BELENGGU CINTA LANGIT

BELENGGU CINTA LANGIT
# Tragedi Mati Lampu


__ADS_3

Hari berikutnya Rini di kejutkan dengan kedatangan Langit ke rumahnya.Langit bilang memesan slice cake lagi pada Rini.


"Hari ini kak?" tanya Rini memastikan. Karena memang sangat mendadak bagi Rini.


"Iya,bisa nggak soalnya saya mau bagikan ke orang.Saya pesan lima slice cake lemon untuk hari ini." ujar Langit.


Rini melongo mendengar keinginan Langit , karena hari ini dia nggak tahu Nazia sanggup membuatnya atau tidak.


"Tapi, kayaknya nggak bisa selesai sore paling habis magrib gitu.Belum lagi belanjanya.Kakak tahu sendiri perjalanan ke kota bola balik setidaknya kita butuh waktu tiga jam."ujar Rini.


"Kalau gitu sejadinya aja Rin,nggak papa malam, soalnya saya juga paling pulang sore."ujar Langit.


Rini mehela nafas panjang "Baiklah,lumayan buat pemasukan saya sama temen saya."ucap Rini apa adanya.


Langit tersenyum tipis mendengar ucapan Rini.Akhirnya Langit memberikan beberapa lembar uang untuk membayar cake yang dia pesan.Setelah itu tak lama Imron menghampiri Langit di rumah Rini dan mereka pergi.


.


.


" Nazia !!" panggil Rini pada sosok sahabat nya.


Mendengar namanya di panggil Nazia menoleh pada sumber suara.


"Eh Rin,ada apa?" tanya Nazia saat melihat sepagi ini Rini sudah datang ke rumah nya.


"Aku punya orderan cake lemon seperti kemarin.Lima loyang untuk hari ini,sanggup tidak, bisa diantar habis magrib." ucap Rini.


"Lho,aku belum belanja bahannya buat cake nya Rin," ucap Nazia sedikit ragu takut tidak sanggup.


"Kenapa ndok'?" tanya sang bibi yang menenteng ember cucian mendekati dua gadis itu.


"Ini lho bi, Rini ngasih orderan lima box cake yang kayak kemaren," jelas Naz pada sang bibi.


"Ya udah kalau kamu sanggup,buatin..lumayan buat tambahan kamu ndok'." ucap sang bibi.


"Aku belum beli bahan-bahan nya bi," ucap Nazia.


"Ya sudah sana,kamu pake motor paman kamu.Hari ini paman kamu habis Dzuhur baru pergi." ucap si bibi


Tak pake lama akhirnya Naz di temani Rini membeli perlengkapan untuk membuat cake.Setelah selesai mereka langsung pulang.

__ADS_1


Sampai rumah Naz langsung mengeksekusi bahan-bahan yang di butuhkan untuk membuat slice cake.


Dia bantu sang bibi lumayan terbantu untuk pembuatan lima loyang cake.


"Di kirim jam berapa Naz?" tanya bibi Nazia sambil membantu Nazia.


"Paling lambat habis magrib bi," jawab Nazia mengadoni adonan untuk cake.


...****************...


Sementara di sebuah rumah besar di Jakarta sana ,terlihat semua anggota keluarga sudah berkumpul bersama untuk makan malam.


"Rasanya kangen juga sama Langit pah," ucap Nabila mama Langit.


" Ngapain kamu bahas anak nggak guna itu hahh !!" sentak kakek Langit Sameer Pravash biasa di panggil tuan Sam.


"Kek, walaupun begitu dia adik Badai kek,cucu kakek ." bela Badai kakak Langit.


"Kalian sudah tahu kekek paling tidak suka sama orang yang pembangkang, bahkan dia selalu saja buat nama baikku jelek," ucap kakek Sam meradang.


"Apa papa nggak pernah berfikir jika anak ku yang namanya Langit itu terlalu mandiri.Melakukan apapun sendiri tanpa bantuan papa.Apa pernah, papa berikan fasilitas yang sama dengan apa yang papa berikan pada Badai.Pa,anak mas Erlang itu ada Badai dan juga Langit.Tapi, papa seperti nya lupa kalau papa menganggap Langit itu seperti produk gagal. Apa pernah papa berikan waktu papa untuk quality time bersama Langit,nggak pah.Papa lebih sibuk dengan Badai yang papa harapkan sebagai pewaris dan juga keturunan keluarga Fravash yang sempurna,"


Panjang lebar Nabila mengungkapkan semuanya yang menjadi unek-unek nya selama ini rasanya sedikit lega karena sudah berhasil mengeluarkan keluh kesah nya selama ini.


