BELENGGU CINTA LANGIT

BELENGGU CINTA LANGIT
#Pertemuan


__ADS_3

Sehabis Isya akhirnya Nabila dan Langit serta Shafa yang sedikit memaksa Langit untuk ikut dengan Langit dan Nabila ke tempat di mana Badai berada.


Shafa merasa familiar dengan nama Badai. Seperti dia pernah kenal dengan orang bernama Badai tapi, entah dimana dia lupa. Butuh dua jam lebih mereka sampai di rumah keluarga Fravash yang ada di puncak Bogor.


Mereka sampai di rumah sudah jam sepuluh malam.Hanya Sarti yang menyambut kedatangan mereka.


"Malam nyonya,tuan ,non, silahkan masuk.." ucap Sarti memberikan jalan untuk majikannya masuk ke dalam rumah itu.


"Badai sudah tidur bi?" tanya Nabila melihat suasana rumah yang sudah sepi.


"Sudah nyonya.Tadi sebelum kekamar mbak Zia mengecek kondisi tuan muda dan ternyata sudah tidur." jawab Sarti.


"Zia juga sudah tidur ?" tanya Langit


"Iya den,sudah..Zia pasti capek banget dari pagi-pagi sekali sudah mengurus den Badai sampai tadi jam delapan ngasih obat ,jam sembilan baru istirahat." ujar Sarti dengan menaruh tiga gelas teh hangat untuk majikannya dan tamunya.


"Dia merawat Badai dengan baik kan Sar,apa Badai masih kasar sama dia?" tanya Nabila.


"Alhamdulillah nggak nyonya,karena maaf mbak Zia selalu tegas dengan den Badai.Mba Zia bilang dia akan cepat pergi dan syaratnya den Badai harus segera sembuh.Entah apa lagi yang mereka bicarakan saya nggak tahu nyonya.Tapi, belakangan ini mereka baik-baik saja ." terang Sarti yang beberapa hari ini melihat Badai yang rajin berlatih berjalan saat pagi hari bersama Zia.


"Hebat juga perawat yang Vano kasih,dia pasti berpengalaman." ucap Langit mengakui kehebatan perawat Badai yang berani membuat Badai tak bisa menolak.


"Den Langit salah,mbak Zia bahkan baru tiga bulan menjadi perawat.Tapi, saya lihat mba Zia memang orang nya tulus kok den." tutur Sarti .


"Oh iya Sarti,tolong kamu antar Shafa ke kamar tamu yaa, kali saja dia mau istirahat." ucap Nabila dengan meminta Sarti membawanya ke kamar.


"I_iya nyonya ,silahkan non ikut saya." ujar Sarti dengan sopan.


Shafa pun ikut dengan bik Sarti menuju kamar tamu.Rasanya Shafa sedikit menyesal karena telah memaksa ikut menjenguk kakak dari kekasihnya itu.


...****************...


Di pagi hari Zia dan bi Sarti sibuk di dapur.Sehabis sholat subuh, Zia keluar kamar dan langsung ke dapur melihat bi Sarti yang sudah sibuk di dapur.


"Pagi bi Sarti.." sapa Zia pada Sarti yang sedang sibuk membuat omlete.


"Pagi mba Zia,maaf mba sarapan den Badai belum bibi siapin.Tapi, sebentar lagi matang kok." ujar bi Sarti.


"Biar Zia aja yang siapin bi." ucap Zia dengan memeriksa bubur untuk Badai.

__ADS_1


"Bibi pagi ini kayaknya sibuk banget ,terus ini semua buat siapa?" tanya Zia lagi.


"Oh ini,nyonya Nabila datang untuk menjenguk den Badai kebetulan nyonya dateng sama anak bungsunya adik den Badai dengan pacarnya juga." terang bi Sarti.


"Oh yah,kapan datang bi..kok Zia nggak tahu?" tanya Zia sambil memasukkan bubur ke dalam mangkuk.


"Semalam mba,sekitar jam sepuluh malam." ujar Sarti.


"Ya udah,Zia mau cek tuan Badai dulu bi." ucap Nazia berlalu ke kamar Badai untuk mengecek Badai.


Zia masuk ke dalam kamar Badai dan ternyata Badai baru saja bangun.


"Pagi tuan muda," sapa Zia saat masuk ke dalam kamar itu.


"Hemm.." jawab Badai singkat.


Zia menggeleng gelengkan kepalanya melihat tingkah tuan mudanya itu.


