BELENGGU CINTA LANGIT

BELENGGU CINTA LANGIT
#Nazia sakit??


__ADS_3

Saat Langit ingin keluar dari kamar Nazia,dia melihat wajah Nazia yang masih terlihat kesal karena kegiatan yang baru selesai mereka lakukan.


Langit memeluk pinggang Nazia dari belakang.


"Mass !!" pekik Nazia berlonjak kaget saat merasakan tangan kekar suaminya merengkuh pinggang rampingnya.


"Kenapa sih masih manyun,aku mau kerja sayang .." rayu Langit dengan mempererat pelukannya.


"Kalau mas mau keluar,silahkan.Lagi pula mas sudah selesai dengan urusan disini kan!" ucap Nazia dengan nada kesal.


Langit membalikkan tubuh Nazia dan posisi mereka saat ini saling berhadapan.Nazia masih enggan untuk menatap wajah suaminya.


Langit menghela nafas dalam.Rasanya tak enak kalau dia pergi dari kamar itu tapi,masih melihat istrinya ngambek.


"Sayaang,mas minta maaf kalau mas dari semalam dan sampai detik tadi mas nggak bisa tahan buat tidak menyentuhmu.Jangan marah dong.." bujuk Langit dengan mendongakkan kepala Nazia dengan memegang dagu sang istri.


Pandangan mereka saling terpaut.


Melihat wajah suaminya yang terlihat memelas akhirnya Nazia merasa tak tega lalu mengangguk dan langsung membalas pelukan suaminya.


Merasa nyaman dan tak rela jika mereka melepas pelukan itu namun,Langit masih memikirkan tumpukan berkas yang menunpuk di meja kerjanya.


"Emmm sayang, peluk-peluknya nanti lagi ya..ini sudah mau jam enam pagi.Takut mama sama Badai sudah bangun.Kamu Istirahat saja hari ini.Aku nggak kasih ijin kamu buat kerja.Biar bi Esih yang handle Badai.Lagi pula Badai sudah mulai belajar jalan pakai kruk kan,jadi tugas kamu hanya istirahat.Aku akan datang lagi nanti malam kesini." ucap Langit dan mengeratkan pelukannya.


Keduanya seolah makin berat untuk berpisah namun,apa daya tugas Langit sangat menumpuk di kantor.


Langit mengecup kening Nazia dan juga kedua matanya lanjut ke pipi dan terakhir tak lupa mengecup bibir Nazia beberapa kali.


"Sudah sana keluar,nanti kamu bisa khilaf lagi ." sindir Nazia dengan mengurai pelukan mereka dengan wajah yang terlihat tak rela.


Mendengar sindiran sang istri,Langit terkekeh geli melihat ekspresi sang istri.


"Iya sayang,oh iya sebentar.." Langit merogoh jaket kulit yang dia pakai semalam dan mengambil dompetnya.Dia menyerahkan sebuah kartu hitam pada Nazia.


Nazia menatap kartu yang di sodorkan padanya lalu menatap suaminya dengan mengerutkan keningnya.

__ADS_1


"Buat apa?" tanya Nazia menerima kartu tersebut.


"Buat belanja keperluan kamu,mau ke salon atau mau shopping nggak masalah.Ini salah satu kewajiban aku.Memberikan nafkah lahir untuk istriku .Terima yah.." pinta Langit menyerahkan kartu itu.


Nazia bingung dan ragu untuk mengambil kartu yang ada di tangan suaminya.Nazia ingin mengatakan sesuatu namun sedikit ragu.Dia yakinkan untuk mengatakan yang dia inginkan pada suaminya.


"Tapi, Naz nggak butuh ini mas,lagian Naz kalau beli kewarung masa pake kartu gini.Cash sajalah.." ucap Nazia tak ada jaimnya meminta uang pada Langit.


Langit melihat tingkah istrinya hanya bisa geleng-geleng kepala.Dia pun mengambil uang cash yang ada di dompetnya dan menyisakan satu lembar lima puluh ribu dan sisanya dia berikan pada Nazia.


"Wahhh..banyak juga mas,lain kali kalau mau ngasih nafkah cash saja mas." ucap Nazia dengan senyuman lebar.


Melihat ekspresi sang istri yang terlihat bahagia dengan apa yang di berikannya,Langit merasa bahagia istrinya sesederhana itu.Hanya di kasih uang cash yang hanya punya nominal 1juta namun,senyum merekah istrinya tak luntur.


