
Hari pertama perawat baru Badai membuat dirinya kesal sepanjang hari.Karena Zia sudah memaksa Badai makan dan menjemur Badai di tengah taman belakang itu membuat dirinya kesal bukan kepalang .
Malam hari Sarti menghampiri Zia yang ada di meja makan.
"Mbak Zia,ini obat tuan muda.Biasanya tuan muda akan menolak jika perawat memberikan obat.Apalagi sampai memaksanya pasti tuan muda akan mengamuk." ucap Sarti menyodorkan kotak obat pada Zia.
"Doain Zia bi, semoga tuan muda mau meminum obat nya malam ini." ujar Zia dengan tersenyum.
"Aamin.." jawab Sarti berharap apa yang diucapkan Zia dan doa para keluarga Badai cepat terkabul.
"Oh iya bi,makanan tuan muda sudah di siapkan?" tanya Zia.
"Owhh,ini makanan buat tuan muda dan ini ada buah potong juga."ucap bik Sarti menyerahkan nampan pada Zia.
"Makanannya cuma ini saja bi ?" tanya Zia melihat nampan ada sedikit makanan dan buah saja.
"Iya mbak,tuan terbiasa makan malam menu yang ringan." jawab bi Sarti menerangkan kebiasaan tuan mudanya itu.
"Baiklah bi,kalau begitu saya bawa ke kamar tuan muda.Semoga tuan muda nggak buat drama lagi seperti tadi siang." ujar Zia dengan senyuman manisnya masih setia tersungging di bibirnya.
Zia melangkah menuju kamar Badai dan di depan kamar Badai menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskan nya dengan kasar.
Ceklek.
Zia membuka pintu kamar Badai dan terlihat Badai yang sedang duduk bersandar di atas tempat tidurnya dengan ponsel di tangannya.
Dengan sedikit ragu Zia mulai melangkah masuk ke kamar itu.Dalam hati selalu berdoa semoga Badai tidak kasar seperti kelakuannya siang tadi.
Bukan karena takut ,cuma rasa lelahnya itu membuat Zia malas melayani Badai yang marah-marah.
"Permisi tuan,waktunya minum obat."ucap Zia menghampiri Badai.
Zia meletakkan nampan nya ke atas nakas dan mengambil piring yang berisi makanan untuk Badai.
__ADS_1
"Keluar,dari kamar saya !!" pekik Badai mengusir Zia dari kamar nya.
"Keluar kataku,kau tul* !!" teriak Badai lagi dengan wajah merah padam.
"Tapi,anda harus minum obat tuan.Tolong...
PRANG. 💢
Badai menepis tangan Zia yang menyodorkan piring berisi makanan sampai piring itu kembali mendarat ke lantai
"Tuan !!"pekik Zia tak sadar meninggikan suaranya.
"Kau bud*g atau apa sih,saya sudah bilang keluar.Apa perlu saya berbuat lebih kasar dari ini !!" teriak Badai menatap nyalang Zia.
"Saya baru tahu ternyata tuan muda yang notabene nya orang kaya dan berpendidikan tinggi ,tidak ada sopan santunnya sama sekali.Bahkan saya rasa masih kalah sama anak SD atau bahkan sekelas PAUD sekalipun. Kelakuan anda sungguh tidak mencerminkan kelas anda.Permisi,terserah anda mau minum obat atau tidak, mau hidup atau tidak ,itu urusan anda.Tapi,saya rasa anda seorang pecun*ang hanya bisa tergantung sama orang lain,menyusahkan !!" ucap Zia dan langsung melangkah keluar kamar Badai dengan menutup pintu kamar dengan kasar.
"Woiii, gadis kampung.Sini lo, berani-berani nya kau mengataiku seperti itu,sial*n !!" teriak Badai dengan memaki Zia dan melempar nampan yang berisi gelas dan piring.
Zia termenung di meja dapur,dia memikirkan nasibnya.Jika bukan karena ingin mencari suaminya ,dia tidak akan mungkin mengalami semua yang kini dia dirasakan.
...****************...
Pagi hari Zia terbangun seperti biasa.Begitu pagi layaknya di kampungnya.
Setelah melaksanakan kegiatan nya dia keluar kamarnya dan menuju dapur.Terlihat bin Sarti yang sudah ada di dapur sedang memasak sesuatu.
