BELENGGU CINTA LANGIT

BELENGGU CINTA LANGIT
#Mencari Nazia


__ADS_3

Langit mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi dan mengarahkan mobilnya ke arah rumah keluarga Fravash.


Butuh tiga puluh menit Langit sampai di rumah keluarga Fravash.Dia langsung mencari keberadaan Esih.


"Bik Esih..bi..bik Esih..!!" teriak Langit saat masuk ke dalam dan kedapur mencari keberadaan Esih.


Mendengar namanya di sebut beberapa kali, Esih yang sedang ada kebun belakang langsung berlari kecil menuju tuan muda nya.


"Iya tuan muda,tuan panggil saya?" tanya Esih dengan nafas yang masih ngos-ngosan.


"Iya bik,tolong ikut saya..." ucap Langit dan menuju ruang kerjanya.


Sedangkan Esih mengekor di belakang Langit masuk ke dalam ruang kerja.


"Duduk bi,saya perlu bicara sama bibi,ini penting." ucap Langit dengan nada serius.


Melihat tingkah tuan muda nya yang terlihat serius membuat Esih bertanya-tanya dalam hati ada apa sebenarnya,kenapa dia yang di cari.


"Ma_maaf tuan muda,apa yang bisa bibi bantu?" tanya Esih sedikit ketakutan.


"Bik,apa bibi punya kontak telepon pak Teguh atau istrinya?" tanya Langitpada Esih.


Mendengar nama Teguh,Esih mengernyitkan keningnya merasa aneh.Kenapa Langit tanya soal Teguh.


"Ada apa ini,kok tuan muda nanya nomer telpon Teguh,"batin Esih heran.


"Bik,bibi,bi..bik Esih !!" seru Langit yang menunggu jawaban dari Esih namun,Esih melamun entah apa yang dia pikirkan.


"Ahh...i_iya,ka_kalau nomer telpon Teguh atau istrinya saya nggak punya.Tapi,saya punya nomer Maman saja." ujar Esih


"Mang Maman,boleh saya minta bik.Saya ada yang ketinggalan di kampung." ujar Langit memberikan alasan.


"Oh boleh tuan muda , sebentar .."ucap Esih dan dia pun mengambil ponselnya dan menyerahkan ponselnya pada Langit.


Langit dengan segera mencatat dan memindahkan nomer Maman ke ponselnya.


"Terimakasih bi, sekarang bibi boleh lanjutkan pekerjaan bibi." ujar Langit memberikan ponsel Esih kembali.


"Baik tuan muda ,bibi permisi." pamit Esih keluar dari ruang kerja Langit.


Setelah memastikan Esih keluar dari ruangan itu, Langit pun menghubungi Maman.

__ADS_1


"Hallo Assalamualaikum.." terdengar suara salam dari seberang saat panggilan dari Langit diangkat.


"Wa'alaikumsalam..pak Maman,ini saya Langit." ucap Langit dengan menyebut namanya.


"Den Langit, Masyaallah apa kabar den..?!" tanya Maman dari seberang sana.


"Baik mang,maaf mang saya ganggu istirahat bapak.Saya cuma mau tanya, apa benar istri saya ke Jakarta menyusul saya?" tanya Langit


"Hahhh..kenapa den,aden sudah ketemu sama Nazia kan, sudah tiga bulan ini dia ke Jakarta.Dia minta alamat Esih bekerja, terus Rini yang kasih alamatnya.Tapi,kata Teguh..sampe sekarang belum ada kabar dari Nazia.Makanya Teguh khawatir.Den Langit sudah ketemu Nazia kan?" tanya Maman dengan nada cemas.


"Pak Maman ,tolong minta nomer paman Teguh.Maaf waktu saya ke Jakarta..kebetulan HP saya jatuh.Makanya nggak bisa hubungi keluarga disana." ujar Langit.


"Ya Allah pantesan,Nazia sangat khawatir sama den Langit,makanya dia inisiatif minta alamat Esih sama Rini, karena katanya kemungkinan besar Esih tahu den Langit tinggal dimana.Nazia juga minta Imron buat hubungi den Langit dan ternyata juga nggak bisa terhubung.Makanya dia nekad keJakarta." jelas Maman


Mendengar penjelasan Maman terbersit rasa bersalah pada istri yang masih berstatus istri sirinya itu,selama menikah dengan Nazia,Langit tak melihat sifat Nazia yang buruk.Namun,memang dirinya belum membuka hati untuk istri dadakannya itu.


Setelah bicara dengan Maman dan memberikan pesan pada Maman saat ini Langit duduk termenung di ruang kerjanya.Dia harus mencari keberadaan istri sirinya itu.Bagaimana pun Nazia masih berstatus istrinya.Dia pun tak ada niat untuk menghilang dari hidup Nazia namun,memang malang tak dapat di tolak.Ponsel Langit jatuh entah dimana.


