
Dua bulan berlalu Langit menjalankan tugas nya sebagai pengganti Badai dalam persembunyian.Semua dokumen yang harus di periksa Badai dia periksa dan segera menyerahkan pada sang kakek untuk menandatangani dokumen yang harus nya Badai tanda tangani.
Sameer melihat usaha Langit dalam menghandle pekerjaan Badai membuatnya sedikit terbuka hatinya melihat kegigihan Langit untuk menggantikan posisi Badai sementara namun,Langit tegas mengatakan jika dirinya hanya sebatas memeriksa tidak lebih.
Sameer melihat semua pekerjaan yang Langit handle tak pernah ada cacatnya selama dua bulan dia ada di FRAVASH Group.Pekerjaan nya pun lebih rapih dan cepat.Di bantu oleh Exel sebagai asistennya bekerjasama dengan Nio asisten Badai.
"Langit,kakek minta kamu handle untuk pertemuan dengan PT Karya Abadi siang ini,kamu bisa?" tanya Sameer di sela- sela kegiatannya menandatangani dokumen yang di serahkan Langit.
"Kenapa harus Langit, seperti yang Langit pernah bilang..kalau langit..
"Langit,kakek mohon.Kakek butuh istirahat.Cuma sekali pertemuan nanti,kalau sudah deal mereka yang akan datang menemui kakek.Karena mereka ada meeting di restaurant Sunda ,jadi..kita putuskan untuk menemui dia di restaurant yang sama." ucap sang kakek membuat Langit menghembuskan nafasnya dengan kasar.
"Baiklah."jawab Langit singkat membuat kakek Sameer tersenyum lega.
...****************...
Sesuai dengan rencana,Langit menemui klien dari PT Karya Abadi,Langit bersama Exel kini sudah ada di restaurant yang di maksud Sameer.
Mereka duduk di dalam restaurant dengan wajah serius nya dan mulai membicarakan kerja sama mereka.
Setelah satu jam kemudian mereka pun mengakhiri pembicaraan tersebut dan Langit pun akhirnya memilih untuk segera beranjak dari restauran itu.
Saat Langit melangkah keluar restaurant dan fokus dengan ponselnya tanpa di duga dia bertabrakan dengan seseorang.
Brakk.💢
"Aisssttt.." ringis seseorang yang sudah terjatuh karena memang tubuh Langit yang tegap membuat tubuh kecil itu terhempas ke lantai.
"Kamu tidak apa-aa....
Langit tidak menyelesaikan petanyaannya karena terpaku dengan sosok yang ada di depannya saat ini.
Seseorang yang selama ini dia inginkan menjadi pendamping hidup nya di masa ABG dulu.
"Sha_Shafa?!" ucap Langit menyerahkan pandangannya pada sosok perempuan yang ada di depannya.
__ADS_1
"Langit,kamu Langit Akhtar kan?" tanya perempuan itu mengembangkan senyumnya.
"Shafa,ya Tuhan..kamu Shafa !!" seru Langit yang tiba-tiba memeluk perempuan itu.
...****************...
"Nazia,kenapa Langit pergi tanpa kabar,apa kamu melakukan kesalahan?" tanya sang paman yang duduk di sofa seberang Nazia duduk.
"Naz pikir nggak ada apa-apa paman,antara kita selama ini kami nggak pernah ribut atau mendebatkan sesuatu." ungkap Nazia mengingat kembali waktu bersama Langit tiga bulan pertama mereka menikah.
"Apa dia sudah mendaftarkan pernikahan kalian secara negara,selama ini paman ingin menanyakan soal itu tapi,selalu ada saja halangan untuk tanya sama kamu atau Langit."
Nazia pun tak bisa berkata-kata,memang benar adanya jika kelangsungan pernikahan mereka belum mereka bicarakan.
Hubungan antara Nazia dan Langit pun masih sebatas orang yang baru saja mengenal.
"Rasanya Langit belum bisa mendaftarkannya paman.Langit bilang,kalau dia harus menyelesaikan urusannya dulu di Jakarta dan baru akan membereskan urusan kami." jawab Nazia terpaksa mengarang cerita untuk menutupi hubungannya dengan Langit yang di bilang bukan seperti pasangan pada umumnya.