"Pagi bi Sarti !!" sapa Zia dengan penuh semangat.
Sarti yang sedang sibuk membuat sarapan pun menoleh ke arah Zia dengan senyuman di bibirnya.
"Wah, mbak Zia semangat sekali hari ini,padahal suka di galakin den Badai.Masih saja tersenyum gitu," ucap ucap Sarti yang kagum dengan semangat Zia.
"Mau gimana lagi bi ,Dokter Vano mempercayakan pekerjaan ini sama Zia.Pastinya Zia akan sekuat mungkin bertahan untuk membuat tuan muda sembuh.Lagi pula ,saya perlu biaya buat mencari seseorang bi." ucap Zia dengan tersenyum kecut.
__ADS_1
"Mencari seseorang,apa saudara mbak Zia ?"tanya bik Sarti penasaran.
"Bukan,mencari keberadaan suami saya bi. Dia pergi tanpa kabar, kebetulan saya akan mencari seseorang yang katanya bekerja di rumah keluarga besar suami saya.Tapi,karena waktu saya datang kesini saya dapat musibah,karena semua barang bawaan saya di rampok. Beruntung dokter Vano mau menolong saya dan saya bekerja sebagai asisten suster yang menangani kakek beliau. Sampai kemarin beliau menawari pekerjaan ini dengan gaji besar,makanya saya mengiyakan permintaan dokter Vano." ungkap Zia.
Sarti terkejut mendengar kenyataan yang ternyata Zia sudah menikah .Sungguh Sarti pun merasa iba pada nasib Zia yang di tinggalkan suaminya.
"Ya Allah,semoga saja mbak Zia bisa bertemu lagi dengan suami mba Zia yah,semoga suami mbak Zia tidak kenapa-kenapa." ungkap Sarti mengelus punggung Zia yang sudah terisak menangis karena memang selama ini dia tak ada teman untuk mengadu.
"Ah sudahlah, sekarang Zia harus semangat cari uang bi, sekarang apa tugas Zia yang biasa perawat tuan muda lakukan?" tanya Zia sebisa mungkin menghilangkan rasa overthinking nya.
"Biasanya sebelum sarapan,tuan muda akan mandi mbak.Tenang dulu mba,biasanya mba cuma mengantar ke kamar mandi dan tuan muda akan mandi sendiri kok."ungkap bi Sarti.
"Beneran bi,bukan saya yang harus me_memandikan tuan muda kan?" tanya Zia memastikan.
"Beneran mba,yang ada nanti tuan muda marah besar kalau sampai ada yang berani menyentuh kulitnya." papar bik Sarti.
"Syukurlah bi,kalau gitu Zia akan ke kamar tuan muda bi." ucap Zia beranjak dari tempat duduknya.
Zia melangkah menuju kamar Badai.Ternyata pintu kamar Badai tak terkunci.Zia pun masuk ke dalam kamar dan melihat Badai yang sedang berusaha untuk duduk di kursi rodanya.
" Tuan,maaf biar saya bantu ," ucap Zia melangkah mendekati Badai.
"Kau, ternyata kau masih disini.Lumayan oke juga mental kamu.Tapi,entah hari ini atau besok.." ucap Badai mencibir.
"Terserah tuan muda,sekarang saat nya saya melakukan tugas saya." ucap Zia dengan santai mulai membatu Badai duduk di kursi rodanya.
Melihat reaksi Zia membuat Badai kesal.Apalagi sepertinya tidak gentar menghadapi kekasaran yang di lakukan Badai.
Zia pun mendorong kursi roda Badai ke dalam kamar mandi dan menyiapkan air untuk mandi untuk Badai.
"Setelah selesai,tuan bisa panggil saya."ucap Zia langsung melangkah pergi meninggalkan Badai yang ada di kamar mandi sendiri.
Zia menghela nafasnya dengan dalam ,dia pun melihat beberapa foto yang terpajang di nakas.Banyak foto-foto Badai dengan balutan jas yang terlihat gagah penuh wibawa.Saat dia masih terpaku dengan gambar-gambar itu tiba-tiba Badai berteriak.
__ADS_1
"Wanita kampu*g ,di mana kau !!"teriak Badai menyadarkan lamunannya.
Bersambung...