"Hari ini tuan muda harus lebih semangat. Tuan tahu,nyonya Nabila juga adik tuan datang menjenguk tuan kesini." ujar Zia dengan membantu Badai duduk di kursi rodanya.


"Mereka datang,sejak kapan?" tanya Badai saat menunggu Zia menyiapkan air mandinya.


"Kata bibi semalam,sekitar jam sepuluh." jawab Nazia yang telah selesai menyiapkan air mandi untuk Badai.


Sembari menunggu Badai,Zia membersihkan kamar Badai dan mengambil pakaian kotor Badai.


...----------------...


"Pagi nyonya,sarapan sudah siap." sapa Sarti saat melihat Nabila masuk ke ruang makan.


"Pagi bi, Badai sama Langit belum bangun?" tanya Nabila belum juga melihat putra-putra nya keluar kamar.


"Kalau den Badai mungkin sedang mandi.Soalnya Zia sudah masuk ke kamar den Badai."terang Sarti.


Tak lama terlihat Langit yang turun dari lantai dua dan menuju meja makan.


"Pagi mah,bi.."sapa Langit pada mamanya dan juga bi Sarti.


"Pagi sayang,duduk.Kita sarapan." ucap Nabila pada putra bungsunya.

__ADS_1


"Pagi den, silahkan. Ini kopi aden,kalau non Shafa saya tidak tahu kebiasaan nya." ujar Sarti mengingat ada tamu lain yang ikut dengan nyoya dan tuannya.


"Astaghfirullahal'adzim..mama sampai lupa kalau Shafa ikut sama kita.Bi,tolong kamu bangunkan Shafa yah.. " ucap Nabila pada Sarti untuk membangunkan Shafa.


"Baik nyonya."jawab Sarti langsung naik menuju ke arah kamar tamu.


"Mama rasa kalau nikah sama kamu,mungkin kamu yang akan melayani dia bukan dia yang melayani kamu." ujar Nabila merasa tak sreg dengan Shafa.


"Mama,mungkin Shafa kelelahan.Sudahlah,ini kan hal kecil..jangan di besar-besarkan juga." ucap Langit mengingatkan.Bukan membela kekasihnya itu,cuma dia tak ingin terjadi keributan.


Sedangkan Badai di bantu Zia keluar dari kamarnya menuju ruang makan.Zia meminta Badai untuk sarapan bersama dengan mama dan adiknya.Awalnya Badai menolak.Namun,Nazia menjual kesedihan nya untuk membujuk Badai untuk sarapan bersama keluarganya.


"Pagi mah,Lang.." sapa Badai dengan duduk di kursi rodanya mendekati meja makan.


"Pagi sayang,sini nak.." ucap Nabila menyambut kedatangan putra sulungnya.


Nabila langsung berdiri dari tempat duduknya dan langsung mendekati putranya. Sementara Langit masih membelakangi mereka dengan menikmati kopi miliknya.


"Pagi Lang.."sapa Badai mendekati sang adik dengan bantuan Zia.


Langit yang masih menunduk dia pun langsung mendongakkan kepalanya dan betapa terkejutnya dia melihat seseorang yang selama ini dia cari sedang bersama kakaknya.


Byurr..


Uhuk uhuk uhuk..


Langit menyemburkan kopi yang sedang dia nikmati dan terbatuk karena terkejut melihat sosok Nazia yang ada di depannya.


Sama dengan Langit,Nazia juga terkejut melihat suaminya yang ada di depan matanya.Dia terpaku melihat sosok suaminya.Namun,dengan cepat dia tersadar dari lamunannya dan dengan reflek mengusap punggung suaminya.


"Mas...!!" pekik Nazia panik melihat suaminya yang tersedak dan dengan cepat dia memberikan air minum pada Langit.


"Langit..!!" pekik Nabila bersamaan dengan Nazia dan juga merasa panik.


Dengan cepat Langit mengambil gelas yang disodorkan Nazia padanya.Tak lama Langit terlihat sudah berhasil mengendalikan dirinya.


"Mas nggak papa?"tanya Nazia dengan sedikit berbisik.


Langit menatap wajah istrinya yang sudah hampir lima bulan tak dia lihat.Penampilannya pun sudah berbeda walaupun kaca mata tebalnya masih bertengger di matanya.

__ADS_1


Mereka saling beradu pandang dengan durasi yang lumayan lama.Sampai dimana seseorang datang dan membuat keduanya terkejut.


Bersambung


__ADS_2