
Hari ini scedule cek up Badai bersama mamanya ke Rumah Sakit dan bertemu dengan Vano sebagai dokter yang menanganinya.
"Bagaimana dok keadaan anak saya?" tanya Nabila pada Vano sebagai dokter spesialis syaraf.
Vano menghembuskan nafasnya dengan kasar dan memandang Badai yang tak pernah merespon apapun yang di katakan Vano mengenai dirinya.Sedangkan Nabila yang harap harap cemas dengan hasil pemeriksaan yang biasa Badai lakukan.
"Sejauh ini belum ada perubahan nyonya,Badai selalu menolak untuk terapi dan minum obat pun masih belum maksimal.Jika Badai ingin sembuh,dia harus termotivasi untuk melakukan terapi." ucap Vano sebagai dokter dia ingin yang terbaik untuk pasiennya.
"Sudah belasan perawat untuk menjaga Badai.Namun, mereka selalu menyerah dalam waktu seminggu saja.Saya dan keluarga bingung mau gimana nantinya kalau dia selalu seperti itu." ucap Nabila dengan menahan kesedihannya.
"Langit sudah menghubugi saya tapi, saya tidak tahu bagaimana saya harus membantu.Sementara selama ini saya sudah memberikan perawat yang sudah berpengalaman.Tapi, saya akan mencobanya. Kebetulan di rumah saya ada asisten dari suster yang menjaga Opa saya ,jika mau nanti akan saya coba untuk ke rumah nyonya.Kalau dia tidak tahan dengan perangai Badai dia bisa kembali ke rumah saya untuk jadi asisten suster saya lagi." ungkap Vano panjang lebar.
Mendengar kesediaan Vano membantu mencarikan perawat untuk Badai.Nabila merasa lega mendengarnya.
"Terimakasih banyak dokter,saya dan keluarga selalu membuat repot dokter."ucap Nabila sangat berterima kasih pada Vano.
"Tidak masalah nyonya,kalian salah satu donatur di Rumah Sakit ini dan sekaligus sebagai pasien saya." ujar Vano yang juga berterima kasih pada keluarga Fravash yang sudah menginvestasikan dananya untuk Rumah Sakit milik keluarga Vano.
...****************...
Di depan rumah besar milik keluarga Fravash ada seorang perempuan yang sedang mengecek sebuah kertas yang di dapatkan dari bos nya.
"Permisi !!"
Teriak nya ketika memastikan alamat yang dia bawa benar.
Pintu gerbang yang tadinya tertutup tiba-tiba terbuka. Seorang yang berseragam security muncul di depan perempuan itu.
"Maaf pak,apa benar ini rumah tuan Sameer?" tanya nya
"Betul,kau pasti perawat yang akan merawat tuan muda Badai kan?"tanya security bernama Sholeh.
__ADS_1
"I_ya jadi benar ini rumah tuan Sameer,saya Zia." ucap nya memperkenalkan diri dengan nama Zia.
"Saya Sholeh,Zia yakin mau jadi perawat tuan Badai,banyak yang sudah tidak betah berlama-lama dengan tuan Badai yang kasar.Lebih baik,kamu pikirkan baik-baik.Saya sarankan untuk mundur,kasihan kamu nanti sakit hati kalau sudah berurusan dengan tuan Badai." ucap Sholeh mengingatkan.
"Mundur,dia orang sakit yang sedang butuh perwatan dan juga support dan obat moril,kenapa harus mundur,apalagi dia lumpuh,pasti tidak akan bisa menyakiti orang secara fisik." ucap Zia dengan tegas.
"Terserah kamu, mamang sudah peringatkan kamu,jangan nyesel " ucap Sholeh sedikit tak tega kalau nantinya Zia akan di lukai Badai.
Akhirnya Sholeh mempersilahkan Zia masuk ke halaman rumah besar itu.
Nazia yang sekarang sudah terbiasa di panggil dengan sebutan Zia itu melangkah ke arah pintu besar rumah kediaman Fravash.
Tepat Zia yang akan memencet tombol bell tiba-tiba pintu besar itu terbuka menampakkan seorang wanta paruh baya yaitu Nabila.
"Selamat siang nyonya,benar ini kediaman keluarga Fravash.Saya Zia yang di tugaskan dokter Vano untuk kesini jadi perawat tuan Badai." ucap Zia menyebut dirinya akan menjadi perawat Badai.
