
Seorang suster mendekati Langit dan Nabila yang sedang duduk di kursi tunggu.
"Maaf nyonya,apa dengan keluarga tuan Badai ?"tanya suster tersebut pada Nabila dan Langit.
"Benar,saya mamanya.Ada apa sus,apa yang terjadi dengan anak saya?" tanya Nabila khawatir dengan kondisi Badai.
"Dokter Vano ingin menyampaikan sesuatu hal mengenai pasien bernama Badai.Jadi,keluarga pasien bisa ikut saya menemui beliau," ucap sang suster.
"Baik sus ,mari!!" ucap Nabila melangkah bersama Langit ke ruang dokter yang menangani Badai.
Tok tok tok
"Masuk." terdengar suara dari dalam ruangan tersebut.
Suster yang bersama Langit dan Nabila membuka pintu ruangan tersebut.
"Sore dok, mereka keluarga Tuan Badai dok." ucap si suster tersebut.
"Oh.. silahkan nyonya,tuan duduk !" ucap dokter Vano.
Langit dan juga Nabila duduk di seberang meja kerja Vano tepat di depan nya.
"Bagaimana keadaan anak saya Badai dok?" tanya Nabila khawatir.
"Begini nyoya, untuk sementara waktu tuan Badai belum sadar dan masih dalam keadaan koma.Kita akan selalu memantau perkembangan keadaan tuan Badai dan maaf dengan terpaksa saya sampaikan pada keluarga untuk memberikan beliau semangat dan selalu mendukung beliau.Kemungkinan besar setelah tuan Badai sadar, berpotensi besar menderita kelumpuhan dari bagian panggul sampai kaki beliau .Akibat dari saat kecelakaan posisi beliau terhimpit badan mobil."ungkap Vano dengan segala kemungkinan besar yang terjadi pada diri Badai nantinya.
Nabila menutup mulutnya karena terkejut mendengar kenyataan yang pahit untuk anak sulungnya.
"Ya Allah ,Badai..," gumam Nabila mengingat kesibukan anaknya itu yang tak bisa di tinggalkan begitu lama.
Apalagi mendengar ucapan Vano yang mengatakan kemungkinan terbesar dari imbas kecelakaan tersebut adalah kelumpuhan yang di deritanya Badai.
__ADS_1
"Tapi,masih bisa di sembuhkan kan dok?" tanya Langit juga merasa sedih dengan apa yang menimpa kakak kandungnya itu.
Walaupun memang kenyataannya hubungan keduanya tak sedekat seperti kakak adik pada umumnya namun, Langit selalu mengingat perkataan papanya yang memintanya untuk menjaga Badai dan mamanya.
Waktu dulu dia tak mengerti apa yang di maksudkan oleh sang papa berkata demikian.Namun,saat ini Langit paham akan segala hal yang kemungkinan akan terjadi pada keluarganya.
Apalagi saudara_saudara sang papa yang masih mengincar perusahaan milik keluarga sang kakek.
...----------------...
...****************...
"Apa yang sebenarnya terjadi sama lo,terlalu jauh lo gue gapai Badai,Lo Abang gue tapi, kita layaknya orang asing selama bertahun-tahun." ucap Langit menatap Badai yang terbaring dengan banyak alat di tubuhnya.
Badai belum bisa merespon apa yang di katakan Langit.Karena memang keduanya terlalu jauh di pisahkan jarak oleh sang kakek.
"Gue janji,gue bakal cari siapa yang sudah buat lo begini.Begitupun kecelakaan yang membuat papa meninggal waktu itu." ucap Langit berjanji pada saudara nya dan dalam hati Langit bertekad untuk menyelesaikan tugasnya sebagai anak dan juga adik yang melindungi keluarganya.
"Gue balik,cepatlah bangun.. perusahaan butuh lo." ucap Langit lagi dan beranjak dari ruang ICU .
"Siapa yang mengijinkan kamu masuk ke ruangan Badai?!" sentak sang kakek yang melihat Langit dengan tajam.
"Nggak ada,cuma aku masih menganggap dia sebagai kakakku dan aku jadi saudaranya .Ingat kek,aku anak Erlangga Pradipta cuma itu ." ucap Langit dan menatap sang kakek dengan tatapan sengit.
