
Mobil yang di kendarai Vano kini masuk ke halaman sebuah rumah mewah.
Ketiganya turun dari mobil dan melangkah masuk ke dalam rumah besar itu.
"Suster Ana,kenalkan ini Zia.Dia akan menjadi asisten suster,biar suster tidak terlalu capek buat ngurusin Opa."ucap Lala mengenalkan Nazia dengan menyebut namanya Zia.
"Saya Zia sus,mohon bimbingannya." ucap Zia pada suster Ana dengan sopan.
"Saya Ana Insyaallah kita bisa jadi patner baik." ucap Ana wanita yang sudah berumur 40 an tahun.
Nazia bersyukur karena masih ada orang yang mau menolongnya dalam kesusahan.Apalagi dengan dirinya yang benar-benar tak punya apapun yang dia punya.Semua hilang tanpa jejak.Namun,Vano pun berusaha untuk membantu Nazia untuk melaporkan atas perampokan yang dia alami.
Nazia tak mempermasalahkan uang yang ada di dalam dompetnya.Dia hanya ingin surat-surat yang ada di tasnya kembali.
...****************...
Di tempat lain Langit sedang di sibukkan dengan pekerjaan yang sangat menyita waktu.Apalagi saat ini tanpa sadar Langit sudah mengkhianati pernikahannya dengan Nazia.
Shafa sang pujaan hati kini ada di sampingnya. Mendukungnya dalam pekerjaan nya.Shafa memutuskan untuk berkarier di Indonesia.
"Langitnya ada ?" tanya Shafa pada Eva sekretaris Langit.
"Nona Shafa,maaf pak Langit sedang meeting sama pak Exel.Nona mau menunggu di dalam?" tawar Eva.
"Hemmm.." jawab Shafa menatap Eva dengan tatapan tak suka.
Shafa gadis yang pencemburu dan posesif.Dia tidak ingin barang miliknya di rebut atau sekedar di sentuh orang.Seperti pada Langit ,dia begitu posesif apalagi menurutnya Langit miliknya sedari dulu dan hanya miliknya.
Shafa duduk di sofa ruangan Langit dengan memainkan ponselnya.
"Kenapa Langit lama banget sih," gumam Shafa jenuh menunggu Langit yang sedang meeting.
Ceklek.
__ADS_1
Lima belas menit kemudian pintu ruangan Langit terbuka dan menampakkan sosok laki-laki yang gagah dengan jas hitam nya masuk ke dalam ruangan.
"Honey, kamu lama sekali meeting nya aku jenuh nunggu kamu " protes Shafa dengan suara mendayu nan manja.
Shafa langsung memeluk tubuh atletis Langit dan tanpa sungkan ingin mencium bibir Langit namun, lagi-lagi Langit menolaknya.Shafa terlihat kecewa dengan perlakuan Langit.Sudah tiga bulan berpacaran dengan Langit,namun Shafa selalu kena tolak saat ingin sekedar menciu* Langit.
Saat Langit ingin melakukan layaknya pacaran dewasa selalu bayangan Nazia melintas dalam otaknya.
"So_sorry,aku nggak bisa Shaa..lagian ada Exel nggak enak juga." ucap Langit memberikan alasan.
Shafa memanyunkan bibirnya mendengar alasan Langit,dia pun menatap tajam asisten kekasihnya itu.
"Kamu nggak cinta sama aku ya Lang,apa yang kurang dari aku,biar nanti aku akan ke salon dan...
"No Shaa..kamu cantik,menarik namun,aku ingin menjaga kamu sampai nanti saatnya kita menikah." ucap Langit melontarkan kata keramat itu.
Langit meruntuki kecerobohan mengatakan sebuah pernikahan pada Shafa,sedangkan dia teringat Nazia yang sudah dia tinggalkan tanpa kabar.
"Menikah,aku mau Langit.Aku dengan senang hati kalau nantinya aku harus berhenti menjadi model,aku nggak akan mungkin menolak kalau kamu ngajak aku nikah." ucap Shafa dengan wajah berbinar bahagia.
"Kapan?"tanya Shafa antusias.
"Ah kapan,Kapan Apa?" tanya Langit balik.
"Iiihhh Langit,kamu jangan main-main, kapan kamu mau nikahin aku?" tanya Shafa serius.
