
Langit melangkah masuk ke dalam rumah Fravash.Di sana terlihat mamanya sedang duduk santai di ruang keluarga.
"Assalamualaikum mah." ucap Langit melangkah mendekati sang mama lalu mencium tangan mamanha dengan takzim.
"Wa'alaikumsalam,baru pulang kamu nak.Duduk dulu,mama mau bicara sama kamu." ucap Nabila menepuk sofa sebelah kanan nya.
Langit pun menurut dan langsung menghempaskan tubuhnya di atas sofa.
"Sepertinya kamu lelah banget,mau mama buatlah Wedhang jahe biar tubuh kamu lebih baik." tawar Nabila.
"Boleh lah mah,rasanya badan Langit nggak enak banget." ujar Langit menerima tawaran mamanya.
Nabila pun akhirnya melangkah meninggalkan Langit yang sudah sibuk dengan ponselnya.
Langit berusaha untuk menghubungi Nazia namun, panggilan darinya tak ada yang Nazia jawab.
Rasa penyesalan yang tak ada habisnya.Kehilangan calon anak dan sekarang istrinya belum bisa menjadi dirinya.
"Lang.." panggil seseorang.
Langit menoleh ke belakang dan terlihat Badai dan kakek Sameer melangkah masuk ke dalam rumah besar itu.
Langit tak mau berdebat dengan kakeknya dan dia memilih untuk pergi dari hadapan sang kakek.
"Langit tunggu !!" teriak sang kakek menghentikan langkah Langit yang akan melangkah ke arah tangga.
Langit membalikkan tubuhnya dan menatap kearah kakeknya yang melangkah dengan tongkatnya.
"Kemarilah,ada yang kakek ingin bicarakan dengan mu juga dengan Badai." ucap Sameer dan dia pun duduk di sofa ruang keluarga.
Mau tak mau akhirnya Langit pun kembali ke ruang keluarga dan duduk di seberang sang kakek .
"Kapan kamu menikah dengan gadis itu?" tanya sang kakek.
"Kenapa kek,dia Nazia..istri Langit yang Langit nikahi hampir satu tahun ini.Kenapa?"tanya Langit balik.
__ADS_1
"Dimana dia, harusnya dia sudah keluar dari Rumah Sakit bukan?" tanya Sameer lagi.
Langit mengembuskan napas kasar dan menatap wajah kakeknya yang menatap dirinya dalam.
"Dia sudah keluar dari Rumah Sakit dan sekarang ada di rumah Langit.Dia tidak akan pernah mau menginjakkan kakinya kesini jika permasalahan keluarga Fravash belum selesai.Dia tidak mau terlibat." ungkap Langit.
Sameer menyandarkan tubuhnya di sofa dan mengambil nafas dalam.
"Apa dia tidak mau bertemu kakek,apa dia sakit hati dengan ucapan kakek?' tanya Sameer.
"Tidak ,dia belum mau kembali pada Langit.Bahkan dia ingin kembali ke kampung dan hidup disana."jawab Langit .
"Hemmm.."
Tak ada tanggapan dari Sameer dan dia langsung berdiri dari duduknya dan melangkah meninggalkan Badai dan Langit yang masih bengong dengan sifat kakeknya yang tak biasa.
"Gimana hubungan lo sama Shafa?" tanya Badai dengan nada dingin.
Langit menatap kakaknya itu sekilas.
"Gue sama Shafa sudah nggak ada apa-apa.Berjuanglah selagi masih mampu lo perjuangkan." ucap Langit dan menepuk bahu kakaknya itu.
Dia mengambil gelas itu dan berlalu dari hadapan sang mama.
Nabila hanya bisa menatap punggung anak bungsunya itu dengan tatapan sendu.
Mama Nabila juga melihat kearah Badai yang sedang duduk termenung di sofa ruang keluarga.
Nabila perlahan mengayunkan langkahnya ke arah putra sulungnya dan mendudukkan dirinya di samping Badai.
"Mamah." ucap Badai saat menyadari seseorang yang duduk di sampingnya.
"Ada apa,ada masalah?" tanya Nabila menggenggam tangan putra pertamanya itu.
"Nggak ada mah,jangan khawatir." ucap Badai dengan senyum yang di paksakan.
