
"Nggak usah lebay lo,lagian sudah ada bi Esih yang handle semuanya.Lo nanti bisa minta layani bi Esih.Zia akan istirahat total hari ini.Tadi juga katanya sudah minum obat." ucap Langit begitu lancar memberikan alasan supaya Badai tak bisa menemui istrinya.
"Kenapa lo tahu kalau dia sudah minum obat dan lo..
"Tadi kebetulan gue ke taman belakang lalu ketemu Zia dan gue lihat dia kelihatan kecapean jadinya aku suruh istirahat sehari atau dua hari dan bi Esih bisa handle kerjaan dia." jelas Langit dengan kemampuan mengarang bebasnya.
"Oh,okelah.." jawab Badai dengan mencoba untuk mencoba ke kamar mandi.
"Gue bantuin." ucap Langit dengan memegang lengan Badai.
"Nggak usah ,gue harus mulai membiasakan diri apa-apa sendiri.Lagi pula nggak selamanya Nazia akan disini.Dia harus mencari keberadaan suaminya.Kalau pun akhirnya dia tidak ketemu bahkan mungkin di cerai aku tetap ingin dia bekerja di sini." ucap Badai membuat Langit terkejut.
Mendengar ucapan saudaranya yang begitu membela nasib Nazia,Langit jadi penasaran soal perasaan Badai saat ini.
"Kenapa Lo peduli banget sama Zia, jangan-jangan Lo naksir dia yah.." goda Langit dengan ekspresi yang tentu saja di buat-buat.
"Gue kasihan saja sama dia. Nggak ada salahnya kita baik sama orang kan Lang,kalau lo tanya gue naksir apa nggak sama dia gue bingung Lang,awalnya gue liat dia sangat menyebalkan tapi, dengan ketelatenan dan kesabaran untuk bisa membujuk gua agar lebih semangat untuk sembuh,gue lihat matanya yang memancarkan ketulusan.Gue rasa kalau dia belum punya suami atau bahkan dia sudah punya label janda gue rasa nggak ada salahnya gue daftar,ya nggak...?!" ucap Badai dengan tanpa peduli respon sang adik yang sudah terlihat kesal dengan ucapannya.
"Kenapa Lo nggak nyari yang sepadan dengan Lo.Maksud gue Lo nggak nyari yang sexy atau lebih terpelajar mungkin.Sebanding sama Lo juga.Kenapa harus Zia?" tanya Langit menahan rasa geramnya.
"Entahlah, mungkin karena sudah tidak ada lagi wanita yang aku cintai kecuali wanita di masa SMA ku dulu.Tapi,sayangnya dia mencintai orang lain." ucap Badai dengan senyum kecut.
"Apalagi dengan keadaan gue yang kayak gini,pastinya dia tidak akan pernah bisa menerima kekurangan yang gue punya." ucap Badai lagi.
__ADS_1
"Lo pernah usaha buat lebih dekat dan lebih berusaha buat memiliki gadis SMP Lo itu.Setidaknya Lo cinta sama dia dan pastinya Lo tahu betul apa yang dia suka dan tidak dia suka.Dari sana Lo bisa saja berusaha untuk meraih cinta si gadis SMP Lo itu."ucap Langit dengan nada yang terdengar semangat.
"Gue nggak yakin.Gua kalau pun melakukan hal itu bisa buat orang yang terpenting dalam hidup gue pasti marah dan kecewa karena merebut miliknya." ucap Badai dengan wajah sedih.
Langit mengernyitkan dahinya melihat ekspresi sedih Badai.Dalam hati Langit bertanya-tanya siapa wanita yang begitu di cintai kakak kandungnya itu.
...****************...
Benar saja hari ini Nazia tidak di perbolehkan keluar dari kamar miliknya.Bi Esih sigap untuk melayani nona mudanya itu.
Saat makan malam di paviliun belakang mansion Fravash para ART pun sudah berkumpul dengan menikmati makanan untuk makan malam mereka.
