
Pagi hari seminggu setelah Nazia kembali dari Rumah Sakit Langit belum bisa bertemu dengan Nazia.
Walaupun rindu dengan sang istri,Langit masih memberikan waktu Nazia untuk berbenah hati.Walaupun tak bisa bertemu namun Rahma selalu mengabarkan tentang keadaan Nazia.
Untuk Bono saat ini dia kembali ke kampung karena memang sudah banyak pekerjaan yang menunggu.Apalagi dia juga di percaya oleh Langit untuk mantau usaha Langit di kampung mereka.
Di meja makan tepatnya di rumah besar keluarga Fravash,mereka sedang menikmati sarapan pagi bersama.
Seminggu ini kakek Sameer lebih banyak diam dan tak sepahit jika bicara dengan Langit seperti dulu.
Drrrttt Drrrrrttt
Ponsel Langit berdering membuat Langit mengambil ponselnya yang ada di kantong celananya.
📞Bi Rahma Calling...
"Bi,Rahma telpon jam segini,tumben.." gumam Langit dan segera menerima panggilan itu.
"Assalamu'alaikum bi.."
"Wa'alaikumsalam Lang, kamu hari ini sibuk tidak?" tanya bi Rahma dengan seperti ada kekhawatiran sesuatu.
"Nggak juga bi,ada apa sebenarnya,bibi bicara saja." ucap Langit.
"Lang,dari kemaren Nazia demam tapi, dia susah sekali di ajak ke dokter.Dia larang bibi bilang sama kamu soal keadaan dia.Terus,bibi juga bingung..soalnya bibi ada urusan di kampung, mendadak.Gimana sama Nazia kalau dia di tinggal sendiri dengan ART juga bibi kurang sreg.Walaupun memang ART disini pastinya akan sangat menjaga Nazia.Apa bisa kamu kesini buat mencoba untuk membuat kamu lebih dekat dengan Naz lagi, nggak baik suami istri tinggal asing-asing." ungkap Rahma pada suami ponakannya itu.
"Ya sudah bibi bisa pulang,Langit akan kesana sekarang."ujar Langit.
"Emangnya kamu nggak kerja?' tanya Rahma karena masih di weekday.
" Nggak masalah,Langit bisa kerja dariana saja.Langit kesana sekarang bi, Assalamualaikum." ucap Langit mengakhiri panggilan.
"Wa'alaikumsalam," jawab Rahma dan mengakhiri panggilan telepon.
----------------
__ADS_1
"Nazia kenapa Lang?" tanya Nabila setelah Langit menutup panggilannya.
"Dia demam,mah aku berangkat dulu.. Assalamualaikum."ucap Langit pamit pada sang mama.
"lya,kamu lihat Nazia kan Lang,temui menantu mama.Mama rasa sudah cukup kalian pisah." ucap Nabila pada anak bungsunya.
"Hemmm..doain yang baik-baik mah." ujar Langit dan akhirnya dia melangkah meninggalkan ruang makan.
Setelah sepeninggal Langit ,Badaipun ikut pamit untuk pergi ke kantor.
"Mama Badai berangkat dulu." pamit Badai pada sang ibu.
"İya hati-hati." jawab Nabila
Melihat dan mendengar ucapan mamanya,apalagi dia melihat sosok mamanya yang selalu beda dengan perlakuannya ke Badai dan Langit membuat Badai tersenyum getir.
Dia sadar selama ini mamanya memeberikan kasih sayang yang sama pada dirinya juga Langit padahal kenyataannya dia terlalu jauh dengan sosok mama dan menuruti segala kata-kata kakeknya.
"Badai,hari ini jangan lupa ada meeting dengan perusahaan dari Singapura.Kamu harus bisa bersikap profesional tidak seperti kemarin-kemarin tiba-tiba menghilang dari kantor entah kemana." ucap sang kakek saat dirinya beranjak dari tempat duduknya.
"Jangan paksakan jika kamu nggak nyaman Badai,kamu sudah dewasa dan bisa mengambil sikap." tiba-tiba Nabila bersuara tanpa menunggu respon anak dan ayah mertuanya atas ucapannya tadi.