Ting


Sebuah notifikasi pesan di ponsel Langit dan dia pun melihat nomer Maman yang mencantumkan nomer Teguh paman Nazia.


Langit menghela nafas panjang dan menatap luar jendela ruang kerjanya.


"Assalamualaikum.." terdengar suara dari sebrang sana.


"Wa_ Wa'alaikumsalam paman,ini Langit.." ucap Langit yang sempat terbata menjawab salam dari Teguh.


"Langit , akhirnya kamu telpon.Gimana,kamu sudah ketemu Nazia kan,paman sudah berkali-kali telpon Nazia tapi,ponselnya nggak pernah aktif,terus telpon ke ponsel mu juga nggak pernah aktif,kalian baik-baik saja kan.Paman dan bibi disini sangat khawatir sama kalian."


rentetan ucapan Teguh membuat Langit merasa bersalah pada Nazia.


"Pa_paman ,maafin Langit..


"Maaf, kamu nggak perlu minta maaf mungkin karena kamu juga belum terbiasa dengan adanya Nazia di hidup kamu Langit." ucap Teguh.


"Paman,Langit sejujurnya belum bertemu Nazia,bik Esih pun belum ketemu,karena kalau bibi Esih sudah ketemu Naz pastinya Naz akan bertemu Langit.Langit takut terjadi apa-apa." ucap Langit.


"Kamu serius Lang,lalu Naz kemana,Ya Allah Naz belum pernah ke Jakarta Lang,paman takut terjadi apa-apa sama Naz Lang.." ucap Teguh cemas.


"Paman ,paman tenang,Langit minta tolong sama paman kirimkan foto Naz ,Langit akan coba cari di sini dan kalau nanti ada kabar tentang Naz ,paman hubungi Langit ke nomer ini.Karena ponsel Langit yang lama hilang paman.." ungkap Langit mencoba menenangkan paman Nazia.

__ADS_1


Setelah bersepakat untuk mencari keberadaan Nazia Langit mengakhiri panggilan telepon dengan Teguh***.


Pikiran Langit jadi kalut, apalagi mengingat ucapan Teguh yang Naz belum pernah pergi jauh bahkan untuk menginjakkan kakinya ke Jakarta saja belum pernah.


"Ya Allah Naz kemana kamu, maafin saya.Mungkin kamu khawatir sama saya malah kamu yang nggak tahu kabarnya.Semoga kamu baik-baik saja." gumam Langit berusaha menenangkan dirinya.


Tok tok tok


Langit tersadar saat mendengar ketukan pintu ruangannya dan langsung beranjak dari kursi kerjanya membuka pintu dan menampakkan pembantu rumah nya yaitu Esih.


"Bik ,ada apa?" tanya Langit mengernyitkan keningnya.


"Itu den,ada den Bintang.." jawab Esih.


"Owhh..baiklah,makasih bik.." ucap Langit langsung melangkah menuju ruang tamu.


"Bro..!!" panggil Bintang pada Langit.


"Ikut ke ruangan gue.." ucap Langit berbalik arah dan kembali masuk kedalam ruangan kerja Langit.


Bintang yang diminta Langit untuk datang ke rumah nya pun bingung dengan sikap Langit yang terlihat seperti sedang ada masalah.


"Sebenarnya ada apa bro,sampe Lo nyuruh gue kemari?" tanya Bintang mendudukkan bok*ngnya ke kursi seberang Langit.


Langit mengutak Atik ponselnya dan notifikasi pesan ponsel Bintang berbunyi.Dengan cepat Bintang membuka pesan yang masuk dan ternyata Langit mengirimkan foto seorang gadis.


"Wiihh, gadis desa kayaknya nih,sudah nggak minat sama cewek sexy?" ledek Bintang pada sahabatnya itu.


"Gue pengen Lo lacak dia dimana.Kabar terakhir yang gue dapet dia datang ke Jakarta dan sampe sekarang nggak ada kabar." ucap Langit tanpa menanggapi ledekan Bintang.


"Gue nanya boleh?" tanya Bintang pada Langit.


"Sejak kapan Lo nanya peke minta ijin?" sindir Langit.


"Hehehe..nggak pernah sih,gue serius kali ini.Kenapa Lo bisa ngurusin orang hilang dan dengan gadis asing yang jauh dari kriteria Lo,ada apa sebenarnya?" tanya Bintang.


"Nambah Nazia Zara,dia bini gue.." ucap Langit.


Mendengar ucapan sahabatnya Bintang terbengong dan kemudian bergelak tertawa karena dia anggap itu lelucon.


"Gue serius.." ucap Langit lagi menghentikan tawa Bintang seketika.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2