
Sudah empat hari Nazia bolak balik ke Rumah Sakit untuk menggantikan Badai atau Nabila untuk menjaga kakek dari suaminya.
"Kamu bawa rantang itu ke Rumah Sakit?" tanya Langit saat melihat sosok istrinya yang sedang sibuk menata makanan ke dalam rantang susun.
"Hemm.." jawab Nazia malas.
Langit menghela nafas dalam dan terus memperhatikan gerak gerik istrinya.
"Bisa nggak kalau kamu temenin suami kamu makan dulu.Aku sudah meluangkan waktu untuk sekedar makan siang sama kamu Naz,jadi tolong hargai aku !"
Suara Langit yang lantang menghentikan pergerakan Nazia yang sedang sibuk menata makanan di dalam rantang yang akan dia bawa.
Dia beralih menatap wajah suaminya yang terlihat sedang menahan emosinya.
"Duduklah,aku siap kan." ucap Nazia tanpa ekspresi.
Brakkk 💢
Bukan duduk makan malah Langit menggebrak meja makan dan berlalu begitu saja meninggalkan ruang makan dan kembali keluar pergi membawa motor sport nya dengan menggeber di depan rumah lalu melesat dengan kecepatan tinggi meninggalkan rumah milik nya.
"Segitunya dia marah,aku cuma minta dia memberikan sedikit peluang supaya kakek bisa menjadi lebih baik padanya.Aku mungkin yang salah.Maaf mas.." gumam Nazia.
Dia pun meneruskan niatnya untuk segera ke Rumah Sakit.
Langit mengendarai motor sport nya seperti orang kesetanan.Dia tiba di salah satu restoran tempat dimana para sahabatnya berkumpul untuk makan siang.
"Lang,katanya mau makan sama bini Lo,mana bini lo?" tanya Johan melihat arah di pintu masuk ruangan private itu.
" Dia ke Rumah Sakit,gue nggak jadi makan siang sama dia,makanya gue kesini." ujar Langit
"Dia masih mau nyuruh lo buat nemuin kakek yang selama ini nyiksa batin lo,bini lo emang benar-benar sakit.Dia kayak nggak ngehargain lo yang sudah disakiti hatinya dari semasa kecil."ujar Johan.
"Jangan gitu,mungkin niat istri lo itu baik bro,nggak baik juga nyimpen dendam.Kalau Lo coba ikhlas gue yakin hidup lo lebih tenang." ujar Bintang.
__ADS_1
Langit menghela nafas panjang.Sudah beberapa hari bersikap acuh pada istrinya.Rasanya dia tidak nyaman dengan keadaan seperti ini tapi,egonya terlalu besar untuk mencoba berdamai dengan masalalu.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Apa suamimu tidak marah kalau kamu selalu datang kesini?" tanya kakek Sameer yang masih terbaring lemah diatas brangkar Rumah Sakit.
"Marah pasti kek,tapi..aku juga nggak tega melihat ibu mertua ku merawat kakek sendiri.Sedangkan kak Badai juga harus mengurus perusahaan.Selama ini masih sebatas wajar sikap Langit pada Naz,kakek jangan terlalu memikirkan hal itu." ungkap Nazia dengan menyodorkan potongan apel pada kakek Sameer.
"Dia begitu membenci ku,tak mudah memang untuk memaafkan semua yang terjadi di masalalu.Pasti ingatannya akan selalu mengulang hal yang sama." ucap Sameer tanpa harus menyebutkan nama Langit dengan mengganti dengan sebutan 'Dia'
"Apa memang kakek benar-benar tidak mengharapkan suami ku.Dia orang yang baik,walaupun sikap dan sifatnya keras.Sama seperti kakek.Maaf jika Naz lancang,tapi..aku pikir-pikir memang kalian ada banyak kesamaan.Ego kalian sama-sama besar.Gengsi kalian pun setinggi langit.Tapi, sebenarnya kalian menyayangi satu sama lain." ujar Nazia dengan tersenyum tipis.
