jepang.
"Kebetulan saja, Em.." jawab William sambil menghampiri Emily.
Dia memegang tangan Emily dan tersenyum pada wanita itu. "Apa kamu masih marah karena Julie mengerjai kamu?"
Emily tidak menjawab. Dia sangat kesal pada Julie yang tadi pagi mengerjainya. Kopi yang dibuat Julie itu hampir saja mengakibatkan William muntah. Emily jadi harus berbohong jika Julie yang menambahkan bubuk kopi ketika dia tidak melihatnya.
"Em,, sudah lah.. jangan bully anak baru itu." bujuk William lagi.
"Tapi kamu tampak begitu tertarik dengan dia." kata Emily sinis.
'Siapa yang tidak tertarik dengan Julie? Hanya pria bodoh yang tidak menyukainya.' batin William.
"Kamu cemburu dengan Julie?" William menarik Emily hingga Emily menabrak dada bidangnya. Dia memeluk wanita itu sambil membelai rambutnya.
"Em, aku sangat berterima kasih karena bantuan papa mu. Aku tidak mungkin melupakan jasa kalian." ucap William lirih.
Mendapat perlakuan lembut dari seorang William membuat Emily segera luluh.
"Jangan lakukan itu lagi, Will. Jangan dekati Julie." pesan Emily.
William mengangguk. Dia sebenarnya tidak begitu menyukai Emily. Emily memang cantik dan sangat seksi, tapi emosinya yang labil dan gaya bossy nya kadang membuat William kesal. William hanya berutang budi pada ayah Emily. Dia membantu William sewaktu Perushaan sedang collapse. Jika tidak ada ayah Emily, Xpose tidak akan berkembang dan semaju sekarang.
__ADS_1