
"Gimana mba,apa den Badai sudah selesai mandi?" tanya bik Sarti saat melihat Zia masuk dalam dapur.
"Sudah bi,dia lagi ganti baju.Zia mau ambil sarapan buat tuan muda,apa sudah di siapkan ?" tanya Zia memastikan.
"Sudah mba,sekalian sama obatnya.Semoga bisa berhasil buat tuan muda minum obat." ujar bi Sarti berharap besar tuan mudanya bisa bersemangat lagi untuk sembuh.
"Semoga saja bi,emangnya dia nggak bosen kalau harus lama-lama duduk di kursi roda.Kalau Zia sih,ogah !" ucap Zia dengan menaruh piring,gelas dan obat Badai ke atas nampan.
"Yah,kalau ada penyemangat hidup oke-oke saja mba,tapi..den Badai kan sudah patah hati.
Kecelakaan,lalu lumpuh ,siapa yang nggak sedih mba.." ungkap bi Sarti merasakan kesedihan tuan mudanya itu.
Zia memang tak tahu apa yang akan dia lakukan untuk membuat Badai semangat untuk sembuh.
Setelah di rasa sudah cukup untuk keperluan Badai, akhirnya Zia kembali ke kamar Badai.
Saat masuk ke kamar Badai,Zia melihat Badai sedang duduk diam di atas kursi rodanya dengan menatap jendela kamarnya.Zia pun perlahan mendekati nya.Zia berpikir kalau Badai tak menyadari kehadirannya.Benar saja Badai masih sibuk melihat sebuah foto yang memperlihatkan gadis berseragam putih abu-abu yang sedang tersenyum ceria.
Zia yakini kalau gadis dalam foto itu adalah gadis yang Badai cintai.Zia pun sempat melihat Badai mengusap bagian matanya.
Menyadari akan adanya orang lain di dalam kamarnya Badai langsung membalikan kursi roda nya.
Badai terlihat terkejut dengan adanya Zia di dalam kamarnya.
"Kenapa kamu ada disini ,kamu nggak bisa ketuk pintu dulu sebelum masuk.Coba kalau saya belum selesai ganti,apa kamu sengaja supaya kamu bisa ciri-ciri kesempatan,hahh?!" cetus Badai dengan menatap wajah Zia dengan sinis.
"Maaf tuan muda,saya tadi melihat pintu kamar tidak tertutup rapat jadi ,saya putuskan untuk masuk dan malah melihat tuan muda lagi melamun,sambil meratapi foto cewek itu," ucap Zia dengan menunjuk pigura yang ada di pangkuan Badai.
"Nggak usah sok tahu, jangan berani-berani kamu ikut campur dalam urusan ku,nggak sopan !!' sentak Badai
Zia menghela nafas panjang dan langsung melangkah ke dekat Badai lalu meletakkan nampan itu di atas nakas yang ada di samping tempat tidur Badai.
"Sebaiknya kamu keluar,atau saya akan bertindak kasar sama kamu !!" ancam Badai menatap tajam kearah Zia.
__ADS_1
"Baiklah saya akan keluar kamar ini,tapi..setelah anda makan makanan yang saya bawakan dan juga obat yang harus anda minum, setelah itu saya janji akan keluar dari kamar anda" ucap Zia dengan santai.
Zia menatap Badai yang menatapnya dengan tatapan matanya yang penuh kemarahan.Namun,Zia tak peduli dengan resiko yang akan dia tanggung.
"Kamu keras kepala ,sebaiknya kamu pergi atau akan saya pastikan kamu keluar dari rumah ini hari ini juga!!" ancam Badai tak mau kalah.
"Oke,dengan senang hati saya keluar dari rumah ini,tapi ...dengan satu catatan jika anda sudah kembali normal seperti sedia kala,baru saya keluar dari rumah ini.Saya juga nggak ingin lama-lama disini bersama tuan.Saya punya kepentingan pribadi yang juga penting.Jadi ,please tuan..tolong bantu saya agar cepat keluar dari sini.Syaratnya cuma satu,anda sehat kembali." ungkap Zia panjang lebar.
"Itu tidak mungkin,mustahil !!"ucap Badai dengan nada tinggi.
"Kata siapa,dokter pun mengatakan jika anda punya kesempatan itu.Tapi,sayangnya anda menyerah dan nggak mau coba.Kalau anda ingin mencapai apa yang anda inginkan , berkorban dan berusahalah.Jangan jadi pecun*ang !!"