Menangis dalam diam.Dia mendekap pigura foto seorang anak kecil dengan pria dewasa disana.


"Mas,kenapa kamu begitu cepat pergi.Kamu tahu,Langit begitu merindukan kamu Dia tidak pernah mengeluh lagi pada ku,dia terlalu mandiri.Memeluk anak itu pun aku nggak bisa lagi mas,sakit hati ini saat papamu mengusir darah daging nya sendiri.Sesak aku mas,kalau bukan karena Langit menyuruh ku tetap disini aku lebih memilih terusir seperti nya..hiks hiks.."


Ungkapan hati Nabila membuat Badai yang awalnya ingin mengantar makan malam buat sang mama terhenti saat mendengar ucapan sang mama.Rasanya hatinya sakit saat mamanya menangis karena rindu dengan adiknya.Badai terlalu takut untuk melawan kakek nya.Tidak seperti Langit yang begitu berani melakukan apapun yang dia inginkan.Tanpa rasa takut akan berdampak buruk padanya.


Mengingat kembali bagaimana kakeknya mengatakan jika Langit di usir oleh sang kakek hanya di bekali uang lima juta rupiah.Buat Badai nilai uang segitu sangat kecil dan juga mana cukup untuk makan bertahun-tahun.


...****************...


Di tempat dimana Langit berada kini dirinya baru sampai rumah dan baru saja selesai mandi dan mendengar ketukan pintu rumahnya .Dengan segera dia membuka pintu dan ternyata gadis yang sempat beradu mulut dengannya.


"Kamu...


"Maaf saya Nazia ,saya mau antar slice cake lemon ini untuk anda." ucap Naz menyerahkan bungkusan yang ada di dua tangannya.


"Bisa bawa masuk,silahkan.." ucap Langit memberikan jalan untuk Naz masuk.

__ADS_1


Hujan deras tiba-tiba turun.Naz masuk dan membantu Langit membawa kotak yang dia bawa.


"Kenapa kamu yang antar,saya kan pesan sama Rini," ucap Langit heran.


Karena memang Naz dan Langit tidak tahu satu sama lain siapa yang membuat cake dan siapa yang memesan.Baru tadi magrib Rini mengirim pesan jika dirinya tidak bisa pulang cepat dan cake itu harus diantar ke rumah Langit karena sudah janji.


Awalnya Naz sudah menolak mengantarkannya namun,Rini mengingatkan jika dirinya sudah janji.Sedangkan paman dan bibinya sedang kondangan ke kampung sebelah dan belum pulang.


Akhirnya dengan terpaksa Naz mengantarkannya sendiri.


"Tuan,apa anda punya payung,bisa saya pinjam dulu.Saya harus pulang sudah malam." ucap Naz di ambang pintu rumah Langit.


" Kayaknya ada,coba sebentar saya carikan." ucap Langit mulai melangkah masuk ke dalam kamarnya namun,


saat beberapa langkah tiba-tiba listrik mati.


"Aaaaa..." jerit Naz karena terkejut dan juga karena takut gelap.


"Hei,kenapa kamu teriak.Kalau ada orang denger dikira saya ngapa-ngapain kamu !" ucap Langit sedikit meninggikan suaranya.


"Sa_saya takut gelap..hiks hiks .." ucap Naz tergagap dan menangis dengan berjongkok di dekat pintu rumah Langit.


"Ssssstttt..jangan nangis ,dimana kamu?" tanya Langit yang begitu gelap tak bisa melihat apapun.


Sialnya ponsel Langit entah dia letakkan dimana,sementara Naz pun tak bawa ponsel.


Setelah menemukan letak dimana Naz berada tiba-tiba Naz dengan reflek memeluk Langit dengan erat .Langit bisa merasakan tubuh Naz yang sudah gemetar.


Begitu pelan Langit tarik Nazia untuk berdiri dan sedikit meraba-raba ruang kosong dan memeluk erat Nazia sambil mengingat dimana letak sofa yang ada di ruang tamu kecil rumahnya.


Langit membawa Naz duduk di sofa dan Naz masih dalam pelukan Langit dengan tubuh gemetar.


Langit mengusap punggung Naz mencoba menenangkan.


"Ssstttt...jangan takut ada saya disini, tenang lah, hemm," ucap Langit begitu lembut terdengar di telinga Naz.


Perasaan Naz berangsur-angsur tenang dan sedikit merasakan kantuk karena terlalu lelah untuk pekerjaan mau hari ini.Tanpa terasa mereka tertidur dalam gelap dengan saling berpelukan.


Klik


"Astaghfirullahal'adzim.."

__ADS_1


Bersambung..


__ADS_2