"Nanti,kalau sekarang aku belum bisa.Aku harus dilakukan pekerjaan Badai untuk sementara waktu sampai dia sembuh." jawab Langit
"Sampai sembuh,kamu yakin kalau dia bisa seperti dulu,sedangkan kita tahu kalau dia layaknya orang yang hidup segan mati tak mau." ucap Shafa.
Langit menatap wajah Shafa tajam , mendengar ucapan Shafa rasanya sangat tidak nyaman mendengar kata-kata itu.
"Jangan pernah ngomong begitu lagi aku nggak suka Shafa,yang aku inginkan Badai harus bisa sembuh apapun dan bagaimanapun dia harus sembuh,aku akan bawa kemanapun asalkan dia sembuh." ucap Langit dengan wajah yang terlihat memerah menahan emosi nya.
__ADS_1
Melihat perubahan ekspresi Langit membuat Shafa ketakutan.
"I_iya..ma_maafin aku Langit,aku nggak bermaksud untuk membuat kamu tersinggung dengan kata-kata ku,maaf sekali lagi.Jangan marah yaa..,"bujuk Shafa dengan menyentuh lengan Langit dan langsung memeluknya berusaha meredakan emosi kekasihnya itu.
Shafa takut melihat Langit yang begitu murka jika perihal Badai.
...****************...
"Langit,kamu bisa bantu mama buat bujuk Badai untuk terapi,sudah lebih dari lima belas orang perawat yang Badai buat keluar dari pekerjaan untuk menjaga dia." ucap Nabila saat ada meja makan bersama Langit.
"Hahh..dia kenapa lagi mah,kenapa dia tidak mau melakukan terapi,aku juga sudah susah payah mencari perawat untuk menjaga Badai."ucap Langit yang sudah geram dengan tingkah kakaknya itu.
"Kakek akan bawa dia ke Bogor buat dia lebih refresh.Semoga saja dia lebih suka tinggal disana." ucap Sameer menimpali pembicaraan menantunya juga cucunya.
Kakek Sameer yang kini sudah mulai menerima Langit dan bersikap layaknya seorang kakek walaupun sikap Langit masih selalu cuek dengan kehadiran kakeknya.Sameer baru menyadari kesalahannya saat beberapa bulan ini melihat kinerja Langit yang begitu banyak membatu mengembangkan perusahaan.Langit juga selalu berhasil meyakinkan klien untuk bekerja sama dengan perusahaan nya.
Anak yang dulu dia sangka bod*h ternyata seorang anak yang jenius.Sungguh rasanya Sameer ingin memeluk dan meminta maaf pada cucunya itu namun,gengsinya terlalu tinggi sama seperti Langit yang mempunyai pendirian seperti kakeknya.
"Aku rasa jangan dulu kek,kalau dia di bawa ke Bogor aku takut di berfikir kalau dia merasa tersingkirkan.Lebih baik kita bujuk dia buat terapi saat nanti Vano datang." ucap Langit memberikan alasan untuk kakeknya tidak melakukan tindakan yang membuat Badai tambah down.
Memang benar adanya dukungan dari orang terdekat sangat penting apalagi jika dalam keadaan yang benar-benar down.Sudah banyak perawat yang menyerah untuk menjadi perawat pribadi Badai,semuanya karena Badai suka seenaknya sendiri dan selalu berbuat kasar dengan aparat perawat nya.
Ceklek.
Pintu kamar Badai terbuka dan Langit pun masuk dengan membawa nampan berisi makan dan minum untuk Badai.
"Badai ..!!" panggil Langit dan melangkah masuk ke dalam kamar Badai.
Langit meletakkan nampan itu diatas nakas. Dia mendekati Badai yang sedang duduk di atas kursi roda dan menatap luar jendela kamarnya.
" Kenapa Lo nyiksa diri Lo sendiri Dai. Lo nggak bisa kayak gini terus,kasihan mama,dia selalu mikirin lo,asal lo tahu kalau lo itu bisa sembuh dan tinggal lo aja berusaha buat sembuh." ucap Langit duduk di pinggiran tempat tidur Badai.
"Buat apa gue sembuh,ada Lo kan,tujuan hidup gue pun sudah tidak ada.Gue mending jadi orang lumpuh,rasanya sakit Lang..sehat..tapi,nggak bisa miliki tujuan hidup.Tujuan hidupku dulu,kini sudah jadi milik orang lain."ungkap Badai dengan ekspresi datar.
__ADS_1
Langit yang mendengar penuturan Abang nya itu pun berfikir jika perasaan cinta yang mengalahkan semangatnya untuk sembuh.
Bersambung.