
Mobil yang membawa Sameer kini berhenti di parkiran sebuah pemakaman.
Sameer keluar dari mobilnya dan dengan bantuan sang supir yaitu Udin ,dia melangkah dengan tongkat penyangga dengan kepala elang yang selalu dia bawa.Sedangkan Udin dengan setia mengikuti tuan besarnya ke tempat peristirahatan terakhir dua orang yang dia cintai.
Di depannya kini tiga makam yang berdampingan yaitu Erlangga Fravash dan Maryamah atau Maryam disana juga ada makam calon anak Erlangga dengan Nabila yang di beri nama Maira.
Dua makam orang yang dia sayangi yang sudah meninggalkan dunia dia pandang bergantian.
"Kamu tunggu di mobil saja Din." ucap Sameer pada supirnya itu.
"Baik tuan besar." jawab Udin dan lekas beranjak dari tempatnya berdiri setelah meletakkan bunga dan segala sesuatunya yang di butuhkan tuan besar.
Setelah beberapa Sameer terdiam dan memastikan sang supir sudah berlalu jauh darinya Sameer pun melangkah ke samping makam sang istri dan disebelah makam memang ada semacam tempat yang bisa buat duduk ,jadilah dia duduk di sana.
"Maryam aku datang." ucap Sameer lirih sambil memungut dedaunan yang jatuh di atas makam istrinya.
"Maaf aku baru bisa menemui mu.Aku begitu sibuk ."
Sameer terkekeh dengan ucapannya sendiri.Sibuk dalam artian sibuk dengan pikiran dia beberapa hari ini.
Apalagi saat mengetahuinya bagaimana sikap Langit yang sama pada dirinya.Langit cucunya yang dia anggap tak berguna,nyatanya selama bertahun -tahun sudah melindungi dirinya dan keluarganya dalam sikap berandalanya.
Selalu membanggakan cucu sulungnya membuat dirinya lupa akan cucu nya yang lain.Langit yang sejak kecil diacuhkan oleh kakeknya pun tak pernah merengek meminta apa yang kakeknya berikan pada kakaknya selama ini.
Dia begitu dekat dengan kedua orang tuanya terutama Erlangga sang ayah.Sampai di mana Erlangga meninggalkan mereka untuk selamanya.
Rasa hancur di hati Sameer tak sebanding dengan kesakitan Langit dan Nabila.
Karena Nabila secara bersamaan harus kehilangan anak yang ada di kandungannya dan juga suaminya.
"Adiyaksa kembali.Dia dengan dendamnya menghancurkan semua yang kita rencanakan.Karena keegoisan ku kamu,dan mungkin juga semua anggota keluarga ku mengalami hal yang tidak pernah kita duga."
"Langit sampai saat ini masih membenciku.Dia seperti dirimu,dia sebenarnya lembut namun..dia begitu keras dengan begitu susah untuk memaafkan seseorang yang dia rasa sudah melukai hati dan perasaannya."
Mata Sameer beralih pada makam putranya Erlangga.
__ADS_1
"Erlang, anak-anak mu sudah besar dan ternyata Langit sudah menikah.Namun,aku belum sempat berdekatan dengan menantu Fravash.Dia kemarin keguguran Lang,apa kamu membenci papa seperti putramu.Dia begitu dingin tak bisa di gapai dengan mudah.Nazia begitu pandai mengambil hati putra muitu.Badai ,sudah sembuh dan kini sudah kembali ke perusahaan.Semoga Badai menemukan wanita yang baik dan bisa menerima Badai apa adanya."ungkap Sameer
Sameer makam begitu lama.Rasanya tak cukup sehari bercerita tentang keluarganya di depan pusara anak ,cucu dan istrinya itu.
Rasanya begitu lega walaupun hanya sebatas bercerita denganbatu nisan.
Setelah terasa lelah Sameer pun akhirnya memutuskan untuk pulang ke kediamannya.
Empat puluh lima menit mobil yang di tumpangi Sameer masuk ke halaman rumahnya dan kebetulan bersamaan dengan mobil Badai juga baru masuk ke halaman rumah itu juga.