Badai dan juga Sameer saling pandang mendengar ucapan Nabila barusan.Sameer mengeratkan rahangnya menahan emosi dengan ucapan menantunya itu.Sementara Badai tersenyum tipis mendengar perkataan sng ibu yang pastinya tahu akan ketidak nyamanan yang dia rasakan saat ini
----------------
Di lain sisi Langit mengendarai mobil sport nya ke rumah sederhana miliknya.
Dia parkirkan di luar pagar rumah minimalis itu.Dia turun dari mobil dan melangkah menuju pintu rumah sederhana itu.
Tok tok tok
Langit mengetuk pintu rumah itu dan menunggu beberapa saat untuk menunggu si empunya rumah membukakan pintu.
Ceklek.
__ADS_1
Pintu rumah pun terbuka dan pandangan pertama yang di lihat Langit adalah sosoak Nazia dengan termometer di mulutnya.
Langit mengambil termometer di mulut Nazia dengan tangannya dan melihat keadaan istrinya itu.
"38°C ,apa ini hemm?" tanya Langit dan mendorong masuk tubuh istrinya sampai masuk ke dalam rumah.
"Mas ngapain kesini?" tanya Nazia dengan digin.
"Menurut kamu,kalau dengar mas sakit kamu mau lakukan apa? ah..kenapa mas nanya itu ke kamu pastinya kamu nggak akan peduli sama mas kan,atau bahkan berdoa supaya mas cepat...
" Mas stop !" potong Nazia dan menatap kearah Langit dengan tajam.
"Kenapa?" tanya Langit balik.
"Kamu pikir aku sejahat itu,kenapa kamu berfikir jelek tentang aku mas,kenapa ?!'
Langit menghela nay panjang.
Dia duduk di samping Nazia yang terlihat menundukkan kepalanya.
"Aku nggak bermaksud begitu,coba kamu pikir selama berhari-hari aku ingin ketemu sama kamu,terus kamu selalu menolak aku.Apa kamu pikir aku nggak stres mengingat kalau kamu begitu benciku.Saking bencinya sampai kamu menolak ku berkali-kali.Kamu pikir aku nggak merasa bersalah dengan kejadian yang menimpa kamu lalu calon anak kita sampai gugur dalam kandungan.Apa kamu pikir aku bisa tidur nyenyak saat semuanya terjadi di depan mataku,karena aku,semua salahku Naz..rasanya aku gagal melindungi kalian.Begitu bad*hnya aku ,sampai aku berpikir..tak layakkah aku jadi seorang ayah..? sakit sayang,sakit..," ucap Langit panjang lebar dan tak terasa air mata Langitpun jatuh.
Nazia mendengar dan melihat keadaan suaminya yang sepertinya malah lebih terpuruk dari dirinya.Nazia sejenak berpikir jika memang ,Nazia teramat egois dan merasa paling sedih dan paling tersakiti namun,nyatanya Langit lebih terpuruk di.banding dirinya.
Nazia melangkah mendekat ke arah suaminya dan bersimpuh di hadapan Langit yang duduk di sofa ruang tamu.
"Maaf,maafin aku mas." ucap Nazia dengan suara yang terdengar bergetar menahan tangis.
Langit mendongakkan kepalanya dan menatap wajah sendu istrinya.Dengan cepat dia pun memeluk tubuh Nazia dan menghirup aroma khas yang dimiliki Nazia,rasanya damai dan juga sangat menenangkan hati Langit.Sudah lama dia tak menghirup aroma khas istrinya.Bahkan tanpa sadar mungkin sudah terbiasa di dekat Nazia dan merasa nyaman,belakangan ini Langit susah sekali nyenyak tidur.
Langit mengecup kening Nazia dan kedua pipinya dan dua matanya yang bulat.
"l Miss u sayang.." ucap Langit lirih dengan memeluk erat Nazia kembali.
"Miss you too mas.."jawab Nazia membalas pelukan Langit dan keduanya menyalurkan kerinduan dalam sebuah kec*pan manis dan terlihat Langit makin menuntut namun mengingat kembali Nazia yang sedang demam.Alhasil nananinunya panding dulu yaa..
__ADS_1
Bersambung