"Iyaa..aku keluar yah,kamu istirahat." ucap Langit dan langsung membuka pintu kamar Nazia perlahan dan melihat kanan kiri takut ada yang lihat.Setelah memastikan kondisi aman Langit pun keluar dari kamar Nazia namun,baru saja dua langkah dia di kejutkan dengan teguran seseorang.


"Den Langit !" panggil bi Esih.


Ternyata bi Esih baru keluar kamarnya juga saat Badai keluar kamar Nazia.


"Eeh..iya bi,emm..bik tolong untuk hari ini bantu Naz buat handle Badai yah,hari ini Naz saya suruh istirahat karena nggak enak badan jadi bisa kan bibi lihatin Badai sama Naz juga.Saya juga mau kekantor kemungkinan lembur ." ucap Langit dengan gestur tubuh yang membuat bi Esih mengulum senyumnya melihat tingkah tuan mudanya yang berseri-seri.


"Sudah bi,siapin sarapannya aja bi." ucap Langit.


"Iya beres,yang jelas jangan lupa sudah punya istri apalagi sudah saling menyatu.Aden harus jaga hati dan perasaannya Nazia juga." ucap bi Esih mengingatkan.


Langit tersenyum tak jelas.Dia mengerti dengan kata-kata yang di ucapkan oleh Esih.Langit mengangguk dan berlalu dari paviliun belakang mansion sang kakek.


Setelah di pastikan Langit pergi dari paviliun,Esih pun mengetuk pintu kamar Nazia.


Tok tok tok


Nazia yang baru saja ingin merebahkan tubuhnya diatas tempat tidurnya urung melakukan itu.Dia pun sedikit tertatih saat berjalan menuju pintu kamarnya.


Rasa sakit dan pedih juga tak nyaman saat berjalan pun Nazia rasakan.Dia membuka pintu kamar dan ternyata di depan pintu kamarnya sudah ada bi Esih.

__ADS_1


"Lho bi,ada apa?" tanya Nazia melihat kanan kiri di sekitar kamarnya.


"Kamu baik-baik saja kan Naz, maksudnya bibi,kamu dan tuan muda...


"Ssstttt ,bibi jangan keras keras.Mas Langit semalam memang menginap di sini.Cuma bibi yang tahu.Dia meminta haknya."ucap Nazia dengan nada lirih dan tertunduk malu.


"Aisssttt..kenapa kamu malu-malu gitu,itu hal wajar.Kalian kan suami istri,makanya bibi kesini buat memastikan.Sprei kamu biar bibi yang cuci.Kamu istirahat saja." ucap Esih.


"Eh bi, nggak usah.Kata mas Langit suruh simpan dulu.Buat hari ini Naz minta tolong handle kerjaan Naz ya bi..,"


"Ck ,kamu ini.Nggak usah sungkan sama bibi.Apalagi kamu kan sudah jadi istri den Langit.Malah seharusnya bibi hanya babu kamu lho.." ucap bi Esih.


"Bibi,nggak gitu.Disini bibi aku anggap adalah ibuku.Aku nggak punya siapa-siapa kecuali paman dan bibi ku di kampung." ucap Nazia dengan wajah sedih.


Melihat reaksi Nazia ,Esih pun merasa kasihan pada Nazia.Dia pun memeluk tubuh Nazia dan mengusap punggungnya.Seakan dia bisa katakan jika dia mendukung Nazia.


Setelah memastikan keadaan Nazia akhirnya Esih pun ke rumah utama untuk melihat pekerjaan para ART di rumah besar itu.


Sementara Langit yang baru masuk kedalam mansion dia langsung menuju kamar sang kakak.


Ceklek.


Langit membuka pintu kamar Badai terlihat Badai sudah terbangun dan sedang sibuk dengan ponselnya.


"Zia kenapa kamu..


Badai menghentikan ucapannya saat melihat sosok yang masuk ke dalam kamarnya bukanlah perawatnya.


"Lho,kirain aku Zia Lang..kok dia jam segini belum ke sini yah,apa dia kesiangan?" tanya Badai dengan tanpa sadar membuat Langit mengepalkan kedua tangannya.


Langit merasa jika Badai sudah ketergantungan pada istrinya.


"Hari ini Naz, maksudnya Zia..dia ijin karena kurang enak badan." ucap Langit pada Badai.


"Hahh..dia sakit, Astaghfirullahal'adzim lalu gimana ,dia sudah minum obat ,sebaiknya kita bawa dia ke dokter.Aku nggak mau dia kenapa-kenapa."

__ADS_1


Melihat reaksi Badai yang terlihat sangat mencemaskan Nazia membuat Langit merasa dadanya tambah panas terbakar api cemburu.


Bersambung


__ADS_2