
Rumah besar keluarga Fravash kini terlihat sangat sepi.Di meja makan sudah terhidang menu makan malam yang begitu lengkap. Namun,belum ada satu orang penghuni pun yang berkumpul di ruang makan.
Tok tok tok..
Ceklek.
"Malam tuan muda." ucap bi Esih pada Badai yang membuka pintu kamarnya.
"Kenapa bi?" tanya Badai tak bersemangat.
"Makan malam sudah siap,nanti keburu dingin." ujar Esih.
"Saya belum lapar bi,nggak papa dingin lauk yang bisa di panasin taruh saja di lemari nanti saya panasin sendiri kalau laper." jawab Badai.
"Tapi tuan muda,tuan besar juga belum makan.Nanti beliau sakit.Apalagi beliau harus minum obat." ujar Esih mengehentikan pergerakan Badai yang akan menutup pintu kamarnya.
Badai menatap wajah Esih dan menghela nafas dalam.
"Kenapa kakek belum makan bi?" tanya Badai malah berbalik menanyakan sang kakek pada Esih.
"Kurang tahu tuan muda.Setelah den Langit dan Naz pergi tuan belum keluar dari kamarnya.Saya sebenarnya khawatir dengan keadaan tuan besar.Kalau boleh,tuan muda tolong lihat tuan besar lebih dulu."
Dengan berat hati Badai pun menutup pintunya dan melangkah muenuruni tangga dan menuju kamar sang kakek.
Bagaimanapun kesalnya Badai pada kakeknya, dalam hatinya sangat mencemaskan keadaan beliau.
Tok tok tok
"Kek,kakek..!!" seru Badai dengan mengetuk pintu kamar sang kakek.
Beberapa kali mencoba mengetuk pintu kamar Sameer namun tidak ada tanggapan.Hal itu membuat hari Badai khawatir.
Badai mencoba untuk membuka pintu kamar itu dan ternyata pintu kamar itu tak terkunci.
"Kek,Badai masuk yaa.." ucap Badai masuk kedalam kamar sang kakek.
Saat melangkah masuk Badai melangkah menuju tempat tidur yang besar dan terlihat kakeknya sedang berbaring di tempat tidur dengan memejamkan matanya.
"Kek.."panggil Badai.
Panggilan Badai tak ada jawaban dari sosok yang masih diam diatas tempat tidur tanpa merespon Badai.
Badai menyentuh lengan kakeknya dan Sameer mulai membuka matanya perlahan.
__ADS_1
"Kakek,kakek kenapa? kakek sakit? mana yang sakit kek,bilang sama Badai." cecar Badai yang tiba-tiba panik melihat kakeknya terlihat pucat.
"Lang-Langit.." ucap Sameer lirih.
Badai terkejut mendengar suara lirih Sameer memanggil Langit.
"Kakek mau ketemu Langit?"tanya Badai.
Belum juga menjawab pertanyaan Badai tiba-tiba Sameer tak sadarkan diri.
"Kek,Kakek,Kakek kenapa.. Astaghfirullahal'adzim..bibi !!" teriak Badai mencoba menepuk-nepuk pipi Sameer namun tak ada respon sama sekali.
Esih dan ART lain mendengar teriakkan Badai langsung berlari menuju kamar Sameer.
"Tuan besar,tuan besar kenapa den?" tanya Esih dengan perasaan cemas.
"Entahlah bi,kita segera bawa kakek ke Rumah Sakit.Mang Udin tolong siapkan mobil."
"Baik den." jawab mang Udin langsung melesat pergi menyiapkan mobil.
Dengan perlahan Badai mencoba menggendong tubuh kakeknya yang tidak sadarkan diri.
Walaupun masih terasa nyeri di bagian kakinya namun,Badai tak hiraukan keadaan kakinya.Dia membawa tubuh kakeknya keluar dan segera menurunkannya di mobil yang akan membawa kakeknya ke Rumah Sakit.
Lima belas menit mereka sampai di Rumah Sakit.Udin yang langsung keluar dan memanggil petugas untuk membantu membawa Sameer ke dalam Ruangan UGD.
"Kek,kakek." panggil Badai mencoba memanggil Sameer yang dia harapkan mendengar panggilan darinya.
