BELENGGU CINTA LANGIT

BELENGGU CINTA LANGIT
Perasaan Kakek Sameer


__ADS_3

Nazia mendengar ucapan suaminya tentu saja ada rasa kasihan pada sosok kakeknya.


"Mas,kamu dimana?" tanya Nazia saat masuk ke dalam kamar mereka.


Nazia mendengar suara di dalam kamar mandi sedikit merasa lega.


Ceklek.


Pintu kamar mandi terbuka dan menampakan sosok Langit yang habis mandi dengan rambut terlihat masih basah.


Mas,sini aku bantu keringkan." ucap Nazia meminta handuk kecil yang ada di tangan Langit.


Langit memandang wajah Nazia penuh selidik.


"Ada apa,kamu lihatin aku kok kayak gitu?" tanya Nazia heran dengan respon suaminya.


"Kamu nggak sedang berusaha baik-baikin aku kan Naz?" tanya Langit penuh curiga.


"Aku bukan kamu ya mas,memaafkan itu hak kamu.Tapi, sebagai sesama manusia nggak ada salahnya saling memaafkan.Mas tahu,posisi mas pernah ada di posisi kakek saat ini,bedanya mas masih sehat untuk mengejar ku tapi,lain dengan kakek..dia begitu lemah sampai tiba-tiba sakit dan sekarang hanya bisa diam dan terbujur di atas brankar Rumah Sakit." ungkap Nazia dengan menggosok rambut basah suaminya.


"Maksudnya kamu ngomong gitu ?' tanya Langit.


"Coba kemarin aku tidak memaafkan mu,apa yang kamu akan lakukan? kalau kamu tahu aku juga merasa sakit hati dengan semua perlakuan kamu dari awal kita menikah. Bahkan,aku jujur tidak suka dengan sifat kamu sekarang ini.Kamu bukan Tuhan yang maha sempurna,kita hanya hamba mas.." ucap Nazia dengan beranjak dari tempat dia duduk menyerahkan handuk yang dia pegang pada Langit.


"Kamu mau kemana,kamu belum selesai ngeringin rambut aku loh.."ucap Langit mencekal pergelangan tangan Nazia.


"Keringkan sendiri.Aku mau siap-siap buat ke Rumah Sakit sama mama.Terserah kamu mau mau ikut atau tidak atau bahkan sekedar mengijinkan aku buat lihat keadaan kakek." ujar Nazia tanpa menghiraukan ekspresi wajah Langit yang berubah garang.


Langit menghela nafas dalam.Rasanya sesak didadanya mengingat perlakuan yang di dapatkan dari sang kakek.Masih sangat membekas.

__ADS_1


Tak lama kemudian terdengar suara pintu kamar mandi terbuka dan menampakan sosok istrinya yang sudah terlihat rapih.


"Kami yakin mau kesana sama mama?" tanya Langit dengan memperhatikan gerak gerik istrinya yang sedang memoles sedikit make up di wajahnya.


"Sangat yakin,kalaupun kamu nggak mau kesana,itu terserah.Aku harap kamu bisa berpikir lebih dewasa dan berusaha memperbaiki keadaan keluarga kamu." ujar Nazia.


Dia meraih tangan sang suami dan melenggang pergi begitu saja dari kamarnya.Sedangkan Langit menggelengkan kepalanya melihat tingkah istrinya.


...----------------...


Nazia dan Nabila sampai di Rumah Sakit.Mareka sudah di beri kabar oleh Badai jika Sameer masih ada di ICU.


"Badai.." panggil Nabila yang melihat putra pertamanya duduk di kursi tunggu dengan menundukkan kepalanya.


Mendengar suara yang sangat di kenalinya Badai mendongakkan kepalanya.Dia tersenyum tipis kala melihat sang ibu dan sang ipar ada di tempat ini.


"Mama,Zia.." ucap Badai lirih.


Badai mencium tangan sang ibu dan menghambur memeluk tubuh ibunya itu.


"Maafin Badai mah,Badai nggak bisa jaga kakek.Jagain kakek saja Badai nggak becus,apalagi melindungi keselamatan keluarga kita Badai pasti nggak akan sanggup.Badai memang lemah mah.." ucap Badai lirih sambil memeluk tubuh sang mama.