"Sore kek." sapa Badai saat dirinya sudah di luar mobil dan berhadapan dengan sang kakek.
"Hemm..kamu baru sampai rumah?" tanya Sameer.
"lya,kakek dari mana? tumben sore gini baru pulang?" tanya Badai dengan kekepoannya.
"Dari makam." jawab Sameer singat dan jujur.
Badai menghentikan langkahnya saat mendengar jawaban sang kakek.
"Kenapa kakek kesana sendirian,kenapa nggak ngasih tahu aku?"
"Kenapa harus ngasih tahu kamu.Kakek rasa kamu sedang sibuk dengan urusan kamu bukan? apalagi perempuan itu sudah tak ada hubungannya dengan adikmu." sindir Sameer.
Mendengar sindiran sang kakek Badai hanya bisa mengusap tengkuknya karena telahketahuan sang kakek dengan apa yang di lakukan dirinya.
Saat masuk ke rumah terlihat Langit dan Nazia berjalan masuk dari arah paviliun dengan menyeret koper besar di tangan Langit.
"Lang,Zia,kalian mau kemana?" tanya Badai saat melihat pasangan suami istri itu berdiri tak jauh darinya dan sang kakek.
Langit dan Nazia saling pandang.
"Kita akan keluar dari rumah ini."jawab Langit membuat Badai dan Sameer terkejut.
Sameer yang sempat terkejut dengan jawaban Langit langsung merubah ekspresi wajahnya jadi biasa.
__ADS_1
"Kenapa,apa ada masalah? kenapa kalian malah keluar dari rumah ini,saat kemarin memanglah Zia harus menenangkan diri untuk semuanya yang telah terjadi.Tapi, kenapa sekarang malah kalian mau pindah.İni kan rumah..
" lni bukan rumah kami.Aku sudah menikah dan kewajiban aku memberikan tempat tinggal dari jerih payahku sendiri untuk istriku.Walaupun tak mewah,cukup untuk kita berdua dan juga layak do tempati,itu bukan masalah." potong Langit.
"Kamu tunggu sebentar,aku mau ambil koper ku di kamar." ucap Langit dan berjalan menuju kamarnya.
Tak lama kemudian,Langit menyeret koper sedang keluar dari kamarnya dan tas gunung di punggungnya.
"Lang.." panggil Nabila yang keluar dari kamarnya dengan menenteng tas besar di tangannya.
"Mah,mama mau kemana,kok bawa tas besar gitu?" tanya Badai saat melihat kearah sang mama.
"Mama mau nginep beberapa hari di rumah Langit.Setelah dari sana,mama akan kembali dan mengambil sisa barang mama." ucap Nabila.
Nazia dan Langit masih diam membisu tak ada kata yang keluar dari mulut mereka.
"Maksud mama apa,mama mau ninggalin aku sama kakek?" tanya Badai memandang mamanya dengan pandangan sendu.
"Mama harus tahu diri,mama bagkan tak berhak tinggal disini.Ayo Lang,Naz,kita berangkat." ucap Nabila.
Sedangkan Sameer yang melihat semua yang di lakukan menantu dan cucunya hanya bisa diam tanpa harus mengatakan apapun.
Rasanya mulutnya seperti terkunci.Dalam hati ingin mencegah mereka untuk tidak meninggalkan rumah besar miliknya.Namun,nyatanya untuk menggerakkan mulutnya untuk bicara dia rasanya kelu dan tak mampu mengatakan apapun.
"Kek.." ucap Badai lirih meminta Sameer mencegah mereka pergi.
Namun,bukannya mencegah Sameer malah melangkah menuju kamarnya dan menutupnya dengan sedikit kencang .
Brakkk, 💢
"Mah,Lang..kenapa kalian seperti ini? kalian mau buang aku?" tanya Badai dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
Jelas terlihat oleh Nabila dan juga Langit ekspresi Badai saat ini.Ada rasa keputus asa_an dimata Badai.
Bersambung
__ADS_1
Buat para readers jangan lupa like dan terus baca kisah mereka yaa🙏