"Bik Esih,makan lah..sedari pagi aku lihatin kayaknya sibuk banget.Apalagi Zia si perawat tuan Badai sakit,bibi yang handle semua kerjaan dia.Aku rasa kok enak juga jadi Zia,sakit saja di layani terus dapet perhatian dari tuan Badai,belum lagi dari nyonya Nabila.Herannya lagi tuan Langit yang biasanya cuek sama orang kok sekarang kelihatan peduli banget sih." ucap Tinah salah satu ART di keluarga Fravash.
"Halah,aku juga bisa jadi perawat tuan Badai,kalau cuma buat siapin keperluan dan kebutuhan tuan Badai kok.." jawab Tinah yang tidak mau salah.
"Sudah-sudah kenapa kalian ribut,Zia memang sakit dan dia harus istirahat.Pekerjaan Zia tak semudah yang kamu bayangkan Tinah,kamu bisa siapkan keperluan dan kebutuhan tuan Badai,tapi..apa kamu bisa membuat tuan Badai kembali bersemangat buat sembuh,nggak pasti kan? Zia lah yang berhasil memotivasi tuan Badai,kalian pasti tahu sebelum Zia bekerja disini ,sudah banyak perawat yang mengundurkan diri sampai-sampai den Langit kebingungan buat cari perawat.Sudah,sekarang kalian fokus sama kerjaan masing-masing.Buat Zia itu biar jadi urusan ku ." ucap bi Esih panjang lebar.
.
.
Disisi lain di mana Langit sedang merapihkan kembali dokumen yang ada di atas meja kerjanya.Jam sudah menunjukkan pukul delapan malam. Rasa lelah dan badan yang terasa remuk membuat dirinya ingin segera pulang dan menemui sang istri. Langit mengingat kejadian semalam membuat senyumnya mengembang namun,beberapa saat kemudian dia di buat kaget dengan kedatangan Shafa di malam-malam seperti ini.
__ADS_1
"Shafa ,kamu ngapain kesini?" tanya Langit saat akan keluar dari ruang kerjanya dan melihat Shafa keluar dari lift.
"Haii..sayang,aku baru selesai pemotretan dan kebetulan dekat dengan kantor kamu,jadi aku mampir.Karena mama kamu bilang, kamu belum sampai rumah.Jadi, dugaan aku pasti kamu masih lembur.Jadilah aku kesini ,aku main ke apartemen kamu." ucap Shafa dengan bergelayut manja.
"Apartemen,emm..sorry aku nggak tinggal di apartemen lagi.Apartemen aku ,kebetulan aku sewakan.Ini kan sudah malam,kenapa kamu nggak langsung pulang, pasti kamu lelah.Aku saja sangat lelah ingin cepat istirahat." ucap Langit supaya Shafa mengurungkan niatnya untuk ikut dengan Langit.
"Astaga wanita ini,kenapa kesini.." umpat Langit dalam hati.
" Ya Tuhan ,semoga saja dia nggak jadi ikut gue," batin Langit .
Perasaan ingin cepat bertemu sang istri tentunya harus sedikit tertunda karena Shafa tiba-tiba datang.
"Kenapa kamu sekarang lebih milih tinggal di mansion,setahu aku kata kamu dulu malas kalau mama kamu suruh kamu ke mansion."ucap Shafa mengernyitkan dahinya.
"Itu kan waktu Badai belum mengalami kecelakaan.Sebaiknya kamu pulang , istirahat.Besok kita bisa ketemu lagi.Akulelah banget hari ini." ucap Langit menolak Shafa secara halus.
Shafa merasa kecewa namun,apa boleh buat,nyatanya Langit yang dia tahu adalah tipe orang yang tak mau di bantah dan tak mau di paksa.
"Okelah,kalau sampai rumah tolong kabari aku. I Love you.." ucap Shafa dengan gerakan yang akan mencium pipi Langit namun,dengan cepat Langit menghindar.
Melihat Langit yang lagi-lagi menolak dirinya untuk lebih intim dengannya,merasa kesal namun..dia tak bisa marah-marah seperti wanita lainnya.
Setelah memastikan Shafa pergi meninggalkan area kantornya dengan cepat Langit ke dalam mobilnya dan langsung tancap gas menuju mansion Fravash.Tak sabar ingin bertemu dengan istrinya itu.
__ADS_1
Bersambung