"Jangan bilang langit akan main-main dengan pernikahan kalian,bibi nggak akan terima kalau dia sampai melakukannya." ucap sang bibi yang merasa khawatir dengan nasib ponakannya itu.
Hari demi hari Nazia lewati dengan berharap akan datangnya Langit untuk dirinya.Namun,sampai tiga bulan lamanya dia tak menerima kabar dari Langit tentang dirinya.
"Rin !!" panggil Nazia pada sahabatnya yang baru menghentikan motornya di depan rumah Nazia.
Rini turun dari motornya dan melangkah mendekati Nazia.
"Gimana,apa kamu dapat alamat bi Esih?" tanya Nazia tak sabar mengingat kembali kalau dia meminta tolong pada sahabatnya untuk minta alamat kerja bik Esih pada uwak nya.
"Alhamdulillah ada ,ini alamatnya.Kamu yakin mau ke Jakarta sendiri?"tanya Rini tak tega melihat Nazia yang akan menyusul Langit berbekal alamat yang tertera di amplop yang berisi alamat Esih bekerja.
"Aku yakin,aku cuma ingin pastikan statusku .Aku ingin dia melepaskan aku jika dia tidak ingin lagi sama-sama dengan ku." ucap Nazia dengan menerawang jauh bagaimana hubungannya dengan Langit selama ini.
Langit yang begitu dingin padanya.Tak ada niatnya untuk membuat hubungan mereka makin baik.
...****************...
__ADS_1
Prang 💢
Prang...💢
Suara bantingan benda pecah belah terdengar nyaring dari sebuah kamar.
Brakk 💢
"Badaiiiii....!!!" teriak Nabila saat masuk ke dalam kamar Badai yang sudah porak poranda akibat amukan Badai.
Badai yang sudah tersadar dari masa kritis nya dan juga sudah kembali ke rumah nya dengan fisik yang berbeda. Apalagi setelah mendengar kenyataan jika dirinya mengalami kelumpuhan dari bagian panggul ke bawah.
Sudah berulang kali dia berusaha mencari kesempatan untuk mengakhiri hidupnya. Semangat hidupnya sirna karena ternyata dia menjadi manusia tak berguna.
"Ada apa ini?!!" sentak Sameer yang ikut masuk ke dalam kamar sang cucu kebanggaan yang kini sudah banyak berubah karena kecelakaan itu.
"Badai,kenapa kamu seperti ini..?"tanya Nabila dengan terisak menangis.
"Keluar kalian,KELUAR.. Aaaghhhh. !!!" teriak Badai yang duduk diatas kursi roda dengan menatap nanar pemandangan yang menyakitkan hatinya.
"Kenapa kamu jadi orang yang mudah menyerah seperti ini Badai,cucu ku tidak ada yang seperti ini..Pecund*ng !!" ujar sang kakek dengan nada sinisnya.
"Iya,aku memang pecund*ng kek..jadi ,jangan paksa aku seperti dulu.Seperti apa yang kakek inginkan.Aku tidak ingin menjadi boneka kakek lagi.Kakek sudah menemukan orang yang tepat untuk mewarisi apa yang kakek punya.Langit lebih dari segalanya.Dia muda,tegas,penuh pendirian.Tidak seperti aku.Badai yang hanya bisa tunduk pada kata-kata kakek dari aku kecil sampai dewasa.Aku lelah kek,aku lelah." ungkap Badai dengan menundukkan kepalanya.
"Nak,jangan bicara seperti itu.Adik kamu tidak akan menggantikan posisi yang kamu punya.Kamu tetap pemilik mutlak semua yang sudah kamu punya sedari dulu."ucap Nabila.
Badai menatap mamanya yang saat ini bersimpuh di samping kursi rodanya.
"Nggak mah,Langit sudah berhasil meraih semua yang aku impikan. Bahkan seorang pendamping yang aku harapkan sebelum aku mengalami kecelakaan." ungkap Badai menatap sendu sang ibu.
"Badaiiiii.." panggil Nabila lirih melihat putranya yang terlihat putus asa.
"Aku nggak papa mah,mungkin memang sudah takdir Badai yang harus seperti ini." ungkap Badai tersenyum getir.
Nabila memeluk tubuh Badai dengan erat. Sungguh hati ibu mana yang tak sakit jika melihat putranya terpuruk dalam keadaan yang kini dia tak duga.
__ADS_1
Bersambung