
Malam ini Badai tak bisa memejamkan matanya semenjak mengetahui bahwa Nazia sudah memiliki suami dan kabar itu dia dapatkan dari bi Sarti.
"Apa bener,yang dikatakan bi Sarti,ternyata dia sudah punya suami." gumam Badai.
"Astaga,kenapa gue mikirin apa yang bukan urusan gue." gumam nya lagi dan lagi lagi dia tidak berhasil membuat nyenyak tidurnya.
Jam Tiga pagi Langit kembali ke rumah itu dan tubuhnya sedikit terhuyung karena kebiasaannya untuk menenggak minuman k*ras kembali dia lakukan.
Sepi,itu yang terlihat saat dia masuk kedalam rumah itu.Dia mengedarkan pandangannya dan menerbitkan senyum tipis dari sudut bibirnya.
Langit melangkah menuju sebuah kamar dan saat menekan gagang pintu kamar itu tak bisa dia buka.Ternyata pintu itu terkunci.
"Sial,kenapa dia kunci." umpat Langit.
Akhirnya dia pun melangkah ke arah kamar yang ada di samping kamar yang sempat akan dia masuki.
Kamar yang sempat akan dia masuki itu,adalah pintu kamar Nazia.Namun, sayangnya kamar itu terkunci.
Langit pun akhirnya masuk ke dalam kamar lain dan membuka bajunya lalu langsung saja dia rebahkan tubuhnya diatas kasur yang empuk di kamar itu.
Langit pun terlelap tidur.Rasa hati dan tubuhnya terasa lelah.Apalagi mengingat kembali istrinya yang terlihat sangat kecewa padanya.
Pagi harinya seperti biasa Nazia menjalankan tugas sebagai perawat Badai.Kali ini Nazia yang biasanya akan cerewet pada Badai terlihat lebih banyak diam.
"Zia,kamu baik-baik saja kan?" tanya Badai pada perawatnya itu.
"Ah i_iya tuan,Zia baik-baik saja." jawab Nazia dengan tangannya yang mendorong kursi roda Badai kearah kamar mandi.
"Apa benar,kalau kamu sudah punya suami?"tanya Badai tiba-tiba.
Mendengar pertanyaan Badai membuat pergerakan tangannya terhenti dan menatap Badai sekilas.
"Bukan maksud saya akan mencampuri urusan kamu,apa benar kalau kamu menjadi perawat dan ingin cepat keluar dari kerjaan kamu karena kamu ingin mencari suami kamu?" tanya Badai lagi.
Nazia menghirup udara banyak-banyak ke paru-parunya.
"Iya tuan,saya sudah menikah dan saya sedang berusaha mencari keberadaan suami saya.Tapi, entah dia akan suka atau tidak dengan usaha saya.Tapi,saya cuma ingin kepastian dari dia.Saya ingin perjelas status saya tuan.Kalaupun saya nantinya dia lepaskanpun saya terima.Karena pernikahan kami bukan di dasari dengan cinta."ungkap Nazia pada Badai.
"Kamu di jodohkan?" tanya Badai.
__ADS_1
Semakin lama Badai ingin tahu tentang kehidupan Nazia.
"Tidak.Maaf tuan,saya permisi dulu.Kalau sudah bisa panggil saya." ucap Nazia langsung berlalu begitu saja keluar kamar mandi Badai.
...****************...
"Zia,kamu sudah baikan?" tanya Nabila pada Zia yang sedang sibuk menyiapkan sarapan untuk keluarga majikannya.
"Alhamdulillah sudah nyonya."jawab Nazia dengan senyuman tipis tersungging di bibirnya.
"Badai sudah bangun kan?" tanya Nabila lagi.
"Sudah nyonya,tuan Badai sedang bersih-bersih di kamar mandi." jawab Nazia.
"Kalau gitu biar saya saja yang bantu Badai,kamu sarapan dulu saja.Lalu minum vitamin kalau perlu,wajah kamu masih kelihatan pucat." ucap Nabila dengan menyentuh bahu Nazia.
Nazia hanya tersenyum dan melihat punggung ibu dari suaminya itu meninggalkan tempat itu dan masuk ke dalam kamar Badai.
"Nyonya Nabila begitu baik.Tapi, kalau dia tahu kalau aku istri siri Langit apa dia akan sebaik itu padaku.Apalagi kehidupan keluargaku dan keluarganya jauh sangat berbeda."batin Nazia memikirkan bagaimana dia bisa di terima di keluarga suaminya itu.
...****************...
Kelumpuhan yang dialami Badai memanglah bukan kelumpuhan yang permanen.Hanya beberapa syaraf yang harus di latih untuk membuatnya berfungsi kembali.
Setelah dinyatakan lumpuh Badai memang tidak ada semangat untuk sembuh dan yang dilakukannya hanya dengan mengamuk dan juga meratapi nasibnya.