Mendengar ucapan Nazia Sameer pun tercekat menghentikan kunyahannya dan menatap Nazia sekilas.Apa yang di katakan Nazia memanglah benar.Dia terlalu gengsian dan punya ego yang tinggi.
"Semuanya tidak ada yang salah.Maka dari itu aku tidak pernah mengkhawatirkan dia terlalu dalam.Karena aku tahu dia akan selalu berusaha untuk yang terbaik." ungkap Sameer.
"Telponlah Esih,bilang padanya dia kemari dan kamu pulanglah.Perhatikan suamimu.Kasihan dia,pastinya dia akan kesal terus padamu jika aku membiarkanmu selalu menjagaku di sini." ujar Sameer.
Nazia pun mengangguk mengiyakan permintaan Sameer.Nazia dengan cepat menghubugi Esih dan memintanya untuk menggantikan dirinya menjaga kakek Sameer.
.
.
Setelah selesai membersihkan dirinya Nazia berkutat di dapur untuk menyiapkan makanan untuk makan malam.
Adzan Isya sudah berkumandang namun,belum ada tanda-tanda Langit akan pulang.Sedari sore Nazia sudah berusaha untuk menghubungi suaminya dan menanyakan keadaan dirinya namun sayang,ponsel Langit tidak aktif.
Nazia merasa khawatir dengan sang suami sedangkan di luar hujan lebat sedangkan dirinya yang takut akan suara petir harap-harap cemas menunggu sang suami supaya cepat datang.
Keringat dingin sudah mengalir deras di tubuh Nazia.Tubuhnya limbung dan bergetar hebat.Dengan susah payah dia bersembunyi di pojok ruangan kamarnya dengan selimut tebal dia menutupi tubuhnya yang masih bergetar hebat.Sementara dia pun menangis tanpa suara hanya bisa menggigit selimut yang melilit dan membungkus tubuhnya.
Di luar sana mobil Langit yang dia kendarai terparkir di depan rumahnya.Dengan cepat dia masuk ke dalam rumah.
__ADS_1
Dia belum sadar jika istrinya sudah ada di rumah saat dia ke meja makan ingin mengambil minum,matanya melihat tudung saji diatas meja dan dengan cepat dia membukanya.
Dia melihat hidangan makan malam yang sudah mulai dingin diatas meja makan masih utuh.
Lalu dia pun mengingat sesuatu.
"Nazia.."gumam Langit dan langsung berlari ke arah kamarnya.
Dia sadar jika Nazia ada di rumah dalam keadaan hujan dan petir yang terbunyi.
Brakk..
"Naz,Nazia..!! " teriak Langit dan dia melihat keadaan tempat tidur yang acak-acakan.
Dia memandang sekeliling kamar dan benar saja,dia melihat sosok yang dia cari ada di pojok kamarnya.
Dengan secepat kilat dia membuka penutup yang menutupi tubuh Nazia.Benar saja wajah Nazia terlihat pucat.
"Sayanggg.." gumam Langit lalu meraih tubuh Nazia dalam pelukannya.
"Mas,kamu pulang.." ucap Nazia lirih.
"Iya sayang,maaf..maafin aku,kam....
Belum juga meneruskan omongannya tiba-tiba Langit melihat Nazia suah tidak sadarkan diri.
"Sayang,heii..yang..bangun sayang..maafin aku,maaf.." ucap Langit terus meminta maaf pada Nazia yang sudah pingsan.
Dengan perlahan Langit membopong tubuh Nazia ke atas tempat tidur.Lalu dia menyelimuti tubuh istrinya dengan selimut tebal.Langit yang sudah basah karena kena air hujan akhirnya dengan cepat dia ke kamar mandi dan membersihkan dirinya lebih dahulu dan memakai pakaian santainya tak sampai lima belas menit dia sudah tapi dan mencari minyak kayu putih yg untuk membuat Nazia sadar dari pingsannya.
Tak lama Nazia membuka matanya dengan perlahan.
"Alhamdulillah,kamu sudah sadar sayang.Maafin mas yah..sudah buat kamu kayak gini." ucap Langit dengan mencium tangan sang istri bertubi-tubi.
__ADS_1
Bersambung