__ADS_1
"Mama tahu kamu nggak baik-baik saja.Mungkin kamu juga nggak sejalan dengan pemikiran adik kamu.Bagaimanapun sikap adik kamu yang seolah mempermainkan perasaan Shafa dan Nazia itu tidak baik.Apalagi perasaan Nazia.Pastinya ada rasa tak nyaman dan rasa cemburu di hati Nazia pada Shafa." ucap Nabila.
"Shafa pasti kecewa dengan kenyataan yang terjadi mah." ucap Badai.
Nabila tersenyum tipis mendengar ucapan Badai.Ternyata Badai sangat memikirkan perasaan Shafa.Gadis yang dia cintai selama ini.Bukan Nabila tidak tahu,namun..saat pertama kali Shafa datang kerumah mereka itu sangat terlihat sikap Badai yang tak pernah ada keinginan untuk sembuh karena seseorang yang dia cintai sudah jadi milik orang .
Apalagi mengingat keadaanya waktu itu yanv masih dalam keadaan di kursi roda.
"Kamu mencintainya?"tanya Nabila tiba-tiba tanpa memandang wajah putranya.
Badai terjingkat mendengar pertanyaan sang mama.
"Maksud mama?" tanya Badai pura-pura tidak tahu.apa yang sebenarnya mamanya bahas.
"Kamu sudah dewasa.Bukan ABG lagi yang mengandalkan kata cinta.Kamu perlu berpikir realistis.Kamu begitu khawatir dengan perasaan Shafa.Bahkan kamu nggak mau tahu apa yang di rasakan adikmu saat ini." ucap Nabila dengan senyum getir.
"Bukan begitu mah..Langit sudah punya Nazia,dia laki-laki mudah move on."ujar Badai.
"Kalau Langit laki-laki dan sama juga dengan kamu bukan? kalau menurut kamu Langit mudah untuk move on kenapa kamu tidak? kamu masih berputar dalam kisah masalalu tanpa mau memperjuangkannya.Lain dengan adik kamu yang seolah seorang berandalan tak berguna.Tapi, asal kamu ingat..dia sangat memikirkan orang yang tak pernah menganggap dirinya ada yaitu kamu serta kakek."tutur Nabila dengan gamblang.
Nabila muak dengan kedaan keluarga yang toxic itu.Anak sulungnya masih takut akan kegagalan yang akan dia alami kedepannya.
Sedari kecil dia di tuntut untuk sempurna.Semua serba sempurna tanpa cela.Namun,hidupnya hanya
melangkah di tempat ,tidak berkembang.Hanya memikirkan hasil terbaik tanpa menerima kegagalan.
"Aku beda sama Langit mah,dia ...
"Kalau kamu punya perasaan Langit pun punya.Dari kecil yang mama lihat kamu terbiasa dengan didikan keras dari kakek tapi,Langit beda dengan kamu.Dia lebih baik dianggap tak berguna di mata kalian.Tapi, apa kamu tahu apa yang selama ini saudara kamu itu lakukan untuk kamu..?" potong Nabila dengan gamblang mengungkapkan unek-uneknya selama ini.
"Kenapa mama selalu membela Langit ,mama tak sedikitpun dalam hidup mama melihat aku mah."ucap Badai dengan suara lantang.
"Mama nggak membela siapapun.Kalian anak mama,sama sekali mama nggak membedakan kalian berdua.Kamu banyak yang peduli sama kamu,Langit..dia hanya hidup dengan perhatian mama.Apa pernah kamu tahu kabar saudaramu itu,bahkan untuk menanyakan kabarnya saja tidak kan.Kalaupun enggan bertanya sama mama ,kenapa nggak sebaiknya kamu cari tahu,katanya CEO hebat,andalan dan pewaris utama Fravash Group tapi, dengan saudara saja nggak ada empatinya sama sekali .Kamu ingat perkataan mama mu ini Badai...
Sejak kamu SMA,Langitlah melindungi mu.Berkelahi dengan orang-orang itu demi kamu,demi melindungi keselamatan kamu dari musuh keluarga Fravash!!"
__ADS_1
Ungkapan Nabila membuat Badai limbung mendengar penuturan mamanya tentang adiknya yang dianggap tak berguna nyatanya dia mendengar banyak pujian dan juga kenyataan jika Langit menjadi pelindungnya dari dulu.
Bersambung