"Sudahlah, jangan terlalu banyak mikirin hal yang nggak perlu di pikirkan.Semua sudah ada porsinya masing-masing.Mama juga minta maaf karena selama ini mama condong ke Langit.Mama rasa kamu sudah cukup bahagia dengan memiliki kakek yang begitu besar menyayangi kamu.Beda dengan Langit yang selalu dianggap sebagai perusuh,tapi..mama juga salah karena semua yang mama pikirkan salah." ungkap Nabila pada putra sulungnya.


"Kak,apa kata dokter soal kakek?" tanya Nazia membuat kedua orang yang sedang sibuk berpelukan dengan cepat mengurai pelukan mereka.


"Zia,sorry saya lupa kalau kamu sudah menjadi adik ipar saya.Soal kakek,kata dokter kakek mengalami serangan jantung ringan." ujar Badai.


"Astaghfirullahal'adzim,terus sekarang gimana keadaannya,kenapa masih ada di ICU?"tanya Nazia lagi.

__ADS_1


"Menunggu hasil observasi lagi Zi,tapi..tadi kakek sudah sadar kok.Nanti kita akan masuk,cuma nunggu jam besuk dulu.Sepertinya sebentar lagi.Langit nggak mau datang ya Zi?"


"Kakak tahu sendiri watak adik kakak itu,dia keras kepala.Tapi, aku yakin dia akan segera menemui kakek ."ujar Nazia meyakinkan sang ipar.


"Yah,kalau kamu terus-menerus marah sama Langit, pastinya dia akan dengan terpaksa mengikuti apa yang kamu mau Naz," timpal Nabila pada menantunya.


Nabila tahu jika Nazia harus pura-pura marah dengan sikap Langit.Dia awalnya tidak setuju karena takut Langit akan berbuat kasar pada Nazia tapi, ternyata menantunya itu lebih menyeramkan jika sedang dalam mode ngambeknya. Pantas saja ,setelah kejadian keguguran itu,Langit selalu mengikuti ucapan Nazia,Nabila bisa lihat jika anaknya itu sudah sebucin-bucinnya pada sang menantu.


"Kamu cuekin Langit Zi,terus..emangnya dia nggak ngamuk?" tanya Badai keheranan.


"Nggak akan ngamuk ,aku pawangnya." ucap Nazia dengan kesombongannya.


"Astaga,ternyata kamu sombong juga yahhh..hahaha.." ujar Badai dengan bergelak.


"Nah,gitu dong ketawa.Kita pasti akan mencoba untuk memperbaiki keluarga Fravash dan akan menjadu keluarga yang utuh walaupun nggak ada sosok papa Erlang dan eyang Maryam." ujar Nazia.


Badai tertegun melihat Nazia.Dia baru saja masuk dalam keluarga Fravash namun,dia begitu peduli dengan keluarga suaminya.


"Langit hanya ingin kalian semua baik-baik saja.Dia juga seperti kalian,egonya tinggi.Malas untuk mengalah,dia itu memang benar-benar keturunan kakek Sameer sejati."ungkap Nazia dengan terkekeh mengingat gengsian nya sang suami seperti kakek Sameer yang Nazia rasakan dia begitu menyayangi Langit namun,dia gengsi mengakuinya.


...----------------...


Setelah selesai melakukan observasi dan hasil observasi ternyata bagus,kakek Sameer pun di pindahkan ke ruang rawat.


"Pah, gimana keadaan papa saat ini?" tanya Nabila saat duduk di kursi samping brankar tempat kakek Sameer terbaring.


"Seperti yang kamu lihat,aku masih hidup.Walaupun sudah tak ada kekuatan dari anak dan istri ku.Aku pernah berharap jika menantuku masih menganggap aku sebagai papanya bukan mertua kejamnya.Tapi, kamu selalu menempatkan diri papa yang tua ini sebagai musuhmu karena aku sudah berlaku tak adil pada kedua cucuku.Asal kamu tahu,cucuku memang ada dua,Badai dengan kekerasan dan juga keinginan ku dia harus menjadi yang terbaik itu karena dia harus di perlakukan seperti itu.Kalau cucu sial*n itu,buat apa aku susah payah mengaturnya,dia sudah punya jalan sendiri dan dia hebat tanpa campur tangan dari ku.Karena aku tahu,dia seperti aku di masa muda."ungkap Sameer panjang lebar.


Nabila pun tersenyum tipis mendengar ucapan ayah mertuanya.Memang Badai dan Langit adalah jiwa yang bertolak belakang.Jika Badai memang harus di bimbing dan di arahkan.Namun,Langit dia punay jiwa petualang dan mandiri.Dia bisa berbuat lebih dari ekspektasi seseorang.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2