Namun, saat dia di pertemukan dengan sosok Nazia,hidupnya dan juga tujuan hidupnya kini berubah.Tak ingin dirinya lebih terpuruk dan juga menyalahkan takdir hidupnya.
Kini dia bersemangat untuk kembali sembuh dan menjalankan kehidupannya lebih baik lagi.
Melihat kegigihan Nazia untuk membantunya sembuh dan juga mendengar cerita tentang Nazia yang masih berjuang mencari suaminya yang entah dimana suaminya berada.Badai mulai belajar jika tujuan hidupnya saja masih terlihat lebih besar untuk lebih baik dari pada tujuan Nazia yang entah kapan dia akan menemukan suaminya yang yang hilang tanpa jejak.
"Tuan,coba lepaskan tangan tuan dari saya.Yakinkan hati tuan muda untuk bisa melangkah,jangan banyak-banyak..tuan bisa melangkah satu dua langkah itu lebih baik." ungkap Nazia pada tuannya.
Badai pun memantapkan hati untuk melepaskan pegangannya dari Nazia.
"Bismillahirrahmanirrahim.." ucap Nazia lirih namun masih terdengar oleh telinga Badai.
Badai menatap perawat cantiknya itu sekilas.Dia tersenyum dan mengulang ucapan Nazia yang dia ucapkan barusan " Bismillahirrahmanirrahim.." ucap Badai lalu melepas pegangannya dan kini Badai berdiri diatas rumput.
__ADS_1
"Masyaallah,ayo tuan..tuan pasti bisa.Semangat !" seru Nazia yang berdiri tak jauh dari Badai berdiri untuk memastikan bahwa Badai baik-baik saja.
Badai mengangkat sebelah kakinya dengan sedikit ragu.Berbicara dalam hati dia harus berusaha sembuh.
Satu langkah Badai sudah berhasil membuat dirinya bersyukur.Sementara Badai menoleh pada Nazia yang terus menyemangati dirinya.
Terlihat raut wajah Nazia yang begitu senang melihat pencapaian Badai hari ini.
"Ayo tuan,lebih semangat.Tuan pasti bisa lagi,hari ini satu dua langkah.Besok,tambah lagi langkahnya.Lalu biasakan untuk selalu berjalan, nanti akhirnya tuan akan bisa lari kembali.SEMANGAT !!" ucap Nazia dengan senyuman manisnya menghias wajah polos tanpa make up nya.
"Zia,kamu bisa berdiri disana.Saya mau coba melangkah sampai tempat kamu berdiri." ucap Badai pada Nazia.
"Hah,serius tuan.Sebaikanya tuan jangan memaksakan diri.Kalau sudah lelah,bisa kita teruskan besok lagi." ucap Nazia memberikan saran.Takutnya Badai akan kelelahan karena dia memaksa untuk berlatih berjalan.
"Ayo cepat,kenapa kamu pesimis.Saya ingin cepat sembuh !" seru Badai membuat Nazia melangkah sesuai instruksi Badai.
Sekitar 100meter Nazia berdiri di depan Badai.Sempat dalam hati Nazia ragu namun,melihat semangat tuannya itu,dia pun langsung menurut.
Dengan ucapan Basmallah Badai satu langkah maju walau masih ada rasa takut yang mendera hatinya.
Badai menghela nafas panjang dan menatap kearah depan.Terlihat wajah khawatir pada wajah Nazia.
Badai mulai melangkah pelan.Satu dua langkah dan saat langkah ketiga dia terlihat berhenti dan tak lama kemudian dia melangkah sedikit cepat.Apa yang di lakukan Badai membuat Nazia tercengang karena Badai dengan wajah yang tegang melangkah ke arahnya sedikit terhuyung namun,Badai masih bisa menyeimbangkan tubuhnya. Sampailah Badai berdiri di depan Nazia dengan jarak yang begitu dekat.
Nazia dan Badai saling melempar senyum.
Masyaallah tuan, akhirnya..!!"pekik Nazia.
Tiba-tiba tanpa Nazia sangka Badai langsung memeluk Nazia dan tindakan Badai membuat Nazia terkejut.Erat,begitu erat Badai memeluk tubuhnya.
"Terimakasih Zia, terimakasih atas semangat dan juga bantuan mu aku bisa kembali berjalan." ucap Badai dengan masih memeluk tubuh Nazia.
Sementara tiga orang yang melihat interaksi Badai dan Nazia pastinya buat mereka pun terkejut.
Nabila dan Sarti melihat dari awal sampai akhir saat Badai mulai latihan Jalan.Nabila senang dengan cara Nazia memberikan motivasi pada Badai.Namun,dia pun terkejut saat Badai tiba-tiba memeluk tubuh Nazia saat berhasil berjalan sedikit lancar.
Namun,di sisi lain ada seseorang yang melihat kejadian itu menjadi terbakar hatinya. Langit,dia merasakan amarahnya kini sudah di ubun-ubun.Ingin rasanya dia mendaratkan bogeman pada wajah Badai.
Langit Cemburu??
__ADS_1
Bersambung