Mendengar sindiran Zia ,Badai melotot dan mendengar kesal.
****************
Zia membatu menyuapi makanan pada Badai.Terlihat Badai menerima setiap suapan Zia.
"Kalau begini terus,tuan muda akan lebih punya tenaga." ucap Zia
"Gengsi saja di gedein.." gumam Zia tersenyum miring
"Kamu ngomong apa?!" tanya Badai dengan nada yang tak bersahabat.
"Ng_nggak ada apa-apa,cuma tangan saya pegal tuan." ujar Zia berbohong.
Setelah selesai makan Zia membantu Badai untuk duduk diatas tempat tidur nya dan segera istirahat.Tak lupa Zia memberikan obat yang harus Badai konsumsi.Setelah nya Zia berpamitan untuk keluar kamar Badai.
Saat di dapur terlihat bi Sarti sedang sibuk bersih-bersih.
"Mbak Zia sudah keluar dari kamar den Badai, Masyaallah..makanannya habis mba,wah..kemajuan ini ." ucap bi Sarti senang dengan sedikit kemajuan tuannya.
"Alhamdulillah bi, walau pun banyak drama diawalnya,saya juga ingin segera keluar dari rumah ini bi.Saya ingin sekali mencari suami saya ." ucap Zia dengan senyum kecut.
__ADS_1
"Sabar ya mba,semoga Allah mudahkan semua urusan dan hajat kita ." ucap bi Sarti berusaha menguatkan Zia.
"Aamin.. terimakasih bi Sarti." ucap Zia tersenyum manis dan memeluk wanita paruh baya itu.
****************
Disisi lain,Langit masih mencari keberadaan istrinya.Bagaimanapun Nazia masih berstatus sebagai istri walaupun tanpa cinta.
Langit menghembuskan nafasnya dengan kasar dan menatap taman yang ada di belakang mansion keluarganya.
"Nak,ternyata kamu ada disini.Pantas ,sedari tadi mama cari-cari di dalam kamu nggak ada." ucap Nabila berdiri di samping putra bungsunya.
"Ada apa ma,apa kakek masih lama di Belanda?" tanya Langit menatap sang mama sekilas.
"Kemungkinan iya.Kesehatan kakek turun naik semenjak Badai kecelakaan. Mungkin karena umurnya yang sudah tidak muda lagi.Sementara orang yang selama ini dia banggakan sedang down." ucap Nabila mengingat sang mertua yang begitu terpukul melihat cucu kebanggaannya saat ini tak lagi bersemangat untuk hidup.
"Gimana dengan perawat Badai yang baru ma ?" tanya Langit karena seharian ini dia tak mendengar keluhan dari mamanya soal Badai.
"Kata biSarti,perawat baru itu berhasil buat Badai makan dan minum obat Walaupun,awalnya seperti kita tahu kalau Badai akan mengamuk tapi, Zia mencoba sabar buat merawat Badai." ungkap Nabila
"Siapa nama perawat Badai ?"tanya Langit yang merasa tak asing dengan nama Zia.
"Zia ,namanya Zia..itu yang di katakan Vano.Kenapa,ada yang salah?" tanya Nabila dengan mengerutkan keningnya.
"Ahh..nggak ada mah.."ucap Langit dengan senyum kikukm
"Kalau hubungan kamu sama Shafa gimana?" tanya Nabila tiba-tiba membuat Langit menatap sang mama.
"Nggak gimana-gimana,mama kenapa tiba-tiba tanya kayak gitu?" tanya Langit balik sepertinya sang mama yang mulai kepo dengan hubungan Langit dan Shafa.
"Bukan apa-apa,karakter kamu itu lebih di bilang cuek dan juga nggak romantis seperti papa kamu.Tapi, dalam hati sangat baik.Beda dengan Badai yang terlihat keras namun melow. Shafa orang senang akan kebebasan sama seperti kamu.Kalau kalian berumah tangga,lebih baik kalian harus membuang ego kalian.Apalagi Shafa yang seorang model.Pastinya dia akan selalu sibuk,kamu pun pasti begitu.." ucap Mama Nabila.
Langit membenarkan ucapan mamanya.Beda dengan Nazia yang selalu tahu keperluan apa yang Langit butuhkan.Walaupun Langit awalnya enggan menerima perhatian Nazia.Tapi, saat dalam sibuknya kini dia pun ada secercah kerinduan pada istri sirinya itu dan berharap akan segera bertemu dengannya.
__ADS_1
Bersambung