"Papa,sudah.Papa jangan bersikap egois untuk sementara ini.Anak ku sedang terbaring mengenaskan di dalam sana.Kalau papa mau menyalahkan Langit itu tidak adil buat Langit.Papa inget kan,kalau papa sudah buang anak ku jauh dari tempat papa tinggal dan tidak ada yang buat pusing dengan laporan anak buah papa tentang Langit yang suka ke Club' malam dan membuat keributan." ucap Nabila bersikap selayaknya seorang ibu yang membela anaknya pada ayah mertuanya yang sungguh diktator.
Kakek Sameer hanya bisa diam mendengar ucapan sang menantu .Dia tidak bisa menjawab ucapan Nabila karena memang sudah beberapa bulan ini dia tak di pusingkan dengan tindakan Langit yang selalu membuat ribut di Club' malam.
...****************...
Langit masuk ke dalam gedung Fravas Group.Para karyawan melihat kehadiran anak ke dua dari keluarga Erlangga Fravash membuat mereka bertanya-tanya ada apa gerangan anak yang terkenal banyak melakukan skandal menginjakkan kakinya di perusahaan keluarganya itu.
__ADS_1
Dengan balutan busana kemeja dan celana jeans Langit masuk dengan pandangan lurus dan memasang wajah datarnya.
"Selamat pagi tuan muda ," sapaan Nio asisten pribadi Badai menyambut dirinya di depan pintu ruangan kerja Badai dengan ekspresi terkejut.
"Hemmm.." jawab Langit singkat membuat Nio terdiam sejenak.
"Siapkan semua berkas yang perlu Badai periksa." ucap Langit dengan nada dingin dan masuk melangkah ke kursi kebesaran Badai.
Nio yang mendapatkan perintah dari Langit dengan segera dia pun menyiapkan semuanya.Nio langsung masuk ke dalam ruangan Badai dan menyerahkan setumpuk dokumen dan meletakkannya ke atas meja kerja Badai.
"Ini semua dokumen yang harus tuan muda Badai periksa." ucap Nio dengan nada sopan.
Walaupun terkenal dengan sikap urakan jika Langit sudah mode bekerja akan fokus.
"Tolong kamu siapkan ruangan lain untuk kerja saya,tolong berita Badai yang mengalami kecelakaan jangan sampai bocor ke luaran.Anggap saja Badai sedang ada perjalanan bisnis dalam waktu lama.Saya nggak ingin berita Badai yang kecelakaan dan keberadaan saya membuat kisruh di luaran dan itu akan berpengaruh terhadap saham perusahaan." ungkap Langit mengintruksikan Nio.
"Baik tuan muda,ada lagi yang bisa saya bantu?" tanya Nio.
"Tolong, persiapan diri kamu untuk bekerja sama dengan asisten saya.Jangan sampai kamu menghambat proses kerja saya selama saya disini menghendle pekerjaan Badai." ungkap Langit mengingatkan asisten Badai untuk menerima asisten Langit untuk menghandle pekerjaan.
"Ba_baik tuan ,saya akan siapkan semuanya yang tuan muda butuhkan,kalau begitu saya undur diri.." pamit Nio keluar dari ruangan Badai.
Setelah Nio keluar dari ruangan Langit menghubugi seseorang yang akan bekerja padanya.
"Silvi ,tolong kasih tahu Exel supaya ke Fravash Group bertemu saya." ucapan itu terlontar dari mulut Langit pada wanita yang ada di seberang sana.
"Baik bos." jawabnya singkat dari seberang sana.
Panggilan langsung Langit akhiri dan kembali fokus dengan dokumen-dokumen yang ada di atas meja kerjanya itu.
Di tempat lain tepatnya di tempat Nazia berada semenjak datangnya Imron mengatakan jika Langit harus pergi ke Jakarta karena ada pekerjaan yang dia harus dilakukan membuat Nazia merasa kecewa karena merasa tak dianggap sebagai istri.
__ADS_1
Apalagi setelah menghubugi ponsel Langit tak ada tanda-tanda ponsel itu aktif membuat Nazia merasa di khawatir.
Bersambung