
Negara baru, kebiasaan baru, suasana baru. Julie sangat bingung apa yang harus dilakukan lebih dulu. Dia sudah berada di luar bandara, tapi masalahnya kini adalah Julie harus menemukan kendaraan umum untuk mencari tempat tinggal. Sejauh Julie memandang, dia tidak menemukan bus atau trem listrik di sekitar pintu keluar.
"Mau ke mana neng?" tanya seorang bapak-bapak yang mendekati Julie.
"Emm.. saya ingin cari kost, pak. Apakah bisa bantu?" jawab Julie ragu-ragu. Baru pertama kali ini Julie menggunakan bahasa Indonesia. Pasti orang ini sudah tau jika dia orang asing karena logat nya beda.
"Ayo, naik taksi bapak saja." Bapak itu langsung mengambil koper Julie. Dia membawa gadis itu ke sebuah mobil sedan warna biru dengan tulisan blue bird.
"Neng mau nya kost di daerah mana?"
"Di mana saja pak, yang bersih." Julie sudah duduk di bangku penumpang. Dia melepaskan topi dan juga perban yang menutupi sebagian wajahnya.
"Kenapa kepalanya neng?" tanya sopir itu lagi.
"Oh, ini saya baru saja kecelakaan pak." Kali ini Julie sudah berhasil melepaskan semua perbannya.
Wajah Julie sudah lebih sempurna sekarang. Dia menjadi lebih tirus dan hidungnya juga tidak terlalu mancung seperti orang bule.
"Habis kecelakaan kok cantik bener sih neng." goda sopir taksi sambil mengerlingkan mata genit setelah melihat penampilan Julie dari spion tengah.
Julie memilih diam. Seharusnya dia menuruti Tim untuk mencarikannya tempat tinggal lebih dulu. Sekarang Julie malah sedikit takut dengan sopir yang sejak tadi bolak-balik memandang ke arah belakang.
"Pak, saya turun di depan saja." teriak Julie saat melihat ada tulisan terima kost yang cukup besar di sebuah bangunan bertingkat 3.
Dia mengeluarkan dompet, tapi dia bingung harus menggunakan uang apa. Ya, Julie lupa menukar uang dan saat ini uangnya masih dalam bentuk dolar.
"Kenapa neng?" tanya sopir itu lagi ketika melihat gelagat Julie yang resah.
"Emm.. jadi berapa pak?"
"250 ribu."
Julie menghela nafas berat. Dia masih belum mengerti berapa yang harus dikeluarkan. Akhirnya Julie mengeluarkan uang 250 dolar.
"Ini pak."
__ADS_1
Sopir itu menerima dan membolak balik uang dari Julie. "Ini uang apa neng?"
"Dolar America." kata Julie gugup. Dia takut uang yang diberikan kurang atau si sopir tidak mau menerima uang asing.
Sopir itu membuka ponselnya. Tak lama kemudian, dia tersenyum pada Julie. "Ya sudah neng. Uang nya saya terima. Neng, benar mau turun di sini?"
Julie menangguk. Dia segera turun karena tidak ingin memperpanjang urusan dengan sopir taksi yang aneh itu.
*
*
*
Kini Julie menatap rumah yang memiliki 3 lantai di depannya. Rumah itu bukan bangunan baru, tapi sepertinya layak untuk di huni.
'Tiiiiiiiiiin' suara klakson itu membuat Julie jantungan.
Sebuah motor berhenti tepat di belakang Julie dengan menyisakan jarak hanya 1 meter saja. Pengendara motor itu melepaskan helmnya.
Tampak seorang wanita dengan kulit sedikit coklat dan potongan rambut bob tersenyum pada Julie.
"Emm.. saya Julie. Saya ingin tanya apakah saya bisa kost di sini?" kata Julie dengan canggung.
"Saya Adel, anak kost di sini." Adel turun dari motor matic nya, lalu menghampiri Julie supaya bisa bicara lebih nyaman. "Jadi kamu mau kost di sini?"
Julie mengangguk cepat. "Bagaimana caranya?"
"Ya udah. Ikut aku. Aku akan antar kamu ke ibu kost."
Adel membuka pintu gerbang dengan kunci di tangannya. Julie buru-buru menarik kopernya yang cukup berat untuk mengikuti Adel.
Dia menengok ke kanan kiri untuk melihat keadaan tempat yang akan ditinggali. Di depan ada taman bunga yang cantik dan kolam ikan koi yang cukup lebar. Lalu, di garasi berjejer motor dan mobil, mungkin milik dari beberapa orang yang tinggal di sini.
"Jul, ayo.." panggil Adel.
__ADS_1
Julie tersadar dan kembali mengikuti Adel yang kini masuk ke dalam sebuah ruangan bernuansa ungu.
"Maklum, yang punya janda. Jadi suka sekali warna ungu." bisik Adel sambil terkekeh.
Julie hanya tersenyum kecil menanggapi Adel. Dia tidak mengerti apa itu janda. Dan apa hubungannya janda dengan warna ungu?
"Eh, ibu, kebetulan nih ketemu di sini." Adel memegang tangan seorang wanita berusia 50an yang tampak kurang ramah itu.
"Kenapa lagi? Saya tidak mau kasih kamu mundur lagi. Kamu harus bayar tepat waktu."
"Enggak kok Bu. Saya justru mau nambahin pundi-pundi ibu. Ini saya bawa temen saya yang mau nge kost di sini."
Wanita tua itu menatap Julie dari bawah ke atas. "Jadi kamu mau kost di sini?"
"Iya bu..Kalau boleh saya ingin kost di sini." kata Julie dengan formal.
"Boleh saja. Biaya nya 2,5 juta sebulan. Itu sudah kamar mandi dalam. Bagaimana?"
Lagi-lagi urusan uang. Julie harus segera menukarkan uangnya supaya tidak bingung. Julie tidak tau apakah uangnya di dompet cukup untuk membayar biaya kost.
"Jul.." kini Adel berpindah tempat ke sebelah Julie yang malah melamun.
"Maaf, 2,5 juta itu seberapa ya?" bisik Julie dengan suara super pelan. Dia mengeluarkan dompetnya dan membuka di depan Adel.
Adel menilik dompet Julie yang berisi beberapa lembar uang dolar. Dalam hati tentu saja Adel bertanya-tanya apakah Julie sedang pamer atau pura-pura bodoh?
"Sekitar 170 dolar." jawab Adel setelah menghitung dengan kalkulatornya.
"Hah? Apa biaya kost lebih murah daripada biaya naik taksi?"
"Kenapa?"
"Tadi aku berikan uang 250 dolar pada sopir taksi." kata Julie polos.
Fix, Adel menyimpulkan jika Julie ini bukan pamer, tapi bodoh. Adel menyambar dompet Julie, lalu mengambil uang yang sesuai dengan biaya kost Julie.
__ADS_1
"Bu,, Kamar Julie di lantai 3 kan?" Adel mengambil satu koper Julie, lalu menarik wanita itu untuk segera pergi sebelum Ibu Kost itu protes.
Julie yang masih kebingungan hanya pasrah saja ketika Adel membawanya naik ke atas.