"Saya Nabila mama dari Badai,dokter Vano pasti sudah menceritakan tentang keadaan Badai sama kamu. Badai mengalami kecelakaan dan dinyatakan lumpuh.Sejak beberapa bulan lalu dia tidak ada semangat untuk sembuh.Dia selalu menolak meminum obat nya dan bahkan menolak untuk terapi.Dia selama ini menyendiri,tak mau keluar dari kamarnya.Tak mau tahu kehidupan di luar sana.Padahal sebelumnya dia orang yang aktif bekerja.Dia menjadi kebanggaan kakeknya.Tapi sekarang,nggak ada lagi Badai yang selalu berusaha memberikan yang terbaik untuk kakeknya dan keluarga."ungkap Nabila dengan lelehan air matanya yang mengalir dari celah matanya.
"Dokter Vano memang sudah menceritakan pada saya tentang keadaan tuan Badai nyonya."jelas Zia.
"Dokter Vano juga pasti bilang kan kalau saya membayar kamu tidak murah.Apalagi saya akan bayar kamu dengan harga tinggi jika kamu bisa membuat Badai sembuh.Saya tidak masalah buat mengeluarkan dana yang besar untuk kesehatan anak saya."ungkap Nabila mempunyai banyak harapan pada Zia untuk menyembuhkan Badai.
Nazia terdiam sejenak dia berfikir jika dirinya apa bisa merawat Badai.Yang terpenting baginya dia ingin memiliki uang yang cukup untuk biaya mencari suaminya yang hilang entah kemana.
"Baik nyoya,saya akan berusaha semaksimal mungkin untuk merawat tuan Badai sampai sembuh."ucap Zia
"Terimakasih Zia , sebentar lagi kita akan ke kawasan Puncak dan kalian akan tinggal disana.Badai harus bisa menjaga mood nya untuk membuat dirinya lebih fresh."ucap Nabila pada Zia.
Nabila dan Sameer sudah punya rencana untuk Badai tinggal di rumah mereka yang ada di kawasan puncak.Zia dan Badai akan tinggal sana dengan Art serta tukang kebun yang di tugaskan menjaga kebersihan rumah disana.
...****************...
__ADS_1
Jam dua siang Nabila bersiap membawa Zia ke rumah mereka yang ada di kawasan puncak.
"Nyonya sama siapa tuh?" tanya bi Esih yang baru saja kembali dari supermarket.
"Itu perawat den Badai yang baru,mereka akan ke rumah tuan Sameer yang ada di puncak."ucap salah satu ART keluarga Fravash yang lain.
"Kenapa Sih,kok kamu aneh gitu?" tanya temannya yang lain.
"Ah..nggak apa-apa,cuma seperti pernah lihat." ucap Esih berpikir keras siapa perempuan yang bersama nyonya nya itu.
Perjalanan ke tempat dimana Nabila membawa Zia memerlukan waktu kurang lebih tiga jam.Mereka sampai di rumah yang begitu asri yang ada di kawasan perkebunan teh.
Mereka turun dari mobil dan masuk ke dalam rumah di sambut penjaga rumah itu.
.
.
Di lain sisi , Langit yang sudah mengetahui kakaknya mempunyai perawat baru merasa lebih tenang,dia berdoa semoga perawat yang saat ini dia tak akan kembali keluar dari pekerjaan.
Langit menyandarkan punggungnya dan memeriksa beberapa email yang masuk ke laptopnya.Sudah berbulan-bulan dia tidak mengecek email dari usahanya yang ada di sebuah kota.
Kota dimana dia meninggalkan seorang istri yang tidak pernah dia tahu lagi kabarnya. Saat mengecek email terdapat beberapa pesan beruntun yang membuat Langit syok.
"Nazia,ke Jakarta boss..apa kalian sudah bertemu.
"Nazia sampai saat ini tak ada kabar,paman dan bibi nya bingung mencarinya.
"Apa boss sama bi Esih,Rini bilang Nazia ke alamat di mana bi Esih bekerja.
Pesan itulah membuat Langit syok dan langsung mematikan laptop nya dan menutupnya.Dia menyambar jasnya dan langsung meninggalkan kantornya.
__ADS_1
Bersambung