"Maaf tuan,anda tidak bisa masuk.Anda tunggu di sini,kami akan segera tangani kakek anda."ucap salah satu suster yang mencegah Badai untuk masuk ke dalam.
Terpaksa Badai pun menuruti apa kata sang suster.
Dia duduk di kursi tunggu dengan perasaan yang cemas.Badai mengambil gawainya yang ada didalam saku celana jogernya.
Badai mencari kontak telepon sang mama.Dia mulai menghubungi sang mama dengan perasaan tak menentu.
Lumayan lama panggilan telepon Badai untuk dijawab.
"Assalamualaikum,"ucap Nabila dari seberang saat mengangkat panggilan sang putra.
"Wa'alaikumsalam mah,mamah..Badai cuma mau bilang sama mama,kalau kakek masuk Rumah Sakit dan saat ini sedang di tangani di ruang UGD.Minta doanya mah,semoga kakek nggak kenapa-napa.Terus,sebelum pingsan kakek nanyain Langit." ucap Badai dengan suara yang terdengar bergetar.
Dari seberang sana Nabila menjatuhkan di sofa ruang tamu rumah Langit.Kabar yang baru dia terima tentu saja membuat dirinya terkejut.
__ADS_1
Nabila mematikan panggilan teleponnya dan termangu menatap kosong.
Nazia yang terlihat gelagat mertuanya pun akhirnya memilih untuk duduk di sampingnya.
"Mah,mamah kenapa? apa ada masalah?" tanya Nazia dengan nada lirih.
Nabila menoleh pada anak menantunya itu.
"Badai barusan telpon mama.Dia bilang,kakek masuk Rumah Sakit dan dia nanyain Langit." jawab Nabila dengan mata yang berkaca-kaca.
Walaupun Nabila terkesan tak suka dengan perlakuan mertuanya selama ini namun,dalam lubuk hatinya paling dalam dia amat menyayangi mertuanya itu.
Ada rasa cemas dengan keadaan Sameer.
"Kok bisa kakek mendadak sakit,apa kakek mengidap penyakit yang serius?" tanya Nazia.
"Selama ini gula darah nya suka tinggi.Entah apa yang terjadi waktu kita pergi dari rumah itu." ucap Nabila dengan wajah berubah sendu.
"Mama mau ke Rumah Sakit?" tanya Nazia.
"Mama bingung Zi."
"Kalau mama mau ke Rumah Sakit biar Naz temani mama.Kemungkinan besar mas Langit pun tidak mau menemui kakek dulu." tawar Nazia pada ibu mertuanya itu.
Nazia tahu jika Nabila pastinya khawatir dengan keadaan kakek Sameer.Bagaimanapun kediktatoran kakek Sameer pastinya dia membutuhkan keluarganya.
"Ada apa ini?" tanya Langit yang tiba-tiba muncul di samping Nazia.
"Astaghfirullah mas,bikin kaget saja.Barusan Badai telpon mama.Dia ngasih tahu kalau kakek masuk Rumah Sakit."jawab Nazia.
"Oo.." jawab Langit singkat.
"Loh kok O doang siah mas,kamu emangnya nggak khawatir sama keadaan kakek?"tanya Nazia yang heran dengan sikap suaminya yang biasa saja mendengar berita barusan.
"Sush banyak dokter yang nanganin kan,kita nggak perlu khawatir.Kalau butuh perawatan yang lebih canggih tentunya Badai sanggup bawa kakek ke luar negeri buat berobat.Nggak mungkin mereka nggak punya uang kan,secara hartanya banyak dan tentunya tak sulit untuk memberikan yang terbaik untuk kakek." ungkap Langit lalu melangkah meninggalkan ibu juga istrinya .
"Tapi kakek nanyain kamu,sebelum pingsan !!" teriak Nazia membuat Langit langsung menghentikan langkahnya.
Langit menghela nafas panjang dan berbalik menatap sang istri.
"Jangan pernah berfikir untuk memaksa aku buat nemuin kakek.Aku sudah nggak ada urusan sama dia.Kamu pasti sudah tahu apa pilihan ku.Jadi jangan pernah paksa aku." ucap Langit dengan nada tegas.
Lalu dia pun meneruskan langkahnya menuju kamar pribadinya.
__ADS_1
Bersambung